Produk ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura seperti bawang merah dan cabai, bahkan saat musim hujan.
Peluncuran dilakukan dalam kegiatan temu tani di Kebun Riset Kujang Kampioen, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (22/6).
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa Pupuk Indonesia Grup terus berinovasi untuk mendukung pertanian modern melalui konsep precision farming.
“Pupuk NPK Nitrat ini merupakan salah satu inovasi kami yang dapat mendukung perkembangan pertanian Indonesia. Kami mendorong penggunaan pupuk sesuai dengan komoditas dan lokasi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” kata Rahmad.
Rahmad juga mengungkapkan bahwa NPK Nitrat produksi Pupuk Kujang merupakan pupuk berbasis nitrat pertama yang dibuat di dalam negeri.
Selama ini, seluruh kebutuhan pupuk nitrat untuk pertanian hortikultura nasional, sekitar 350 ribu ton per tahun, masih dipenuhi melalui impor.
“Inovasi ini kontribusi nyata kami dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Tidak cukup hanya meningkatkan hasil panen, input produksi juga harus kuat dan tidak bergantung pada impor,” tegasnya.
Direktur Utama PT Pupuk Kujang, Maryono, menjelaskan bahwa pupuk nitrat impor yang selama ini digunakan petani masih memerlukan tambahan pupuk lain seperti KCl.
Dengan formula baru NPK Nitrat, petani dapat langsung menggunakannya tanpa tambahan pupuk lain di segala musim.
“Formulasi ini dirancang agar lebih efektif dan efisien. NPK Nitrat menggantikan kebutuhan pencampuran pupuk nitrat dengan KCl, memberikan hasil yang optimal,” jelas Maryono.
Hasil demonstration plot (demplot) menunjukkan bahwa penggunaan NPK Nitrat mampu meningkatkan produksi cabai sebesar 6% dan bawang merah hingga 9%. Petani juga mengalami peningkatan keuntungan hingga 4,9% untuk cabai dan 9,5% untuk bawang.
NPK Nitrat hadir dalam bentuk granular berwarna hijau dengan kandungan Nitrat (N−NO3) 5% dan unsur hara mikro seperti Boron (B), Tembaga (Cu), dan Seng (Zn).
Produk tersedia dalam kemasan 20 kg dan 2 kg, khusus ditujukan untuk tanaman hortikultura seperti cabai dan bawang merah.
Acara temu tani ini dihadiri sekitar 250 petani dari Karawang, Purwakarta, Subang, Brebes, hingga Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian berbasis inovasi pupuk.
Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, menyatakan bahwa NPK Nitrat merupakan solusi bagi petani bawang merah yang selama ini menghadapi tantangan dalam pemupukan berbeda antara musim kemarau dan hujan, serta perbedaan antara dataran tinggi dan rendah.
“Dengan NPK Nitrat, pemupukan cukup satu kali. Ini sangat membantu petani dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem,” ujar Alex.
Ia menambahkan bahwa selama ini pupuk nitrat yang digunakan petani sangat dipengaruhi kondisi global karena berasal dari impor. Produksi dalam negeri diharapkan dapat menekan harga dan menjamin ketersediaan produk.
“Demplot di Brebes dilakukan pada musim hujan dan terbukti berhasil panen. Petani yang menggunakan NPK Nitrat tetap mendapat hasil optimal meskipun cuaca ekstrem,” tutupnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto