Sebagai penggantinya, klub menunjuk Igor Tudor, pelatih asal Kroasia, yang akan mulai memimpin sesi latihan tim pada Senin, 24 Maret 2025.
"Klub Sepak Bola Juventus mengumumkan bahwa Thiago Motta telah dibebaskan dari tugasnya sebagai pelatih kepala tim utama pria," tulis pernyataan resmi klub yang saat ini berada di peringkat kelima Serie A.
Klub juga menyampaikan apresiasi kepada Motta atas dedikasinya selama menangani tim.
"Juventus berterima kasih kepada Thiago Motta atas kerja keras, passion, dan dedikasi yang telah ia tunjukkan selama berada di klub," lanjut pernyataan tersebut.
Statistik Motta
Motta, 42 tahun, mengalami akhir yang mengejutkan setelah hanya 18 kemenangan, 16 hasil imbang, dan 8 kekalahan di semua kompetisi.
Meskipun hanya kalah delapan kali—tiga di Serie A, tiga di Liga Champions, satu di Coppa Italia, dan satu di Supercoppa Italiana—masalah utama adalah minimnya kemenangan yang ia raih.
Dari 42 pertandingan resmi, Juventus di bawah Motta hanya mencatatkan 13 kemenangan dari 29 laga Serie A, 4 kemenangan dari 10 pertandingan Liga Champions, serta 1 kemenangan dari 2 laga Coppa Italia.
Hal ini membuat persentase kemenangan Motta hanya 43 persen, yang tergolong buruk untuk standar klub sebesar Juventus.
Menurut data Opta, hanya dua pelatih dalam sejarah Juventus sejak musim 1929-1930 yang memiliki persentase kemenangan lebih rendah dari Motta dalam minimal 40 pertandingan:
- Gigi Delneri (40 persen – 20 kemenangan dari 50 laga)
- Sandro Puppo (24 persen – 15 kemenangan dari 62 laga)
Kekalahan Beruntun
Keputusan untuk memecat Motta diambil setelah dua kekalahan telak beruntun di Serie A, yakni 0-4 dari Atalanta di Turin dan 0-3 dari Fiorentina.
Dengan sembilan pertandingan tersisa di musim ini, Igor Tudor diharapkan dapat membawa Juventus kembali ke jalur kemenangan dan mengamankan posisi terbaik di klasemen.
Kontrak Tudor
Menurut laporan Tuttosport, Tudor dikontrak hingga 30 Juni 2025, tetapi dengan opsi perpanjangan otomatis hingga Juni 2026 jika Juventus berhasil lolos ke Liga Champions.
Namun, Juventus juga memiliki klausul yang memungkinkan mereka untuk secara sepihak membatalkan kontrak sebelum 30 Juli 2025, memberikan fleksibilitas bagi klub dalam menentukan arah kepelatihan di masa depan.
Faktor fleksibilitas kontrak ini disebut sebagai alasan utama mengapa Juventus memilih mantan pelatih Lazio itu, dibandingkan Roberto Mancini, yang juga sempat dikaitkan dengan posisi pelatih.(*)
Editor : Heri Sugiarto