Penulis : Fitrisia Amelin - Kandidat Doktor Ilmu Biomedik FK Universitas Andalas
Setiap tanggal 17 Mei, dunia merayakan World Hypertension Day. Peringatan ini menjadi bagian dari Hypertension Awareness Month. Tahun ini, tema yang dipilih oleh World Health Organization (WHO) adalah “Controlling hypertension together: Check your blood pressure regularly, defeat the silent killer.” Tema ini mengingatkan kita bahwa hipertensi bukan hanya masalah orang dewasa namun juga mengingatkan bahwa hipertensi dapat terjadi sejak usia remaja. Remaja sering tidak terdeteksi hipertensi karena memang kita belum terbiasa melakukan pemeriksaan tekanan darah anak secara rutin. Padahal sudah direkomendasikan sejak usia 3 tahun, tekanan darah anak diukur minimal 1 kali setahun. Tiba-tiba saat di bangku kuliah atau saat sudah diterima kerja mulai ketahuan dari pemeriksaan medis lengkap.
Hipertensi disebut The silent killer. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Hipertensi diam diam merusak organ penting seperti jantung, otak, dan ginjal.
Banyak remaja tampak sehat dan aktif. Mereka tidak mengeluh apa pun. Namun, mereka ternyata memiliki tekanan darah tinggi. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kematian dini di masa depan.
Saat ini gaya hidup modern berkontribusi terhadap peningkatan kejadian hipertensi pada remaja. Remaja kurang melakukan aktivitas fisik, dan duduk terlalu lama di depan gawai. Kebiasaan makan makanan cepat saji melalui pesanan daring termasuk makanan dan minuman kekinian. Semua faktor itu menaikkan tekanan darah pada usia muda.
Beragam jenis makanan kekinian mengandung garam (natrium) yang tinggi seperti keripik berbumbu, mi instan, makanan cepat saji, makanan olahan, sosis, nugget, dan frozen food lainnya. Natrium tinggi membuat tubuh menahan banyak cairan sehingga cairan berlebih di pembuluh darah akan menaikkan tekanan darah. Selain natrium, cemilan itu biasanya mengandung lemak jenuh dari penggorengan minyak berulang. Ditambah kurangnya konsumsi sayur, lemak jenuh dan serat rendah memperburuk pembuluh darah.
Tidak hanya garam, gula alami dan gula buatan juga perlu diperhatikan. Minuman boba, teh manis kekinian, soda, kopi susu dengan sirup, camilan manis tinggi gula dapat memicu obesitas dan gangguan metabolik. Obesitas menjadi faktor utama hipertensi pada remaja. Berat badan tinggi, lingkar pinggang lebar, meningkatkan risiko tekanan darah naik.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya adalah aktivitas fisik. Sayangnya, banyak remaja sekarang kurang bergerak (sedentary lifestyle). Mereka menghabiskan banyak waktu dengan telepon genggam, komputer, atau permainan daring. Padahal, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 30 menit setiap hari, bersepeda, berenang, atau olahraga rutin dapat menjaga tekanan darah tetap normal. Aktivitas fisik juga meningkatkan kesehatan jantung dan membantu mengontrol berat badan.
Pemeriksaan tekanan darah secara rutin itu penting. Banyak orang pikir pemeriksaan tekanan darah hanya untuk orang tua. Padahal remaja juga harus periksa tekanan darah, terutama kalau remaja obesitas, punya riwayat keluarga hipertensi, atau kurang olahraga. Pada remaja usia e”13 tahun, hipertensi dianggap ada bila tekanan darah mencapai e”130/80 mmHg. Karena itu, harus melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sebagai bagian dari pemantauan kesehatan remaja seperti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tersedia di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Program CKG menjadi langkah penting untuk mendeteksi tekanan darah tinggi pada remaja sejak dini, sebelum muncul komplikasi. Jangan tunda. Pemeriksaan rutin memungkinkan remaja dengan faktor risiko mendapatkan edukasi dan penanganan lebih cepat. Jika saat skrining ditemukan tekanan darah tinggi atau dicurigai hipertensi, remaja sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter anak terdekat untuk evaluasi lebih lanjut. Hal penting karena hipertensi pada remaja dapat berhubungan dengan obesitas, gangguan hormonal, penyakit ginjal, atau penyebab sekunder lainnya yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.
Hipertensi dapat dicegah dan dikendalikan dengan beberapa langkah sederhana. (1) Kurangi makanan tinggi garam, (2) Batasi minuman manis, (3) Perbanyak buah dan sayur, (4) Pastikan tidur cukup setiap malam, (5) Lakukan olahraga secara rutin minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu, (6) Jaga berat badan ideal., (7) Hindari rokok dan vape. Nikotin dalam rokok atau vape merusak pembuluh darah. Nikotin juga meningkatkan tekanan darah.Semua langkah itu memberi dampak besar pada kesehatan jangka panjang.
Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan berperan aktif mengatasi hipertensi pada remaja. Edukasi pola hidup sehat dimulai sejak dini. Anak dan remaja kemudian memiliki kebiasaan sehat hingga dewasa. Lingkungan yang mendukung aktivitas fisik serta menyediakan pilihan makanan sehat menjadi bagian penting pencegahan hipertensi.
World Hypertension Day mengingatkan semua orang bahwa hipertensi tidak boleh dianggap sepele. Marilah kita kenali faktor risiko hipertensi, periksa tekanan darah secara rutin, kendalikan hipertensi dan terapkan gaya hidup sehat. Semua orang bersatu melawan the silent killer. Semua orang berperan dalam menjaga generasi muda yang lebih sehat di masa depan untuk Indonesia Emas 2045 dan dekade-dekade selanjutnya. (*)
Editor : Adriyanto Syafril