Laporan JUFRI JAO
Di balik capaian gemilang tersebut, terdapat sosok penting yang berperan besar membentuk mental dan karakter Zikhra, yakni sang ayah, M Rodi (57). Bagi Zikhra, ayah bukan sekadar orangtua, melainkan sahabat berdiskusi sekaligus pelatih pertamanya.
Didikan keras yang dibalut kasih sayang membuat mental Zikhra terasah kuat. Ia mengaku selalu teringat pesan sang ayah setiap hendak bertanding. “Kalah di atas kertas jangan percaya dulu, harus dicoba. Jangan kalah sebelum bertanding,” ujar Zikhra menirukan nasihat ayahnya.
Mahasiswi STIT Syekh Burhanuddin Prodi PAUD angkatan 2022 itu menegaskan bahwa seluruh proses yang ia jalani tidak lepas dari peran ayahnya. “Tanpa ayah saya bukanlah siapa-siapa,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kenangan paling melekat bagi Zikhra adalah disiplin latihan sejak dini hari. Sang ayah kerap membangunkannya pukul 03.00 WIB untuk berlari sejauh 3–4 kilometer. Latihan itu dilakukan secara rutin dengan kedisiplinan tinggi. Bahkan, pernah suatu kali Zikhra terlambat bangun karena kelelahan, yang berujung pada kemarahan ayahnya.
Kerasnya didikan tersebut, menurut Zikhra, justru membentuk mental pantang menyerah dan tidak gentar menghadapi siapa pun di arena pertandingan. Hasilnya, ia mampu tampil impresif sepanjang SEA Games 2025.
Sebelum melaju ke partai final, Zikhra menunjukkan performa trengginas dengan menyingkirkan Nur Natasha Amyra asal Malaysia di babak semifinal, serta mengalahkan Hsu Mon Aung dari Myanmar pada perempat final.
Di final, Zikhra harus mengakui keunggulan Jutatip Kuntatong, namun tetap mencatatkan prestasi bersejarah bagi Indonesia dan Sumatera Barat.
Menariknya, seluruh program latihan dasar disusun sendiri oleh sang ayah di rumah, mulai dari lari subuh, latihan servis, hingga strategi bertahan dan menyerang. Padahal, M Rodi bukanlah pelatih profesional, melainkan hanya pecinta olahraga yang belajar dari pengamatan.
Selain ayah, peran ibu Pitria Yenti (48) juga sangat besar dalam mendukung keputusan Zikhra menjadi atlet. Rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya diwujudkan Zikhra dengan membelikan sebuah rumah dari bonus medali perak SEA Games 2025.
“Ini belum seberapa dibandingkan kasih sayang mereka. Saya berjanji akan berlatih lebih giat lagi dan membahagiakan orang tua,” ujar Zikhra, yang juga berprofesi sebagai guru honorer TK Raudhatul Marhamah V Koto Timur, Kabupaten Padangpariaman.
Zikhra turut menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, pengurus KONI, pemerintah daerah, serta masyarakat yang telah memberikan dukungan selama proses pembinaan hingga meraih prestasi internasional. (*)
Editor : Adetio Purtama