Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pasca Sarjana UM Sumbar.
PADEK.JAWAPOS.COM - Media arus utama dunia melaporkan Senin akan ada Rundingan Putaran II antara AS dan Iran. Meski masih gonjing ganjing, apakah Iran setuju atau tidak, akan tetapi harapan dunia tetap terfokus ke sana. Mengapa? Karena semua negara di dunia terkena dampak. Dari emak-emak yang geregetan harga merayap naik untuk pembeli sembako, sampai tiket pesawat terbang yang melambung tinggi. Semua itu karena 20 persen energi dunia terganggu akibat t arik-ulur AS dan Iran yang belum memberikan titik terang.
Sementara menunggu bagai rayap perlu makan, kita baiknya melihat sejarah yang tak terlalu jauh ke belakang. Apa yang terjadi jauh sebelum serangan AS dan Israel kepada Iran lagi, 28 Februari lalu. Lalu Iran membalas membela diri. Esai berikut secara amat singkat menoleh ke belakang tadi.
Dulu Iran disebut Persia. Pada Perang Dunia I (PD I) 1914-1918, meski menyatakan netral, Iran menjadi ajang pertempuran antara Turki Usmani, Rusia dan Inggris. Akibatnya Dinasti Qajar yang berkuasa mengalami krisis ekonomi dan politik. Ujungnya Dinasti Qajar dikudeta oleh Reza Shah pada 1921.
Di tangan Reza Shah, Iran berada di pusaran Perang Dunia II (1939-1945). Reza Shah seperti Dinasti Qajar kembali menyatakan netral pada 1939. Namun, Iran memiliki hubungan dagang yang erat dengan Jerman. Oleh karena kekhawatiran Jerman akan menguasai ladang minyak, Inggris dan Uni Soviet melancarkan invasi (Operasi Countenance) pada 25 Agustus 1941.
Reza Shah dipaksa turun takhta dan digantikan oleh putranya, Muhammad Reza Pahlevi. Iran kemudian digunakan oleh Sekutu sebagai rute pasokan penting (Trans-Iranian Railway) ke Uni Soviet.
Geopolitik Iran antaratahun 1941 hingga 1979 didominasi oleh pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi , yang bercirikan aliansi erat dengan Barat, modernisasi cepat, dan berperan sebagai “polisi” di kawasan Teluk Persia. Iran dari dulu dan kini, merupakan negara di Asia Barat dengan posisi strategis.
Setelah Uni Sovyet pecah berderai 1990, kini Iran berbatasan darat langsung dengan pecahan itu di Barat Daya yaitu Azerbaijan dan Armenia.
Lainnya, Iran berbatasan dengan di Barat dengan Irak dengan daratan terpanjang, 1.599 km danTurki , 534 km. Di Utara,selain wilayah daratan, Iran berbatasan dengan Laut Kaspia. DiTimur Laut berbatasan dengan Turkmenistan 1.148 km. Di Timur berbatasan dengan Afganistan 921 km. Di Tenggara berbatasan dengan Pakistan sekitar 909 km.
Sementara perbatasan maritime perairan laut di sebelah Selatan dan Tenggara Iran berbatasan dengan Qatar, Kuwait Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), dan Oman.
Di Era Shah Mohammad Reza Pahlevi sampai tahun 1979 masa yang disebut perang dingin antarablok Barat dan Timur, Iran menjadi sekutu AS paling terkemuka di Timur Tengah. Tentu saja ini pada mulanya untuk membendung pengaruh Sovyet dari Utara sampai glosnot prestroika hingga bubarnya Uni Sovyet dan kini pecahan terbesar adalah Rusia yang kini tidak lagi berbatasan langsung kecuali negara pecahan Sovyet lainnya tadi.
Masa Reza Pahlevi ini terjadi modernisasi yang merekas ebut Revolusi Putih. Negara menjadi sekuler dan sekularisasi besar-besaran. Men urut mereka hal itulah yang mengubah Iran menjadi negara industry maju bersama negara lain yang sudah maju di pertengahan abad lalu tadi.
Pada era inilah hubungan Iran-Israel menyala. Israel diyatakan berdiri sebagai negara oleh tokoh utamanya David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948 dan menjabat sebagai Perdana Menteri pertama. De facto diakui Iran pada 1950 dan secara de jure-resmi tahun1960. Pada masa Pahlevi disamping Pro-Israel dan AS banyak tuduhan bahwa rezim ini dikenal ororiter dan repsesif melalui badan intelijen yang dikenal sebagai Savak. Setali dengan itu Iran tentu saja sangat tergantung kepada dukungan AS.
Setali dengan itu dianggap pada era ini Iran sebagai sosok eksistensial memosisikan diri sebagai pelindung kepentingan Barat di Teluk Persia, memperkuat adikuasa militer dan mengontrol jalur utama minyak global.
Ujung dinamika geopolitik Iran sepanjang hampir 40 tahun tadi berujung dengan tragis. Sebagaimana sejarah berbagai negara di dunia yang anti aspirasi rakyat dan meski tetap menyebut demokratis, akhirnya jatuh ke tangan rezim baru. Rezim yang menganut sistem kenegaraan Syi’ah. Mereka menamakan willayat al-faqih (pemimpin-ulama) sebagai produk sejarah Revolusi Islam Iran 1979.
Perubahan total revolusi yang dimotivasisecarakukuh dan kokoh oleh Ayatollah Rohullah Khomeini. Setelah dibuang rezim Shah dan menetap di Perancis, Ayatollah Khomeini pulang kampong dan menang langsung menjadi pemimpin tertinggidari negeri para Mullahini. Dengan begitu terjadi pembalikan 180 derjat, bukan hanya geopolik tetapi pergantian ideology sekuler pro-Barat kepada Republik Islam yang teokratis dan anti-Barat. (*)
Editor : Adriyanto Syafril