Penulis : Shofwan Karim - Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
Hakikat ibadah kurban bukanlah sekadar menyembelih hewan di lapangan atau halaman masjid. Ia adalah simbol penyembelihan Nafsu Bahimiyah—sifat kebinatangan yang bersemayam dalam diri manusia: egoisme, kerakusan, amarah, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Kurban adalah latihan spiritual untuk menundukkan dorongan hewani yang berpusat pada syahwat duniawi, agar jiwa kita disucikan dan lahir lah Nafsu Muthmainnah: jiwa yang tenang, ikhlas, penuh penyerahan diri kepada Allah SWT.
Dengan kurban, manusia diajak melakukan transformasi batiniah: dari sifat bahimiyah yang liar menuju aura kehidupan yang sejuk, penuh kasih, toleran, harmonis, dan tawadhu’. Jiwa yang demikian adalah jiwa yang dipenuhi rasa syukur, ridha terhadap ketentuan Allah, dan senantiasa memancarkan cinta kasih sosial.
Dimensi Sosial dan Ketakwaan
Kurban bukan hanya ritual individual, melainkan jembatan antara kepedulian diri dan kepedulian sosial. Dengan berbagi daging kurban, kita melatih kepekaan, memupuk rasa syukur atas rezeki, dan mempererat ukhuwah. Target utama dari proses penyembelihan ini adalah mencapai derajat takwa di sisi Allah.
Sejarah Ibrahim ‘alaihissalam dan Ismail ‘alaihissalam mengajarkan bahwa kurban adalah puncak loyalitas dan penyerahan diri. Ia bukan sekadar peristiwa historis, melainkan simbol transformasi jiwa. Bersamaan dengan ibadah haji, kurban menjadi pilar spiritual yang meneguhkan tauhid sekaligus menumbuhkan hikmah kesufian: perjalanan dari jiwa yang liar menuju jiwa yang tenteram.
Tiga Keadaan Jiwa
Para sufi menjelaskan bahwa manusia memiliki satu jiwa dengan banyak keadaan. Al Quran menyebut tiga di antaranya: nafs mumma’innah -iwa yang tenang ; nafs lawwâmah-jiwa yang suka mencela; nafs ammârah bis-sû’-jiwa yang condong kepada keburukan.
Ketiganya adalah dinamika batin manusia. Jiwa bisa naik dari ammârah menjadi lawwâmah, lalu mencapai mumma’innah.
Pertama, Nafsu Mumma’innah: Jiwa yang Tenang . Disebut mumma’innah karena ia tenteram kepada Rabb-nya. Ia tunduk dalam ibadah, cinta, dan kembali kepada-Nya; ridha dengan ketetapan-Nya, bertawakal, dan bersandar penuh kepada-Nya.
Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Kedua, Nafsu Lawwâmah: Jiwa yang Suka Mencela . Allah bersumpah dengan jiwa ini: “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang suka mencela.” (QS. Al-Qiyâmah: 2). Lawwâmah adalah jiwa yang menegur dirinya sendiri. Hasan al-Bashri berkata: “Seorang mukmin selalu mencela dirinya: mengapa aku melakukan ini, seharusnya aku melakukan yang lebih baik.”
Ketiga, Nafsu Ammârah-jiwa yang mengajak kepada keburukan. Inilah jiwa yang tercela. Secara fitrah, ia selalu mengajak kepada keburukan kecuali bila Allah menolongnya. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53)
Setan ke Malaikat
Rasulullah úý bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Bisikan setan adalah janji keburukan, sedangkan bisikan malaikat adalah janji kebaikan. Maka siapa yang merasakan bisikan baik itu, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang merasakan sebaliknya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Upaya mengganti bisakan itu adalah melalui ibadah. Kurban adalah momentum untuk menyembelih sifat lawwâmah-amarah-bahimiyah dalam diri. Hewan kurban menjadi cermin: ketika kita menyembelihnya, sejatinya kita sedang menyembelih egoisme, kerakusan, dan amarah.
Kurban mengajarkan bahwa jiwa manusia adalah ladang perjuangan. Ammârah harus ditundukkan, lawwâmah harus diarahkan, hingga lahir mumma’innah. Inilah perjalanan ruhani seorang mukmin: dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju ketenangan.
Orang Minangkabau berkata: “Tagak maninjau jarak, duduak marawuik ranjau.” Berdiri untuk meninjau jauh ke depan, duduk untuk menimbang langkah dengan hati-hati.
Pepatah ini selaras dengan perjalanan jiwa: seorang mukmin harus mampu melihat jauh ke depan dengan pandangan iman, lalu menimbang setiap langkah dengan hati yang penuh kehati-hatian.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan: “Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu.”. Kurban adalah bentuk jihad batin itu: menyembelih sifat bahimiyah demi lahirnya jiwa muthmainnah.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah menulis: “Jiwa itu seperti air; ia bisa jernih bila dijaga, dan bisa keruh bila dibiarkan.”. Kurban adalah upaya menjaga kejernihan jiwa, agar tidak keruh oleh kerakusan dunia.
Tampaklah bahwa jiwa manusia hanya satu, tetapi memiliki tiga keadaan: ammârah — condong ke keburukan; lawwâmah — menyesali dosa dan menegur diri; mumma’innah — mencapai ketenangan sempurna dalam ketaatan.
Perjalanan ruhani seorang mukmin adalah perjalanan menaikkan jiwa dari tingkat terendah menuju tingkat tertinggi, hingga menjadi jiwa yang dipanggil lembut oleh Allah:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28)
Kurban adalah simbol perjalanan itu. Ia bukan sekadar ritual, melainkan hikmah sufistik: penyembelihan sifat bahimiyah demi lahirnya jiwa muthmainnah. Dengan kurban, manusia belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan dirinya sendiri. (*)
Editor : Adriyanto Syafril