Catatan : Timtim Deby Purnasebta - Praktisi GIS Sumatera Barat
Jalan amblas di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kabupaten Limapuluh Kota (12/5) lalu bukan sekadar kerusakan infrastruktur akibat hujan deras. Peristiwa itu adalah alarm keras bahwa sebagian lanskap Sumbar sedang berada dalam tekanan risiko bencana yang semakin serius.
Lubang besar yang muncul di badan jalan akibat tanah amblas yang menyerupai sinkhole, longsor yang memutus akses warga, hingga terisolasinya masyarakat menunjukkan satu kenyataan penting. Hujan ekstrem yang bertemu dengan lanskap rentan dapat berubah menjadi bencana dalam waktu singkat.
Kejadian di Situjuah juga memperlihatkan bahwa ancaman bencana di Sumbar bukan hanya datang dari gempa bumi atau letusan gunung api.
Dalam beberapa tahun terakhir, bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir bandang, tanah amblas, dan kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem justru semakin sering terjadi. Intensitasnya meningkat, dampaknya meluas, dan pola kejadiannya mulai berulang di banyak daerah.
Sayangnya, kita masih sering melihat bencana sebagai kejadian musiman semata. Ketika hujan deras datang, masyarakat menganggapnya sebagai kondisi biasa yang memang rutin terjadi setiap tahun.
Padahal, di wilayah seperti Sumbar, hujan ekstrem memiliki konsekuensi yang jauh lebih kompleks karena bertemu dengan kondisi bentang alam yang memang sensitif terhadap gangguan hidrologi dan gerakan tanah.
Secara geografis, Sumbar berada di kawasan Bukit Barisan dengan topografi yang didominasi lereng curam, lembah sempit, jaringan sungai rapat, serta struktur geologi aktif yang dipengaruhi sesar besar dan kondisi batuan yang kompleks.
Dalam kondisi normal, lanskap ini membentuk panorama alam yang indah dan menjadi kekuatan sektor pariwisata daerah. Namun ketika curah hujan meningkat drastis, karakter alam yang sama dapat berubah menjadi sumber ancaman.
Air hujan yang turun terus-menerus akan memenuhi pori-pori tanah hingga mencapai titik jenuh. Lereng kehilangan kestabilannya, tekanan air di dalam tanah meningkat, aliran permukaan membesar, dan material tanah mulai bergerak.
Pada kondisi tertentu, air bahkan dapat menggerus lapisan bawah permukaan hingga membentuk rongga yang menyebabkan tanah runtuh secara tiba-tiba.
Kita perlu memahami bahwa bencana bukan semata-mata soal besarnya hujan, tetapi tentang bagaimana hujan bertemu dengan kondisi ruang yang rentan. Inilah mengapa peringatan BMKG seharusnya tidak lagi dipandang sebagai informasi cuaca biasa.
Ketika BMKG mengeluarkan peringatan hujan ekstrem untuk Sumbar, maka sesungguhnya yang sedang diperingatkan bukan hanya potensi hujan, tetapi juga potensi longsor, banjir bandang, jalan amblas, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur.
Dalam konteks daerah dengan karakter lanskap seperti Sumatera Barat, informasi cuaca ekstrem sebenarnya adalah peringatan dini kebencanaan.
Namun kesadaran semacam ini masih belum sepenuhnya tumbuh. Tidak sedikit masyarakat yang baru menyadari tingkat ancaman setelah bencana terjadi.
Bahkan dalam banyak kasus, aktivitas di kawasan rawan tetap berjalan tanpa kewaspadaan yang memadai meskipun peringatan cuaca telah dikeluarkan. Padahal pola bencana di Sumatera Barat sebenarnya sudah berulang.
Hampir setiap musim hujan, wilayah-wilayah dengan lereng curam dan daerah aliran sungai menghadapi ancaman yang sama. Longsor menutup jalan, banjir merendam permukiman, jembatan rusak diterjang arus, dan akses masyarakat terputus.
Artinya, kita tidak lagi kekurangan pengalaman, tetapi masih kekurangan keseriusan dalam membangun budaya sadar risiko.
Di sinilah pentingnya pendekatan berbasis spasial dan teknologi geospasial seperti GIS. Melalui analisis spasial, kita sebenarnya dapat memetakan kawasan rawan longsor, mengidentifikasi pola aliran air, membaca tingkat kerentanan lereng, hingga memodelkan dampak hujan ekstrem terhadap permukiman dan infrastruktur.
Data tersebut seharusnya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pembangunan, bukan sekadar pelengkap administrasi. Infrastruktur di wilayah rawan tidak bisa lagi dibangun hanya berdasarkan kebutuhan konektivitas, tetapi juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan risiko bencana jangka panjang
Pemerintah daerah perlu memperkuat mitigasi berbasis lanskap melalui evaluasi tata ruang, peningkatan kualitas drainase, pemetaan gerakan tanah, serta sistem monitoring kawasan rawan.
Pembangunan infrastruktur juga harus mulai mengintegrasikan data kebencanaan secara lebih serius agar kerusakan yang sama tidak terus berulang setiap musim hujan.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun kepekaan terhadap tanda-tanda alam seperti retakan tanah, rembesan air yang tidak biasa, perubahan aliran sungai, maupun suara pergerakan tanah saat hujan deras berlangsung.
Kesadaran terhadap risiko menjadi sangat penting karena banyak bencana sebenarnya memberikan gejala awal sebelum terjadi.
Peristiwa Situjuah harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita terhadap bencana. Penanganan darurat memang penting, tetapi jauh lebih penting adalah membangun pemahaman risiko sebelum bencana datang.
Sebab di daerah seperti Sumbar, hujan ekstrem tidak pernah benar-benar datang sendirian. Ia datang bersama ancaman longsor, banjir, tanah amblas, dan berbagai risiko lain yang telah lama tersimpan di dalam lanskap kita sendiri. (*)
Editor : Adriyanto Syafril