Dua gol menawan dari Declan Rice lewat tendangan bebas dan satu gol dari Mikel Merino membuka lebar jalan Arsenal menuju semifinal, sekaligus menempatkan Real Madrid di ujung tanduk.
Kekalahan ini memperbesar tekanan terhadap Pelatih Carlo Ancelotti dan para pemainnya, terutama setelah performa buruk di babak kedua yang disorot tajam oleh sejumlah media Eropa dan para penggemarnya.
Kartu merah yang diterima Eduardo Camavinga di masa tambahan waktu menambah luka bagi Los Blancos yang dikenal sebagai "Raja Liga Champions".
Arsenal Bisa Cetak Gol Lebih Banyak
Usai laga, gelandang Real Madrid Jude Bellingham tak menutupi rasa kecewanya.
“Kami benar-benar tidak tampil, itu faktanya. Arsenal sangat bagus. Dua dari gol mereka memang tendangan bebas, tapi mereka bisa saja mencetak lebih banyak. Kami beruntung hanya kalah tiga,” ujarnya kepada Amazon Prime.
Meski begitu, Bellingham menegaskan harapan belum sepenuhnya sirna.
“Masih ada leg kedua. Kami akan butuh sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang gila – tapi jika ada satu tempat di mana keajaiban bisa terjadi, itu di kandang kami,” tegasnya merujuk pada Stadion Santiago Bernabeu.
Pelatih Carlo Ancelotti turut mengkritik penampilan timnya. “Kami tidak mampu menunjukkan respons sebagai tim. Kami mencoba melawan lewat aksi individu, tapi itu malah membuat kami kehilangan kendali,” kata pelatih asal Italia itu.
Ia menambahkan, saat skor masih 0-0 dia cukup puas, tapi reaksi setelah kebobolan sangat buruk.
"Kami sebenarnya tidak sepenuhnya buruk, ada hal positif di babak pertama. Namun kami gagal menjaga level permainan di babak kedua," tandasnya.
Misi Sulit di Bernabeu
Kekalahan ini menempatkan Real Madrid dalam misi yang sangat berat untuk membalikkan keadaan.
Namun sejarah pernah membuktikan, Bernabeu adalah panggung bagi keajaiban. Dalam satu dekade terakhir, Los Blancos dikenal sebagai spesialis comeback.
Pada 2016, Madrid bangkit dari kekalahan 0-2 atas Wolfsburg dengan menang 3-0 di leg kedua.
Di musim 2021/2022, Madrid membalikkan defisit 0-1 dari PSG menjadi kemenangan 3-1.
Bahkan setelah kalah 4-3 dari Manchester City, Madrid menang 3-1 di leg kedua dan melaju dengan agregat 6-5.
Meski demikian, kekalahan 3-0 dari Arsenal terasa lebih berat.
Musim ini, Real Madrid sering kesulitan di laga-laga besar, termasuk dua kekalahan dari Barcelona di El Clasico dan performa inkonsisten sepanjang musim. Tak ada lagi ruang untuk kesalahan.
“Kalau melihat pertandingan malam ini (di Emirates Stadium, red), rasanya tidak mungkin. Tapi di sepak bola, segalanya bisa terjadi. Kami harus percaya, karena keajaiban sering terjadi di Bernabeu,” tegas Ancelotti.
Leg kedua akan digelar pada Kamis (174/2024) pukul 02:00 WIB, di Santiago Bernabeu. Real Madrid dituntut mencetak minimal tiga gol tanpa balas hanya untuk memaksakan perpanjangan waktu.
Dengan dukungan penuh suporter dan sejarah gemilang di kompetisi ini, bisakah keajaiban kembali terjadi? Kita nantikan pekan depan.(*)
Editor : Heri Sugiarto