Laga ini bukan hanya memperebutkan trofi, tetapi juga tiket otomatis ke Liga Champions musim 2025/2026 dan hadiah finansial hingga 65 juta euro (sekitar Rp1,2 triliun).
Jelang laga besar yang disiarkan langsung di SCTV, BEIN Sports, Vision+ dan Vidio ini, Pelatih MU Ruben Amorim menyampaikan pesan tegas kepada skuadnya bahwa menang adalah satu-satunya pilihan.
Ia menegaskan bahwa menjadi finalis tidak cukup, apalagi di klub sebesar Manchester United.
"Satu hal yang saya pelajari sebagai pemain adalah Anda harus menang," kata Amorim dalam konferensi pers.
"Tidak ada yang akan berkata, 'Saya adalah finalis', terutama di klub seperti ini. Jadi kami harus memenangkan final," tegas Amorim seperti dilansir Dailymail.
Amorim punya pengalaman pribadi pahit di final Liga Europa saat masih menjadi pemain Benfica. Ia tampil di final 2014 melawan Sevilla yang berakhir imbang 0-0 sebelum Benfica kalah lewat adu penalti di Turin.
Kini sebagai pelatih, Amorim mengaku sangat ingin memberikan sesuatu kepada para penggemar yang tetap setia meski MU mengalami musim terburuk dalam sejarah Premier League dengan duduk di peringkat ke-16 klasemen.
"Saya sangat ingin membantu tim memenangkan final ini. Kami harus memberi sesuatu untuk klub, untuk fans, untuk staf, untuk semua orang. Tapi terus terang, menang Liga Europa pun belum cukup untuk membalas semua dukungan mereka musim ini," ujarnya.
Ia pun mengungkap betapa fans MU begitu loyal. "Mereka akan berenang ke Bilbao kalau perlu, bahkan tanpa tiket! Saya tahu itu. Terima kasih besar untuk semua yang telah mereka lakukan sepanjang musim," ucapnyai.
Dalam hal pemilihan pemain, Amorim tidak ragu mengambil keputusan meski harus menyampaikan kabar pahit kepada pemain yang tak masuk starting XI atau bahkan tak masuk skuad.
"Tentu itu bukan kabar baik bagi pemain, tapi saya cukup nyaman karena itu pekerjaan saya," jelasnya.
"Tidak masalah jika Anda hanya bermain satu menit di final. Yang penting adalah menang. Jika kami menang, semua pemain akan merasakan kemenangan itu, karena semua berkontribusi selama perjalanan di Liga Europa," tambahnya.
MU mendapat kabar baik dengan pulihnya tiga pemain yang sebelumnya cedera: Diogo Dalot, Leny Yoro, dan Joshua Zirkzee.
Ketiganya telah ikut berlatih dan masuk dalam skuad 26 pemain ke Bilbao. Sedangkan Matthijs de Ligt tidak masuk daftar meski ikut mendampingi tim ke Spanyol.
Lisandro Martinez tetap absen karena cedera, sementara Jonny Evans sudah pulih dan berpeluang tampil.
Amorim memastikan bahwa strategi tim tak akan berubah meski laga berpotensi berlangsung hingga perpanjangan waktu atau adu penalti.
"Saya hanya berpikir tentang starting XI terbaik untuk memulai pertandingan. Penting juga punya opsi kuat di bangku cadangan," tegasnya.
Di kubu lawan, Tottenham dipastikan tanpa James Maddison karena cedera lutut, meski ikut rombongan ke Bilbao.
Lucas Bergvall, Dejan Kulusevski, Radu Dragusin, dan Dane Scarlett juga belum bisa tampil. Tapi, dua bek andalan Cristian Romero dan Micky van de Ven sudah siap bermain, begitu pula gelandang Pape Matar Sarr.
Final ini menjadi momentum krusial bagi kedua tim yang mengalami musim menyedihkan di Liga Inggris. Tottenham bahkan berada satu peringkat di bawah MU di klasemen, yakni posisi ke-17.
San Mames Stadium dengan kapasitas 53.000 penonton akan menjadi saksi siapa yang lebih kuat malam ini.
Pemenang laga ini akan tampil di UEFA Super Cup 2025 serta mengamankan masa depan finansial dan reputasi klub di panggung Eropa.
Pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada Februari 2025 di Tottenham Hotspur Stadium yang berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Spurs lewat gol James Maddison.
Sepanjang musim ini, Tottenham unggul head-to-head dengan tiga kemenangan atas Manchester United di semua kompetisi.(*)
Editor : Heri Sugiarto