PADEK.JAWAPOS.COM-Meski punya potensi, Jens Raven harus siap membuktikan kemampuan sejak di level klub karena Bali United punya banyak pemain berpengalaman di sektor depan.
Penyerang kelahiran Belanda itu menargetkan bisa membawa Garuda Muda mempertahankan emas di SEA Games dan lolos ke Piala Asia U-23.
POTENSI ada, tapi kekuatan dan kecepatan harus ditambah. Selain itu, kudu lebih pintar cari ruang di kotak penalti lawan.“Bukan sekarang nggak punya (kekuatan, kecepatan, dan kepintaran mencari ruang).
Tapi, menurut saya, agar bisa menjadi striker yang menakutkan tim lawan, Raven perlu menambah kecepatan dan daya tahan,” tutur mantan penyerang tim nasional (timnas) Bambang Nurdiansyah saat dihubungi Jawa Pos (grup Padang Ekspres, red), Kamis (31/7) pekan lalu.
Raven menjadi pencetak gol terbanyak berkat tujuh gol yang dia sarangkan ke gawang Brunei Darussalam (enam) dan Thailand (satu). Pesaing terdekatnya adalah penggawa Filipina U-23 Otu Banatao dengan tiga gol.
Sayangnya, raihan individual itu tak dibarengi gelar bareng tim. Dalam final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (29/7), Indonesia U-23 takluk 0–1 dari Vietnam U-23.
“Tentu saja saya senang menjadi top skorer, tapi sejujurnya saya di sini ingin meraih trofi, bukan trofi top skorer saja,” beber striker kelahiran Dordrecht, Belanda, 12 Oktober 2005 itu seusai final.
Meski menjadi pemain tersubur di ajang regional tersebut, kritik masih banyak diarahkan ke Raven karena dianggap masih kurang garang dalam berduel dan pergerakannya juga belum terlalu dinamis.
Dengan tinggi 187 sentimeter, penyerang yang kini berkostum Bali United itu juga dinilai belum terlalu dominan dalam pertarungan di udara. Terutama ketika menghadapi tim dengan kekuatan sepadan.
Kurang Lentur
Mantan pelatih timnas Jacksen F. Tiago menilai, keberhasilan menjadi top skorer membuktikan potensi Raven. Dan, ini juga kabar baik bagi timnas ke depan mengingat sulitnya mencari striker yang bisa diandalkan.
Raven, menurut Jacksen yang pernah menjadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia 1996–1997, memiliki banyak syarat untuk menjadi penyerang berbahaya.
Di antaranya, dribel bagus, akurasi tendangan, hingga kemauan untuk turun membantu pertahanan. Tapi, kelemahannya juga masih terlihat. Yang paling kentara: pergerakan tubuh.
“Kurang lentur saja badannya. Kelenturannya harus ditingkatkan,” katanya. Untuk bisa jadi andalan di timnas senior, Jacksen menegaskan, Raven harus bekerja keras.
Sebab, dia harus bersaing dengan striker diaspora lainnya seperti Ole Romeny. Belum lagi jika ke depan PSSI berniat menambah pemain naturalisasi di sektor depan.
Dan, kerja keras itu kudu dimulai di level klub. Di Bali United, dia harus bisa bersaing dengan penyerang berpengalaman asal Montenegro Boris Kopitovic.
Sedangkan untuk penyerang sayap, ada nama-nama dengan jam terbang tinggi: Thijmen Goppel, Yabes Roni, M. Rahmat, dan Irfan Jaya.
“Tapi, saya yakin dia bakal punya kesempatan untuk bermain reguler di Super League,” kata Jacksen. Banur, sapaan akrab Bambang Nurdiansyah, juga menyoroti kesempatan bermain para penyerang muda di klub.
Kalau kesempatan itu minim diberikan, potensi bakal hilang.
Apalagi, lanjutnya, tren bermain sekarang berbeda dengan zamannya di Galatama, ketika semua klub bermain dengan dua penyerang dan hanya dibolehkan tiga pemain asing.
“Saya sih berharap para pemain muda seperti Raven diberi kesempatan bermain bukan karena aturan mengharuskan demikian, tapi karena mereka memang punya potensi,” ujarnya.
Jadi Pelajaran
Meski kecewa karena gagal di final, Raven menyebut, pengalaman di ASEAN U-23 Championship jadi pelajaran berharga bagi dia dan rekan setim.
Karena itu, dia percaya diri bisa meraih sukses bersama skuad yang sama dalam kualifikasi Piala Asia U-23 pada September dan SEA Games di Desember mendatang. “Saya percaya 100 persen terhadap tim ini,” tegasnya.
Dia berharap bisa membantu Garuda Muda mempertahankan emas sepak bola di SEA Games, sekaligus lolos ke Piala Asia U-23 dan berjuang merebut tiket ke Olimpiade Los Angeles 2028. “Itu target saya,” katanya. (*/ttg)
Editor : Novitri Selvia