Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Apakah Bukittinggi masih Layak Disebut Kota Wisata?

Adriyanto Syafril • Selasa, 30 Juni 2026 | 09:25 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Gusrizal - Pemerhati Pariwisata

Rangkaian peringatan satu ­Abad (100 tahun) Jam Gadang di Ko­ta Bu­kittinggi telah resmi berak­hir pa­da 21 Ju­ni 2026. Perayaan ak­bar ber­tema “Jam Gadang, Detak Jan­tu­ng Ibukota” ini sukses disele­ng­ga­ra­kan dan ditu­tup secara res­mi setelah berlangsung sejak 3 Juni 2026 lalu.

Bukittinggi beruntung. Tidak se­mua kota punya ikon yang “Menjual di­­­rinya sendiri”. Jam Gadang dan Nga­­­rai Sianok, itu dua kartu As. Sebut “Sumbar” di Jakarta, Surabaya, atau Malaysia, 3 kata yang keluar: “Jam Gadang, Ngarai Sianok, Randang”.

Branding kota sudah terbentuk. Tapi branding tanpa fondasi, itu se­perti rumah cantik di atas tanah rapuh. Namun kota yang sudah terlanjur melekat dengan sebutan “Kota Wisata”, de­ngan minimnya pusat informasi, transportasi berantakan, dan ka­lender event kosong, apakah gelar “Kota Wisata” masih pantas?Opini ini tidak untuk menjatuhkan. “Kalau am­bo lain, kalau ado pemimpin nan sa­lah atau lupo, itu lah kewajiban ambo untuk manganaan”. Ini bentuk cin­ta. Karena hanya yang sayang yang be­rani bedah luka. Kita bedah pakai da­ta, perbandingan, dan logika wisa­tawan.

4 Sudut Pandang

Saya akan coba membedah issue ini dari 4 sudut pandang. Pertama, Bu­kit­tinggi memiliki aset emas. Ini mo­dal yang tidak dimiliki kota lain, sebut sa­ja Jam Gadang. Jam Ga­dang de­ngan usia 100 tahun, jelas ini sebuah nilai se­jarah serta ditambah lagi de­ngan nilai emo­sional. Ba­gi perantau Minang, ini ti­tik kangen. Bagi turis mancanegara, ini ar­sitektur unik peninggalan Belan­da ya­­ng ditambah dengan sentuhan lo­kal. Se­tiap event nasional di Jam G­a­­­dang se­lalu viral. Magnetnya ti­dak per­­nah mati. Se­lain itu, Bukitti­nggi ju­ga memiliki Nga­rai Sia­nok. De­ngan ke­da­laman 100 me­ter, pan­ja­ng 15 km, di­­tambah tebing hi­jau dengan Sungai Sia­nok, ini me­ru­­pa­kan spot foto kelas du­nia. Para wi­satawan rela ke Bukittinggi demi “Sun­rise” di Taman Panorama ser­ta dianu­ge­­rahi cuaca yang sejuk. De­ngan 3 aset ini saja, Bukittinggi tidak per­lu “capek” un­tuk bikin daya tarik. Ba­­nyak kota di luar sana harus me­nge­­luar­kan banyak bia­ya untuk ba­ngun destinasi buatan, Bu­kittinggi cu­kup merawat yang ada. Ta­pi me­rawat tidak de­ngan membiarkan.

Kedua, Tiga luka kronis yang berdampak pada ekonomi. Apa saja itu? Pertama, Pusat informasi wisata, hilang kendali narasi. Survei Kemenparekraf 2023, 78% wisatawan domestik cari info via Google/IG sebelum datang. Kalau kota tidak punya kanal resmi yang aktif, maka narasi diambil alih buzzer, driver online, atau akun random. Akibatnya, info hoax, harga tidak wajar, wisatawan ter­se­sat.Dam­pak ekonominya, wisatawan “day trip”. Datang pagi, foto-foto di Jam Gadang, makan, lalu lanjut ke Kabupaten Kota sekitar yang memang saat ini sedang giat ber­be­nah.Jadi PAD dari hotel, parkir, belanja UMKM tidak jadi masuk. Padahal kalau ada “Tou­rism Information Center” (Pusat Informasi Wisata) di seputaran Jam Gada­ng”di­tambah dengan kemampuan pegawai yang dapat berbahasa Inggris apalagi kalau ditambah dengan kemampuan berbahasa asing lainnya, diharapkan tamu, baik itu domestik atau mancanegara akan mendapatkan Informasi yang jelas dan harapannya tentu saja tamu bisa tinggal di Bukittinggi. Pusat informasi ini bener tidak ada, sudah saya telusuri, memang ndak ada pusat informasi wisata di sekitaran Jam Gadang. Saya sudah nyinyir menyampaikan ini, tapi tidak pernah direspons. Kedua, Transportasi. Ini persoalan lainnya yang mengganggu pariwisata. Kota wisata itu idealnya punya 3 moda transportasi. Sarana pejalan kaki, Transportasi umum, danKendaraan pribadi. Bukittinggi kuat di moda 3, lemah di moda 1 dan 2.Turis asing tidak bisa bawa motor. Turis keluarga seperti dari Pakanbaru banyak bawa mobil. Kalau dari Terminal Aur Kuning ke Jam Gadang banyakyang bingung mau naik ang­kot nomor berapa, mereka pilih skip, yang terjadi, ma­cet di Jalan Sudirman, maka akan ada polusi diakibatkan menumpuknya kendaraan, dampaknya wisa­tawan jadi stres sebelum menikmati pe­mandangan.Bandingkan dengan “Batu City Tour Bus” di Malang. Tiket 20 ribu, keliling 7 spot, tiap 20 menit. Wisatawan hemat, UMKM di tiap halte dapat rezeki.

Ketiga,  Kalender event. Bukittinggi tidak punya “Kalender Event”. De­ngan demikian tamu tanpa alasan kembali. Ikon statis seperti Jam Gadang, butuh event dinamis sebagai “alasan datang ulang”. Yogyakarta punya 12 event besar setahun seperti, Seka­ten, Keraton, Kustomfest. Malang punya BNS dan Jatim Park Festival. Bukittinggi?Event ma­sih reaktif, ada dana baru bikin acara. Tidak ada ka­lender 1 tahun ke depan yang dipublish. Investor, EO, komunitas tidak bisa planning. Hasilnya, “Low season”. Februari-April hotel kosong, high season Leba­ran-Natal overkapasitas tapi pelaya­nan berantakan. Berharap momentum 100 Tahun Jam Gadang ini dapat dijadikan tonggak awal. Diharapkan ini akan jadi “Jam Ga­dang Centennial Festival” tahunan. Brandi­ng kuat, sponsor gampang ma­suk.Ke­tiga, Jangan malu untuk belajar. Jangan pernah merasa besar sendiri namun teruslah belajar. Saya mengambil contoh Bandung dan Batu. Bandu­ng, dulu cuma dikenal dengan “Alun-alun dan Factory Outlet (FO)”. Seka­rang jadi top 3 Kota Wisata domestik. Kuncinya, 10 “Information Center” tersebar ditambah dengan aplikasi “Bandung Tour”. Terus ada Bandros & Bus wisata kelili­ng. Ada juga Kalender “Bandung Great Sale” tiap Juli-De­sem­ber, hasilnya, wisa­tawan rela ma­cet karena ada sis­tem yang me­nopang. Begitu juga de­ngan Batu di Malang. Malang punya Gunung Bromo? Iya, tapi bukan itu. Pemko dengan swasta bikin ekosistem. Jatim Park 1-3, BNS, Museum Angkut, shuttle bus. Ikon alam “dipinjam” dari Bro­mo, tapi atraksi buatan yang bikin wisatawan nginap 3 ha­ri.Bu­kit­tinggi sekarang di posisi Bandung tahun 2005, pu­nya ikon, belum punya sistem. Kalau tidak se­­ge­ra naik level, wisatawan akan pindah ke Payakumbuh “Harau” atau Pa­da­ng “Pantai Air Manis”, se­per­ti ya­ng pernah diulas dalam tulisan saya sebelumnya. Keempat, Kalau luka ini ti­dak diobati, maka akan muncul “3 an­caman nyata”. Pertama UMKM Jalan di Tempat. Pedagang di sekitar Jam Ga­dang hanya dapat “uang parkir + es tebu”. Tidak ada wisata­wan yang belanja lama karena tidak ada alasan me­ngi­nap.Kedua, Citra digital hancur. Co­ba cek Google Review Jam Gadang, Ko­mentar top 3,”Bagus tapi pa­nas”, “Bi­ngu­ng naik apa”, “Toilet ku­rang”. Ra­ting 4.2 turun terus. Generasi Z per­ca­ya review, bukan brosur Pem­kot.Ke­ti­ga, Brain drain anak muda. Anak mu­da Bukittinggi jago bikin kon­ten, jago jadi guide, jago ma­sak,tapi tidak ada event + tidak ada transportasi wi­sa­ta, itu sama saja tidak ada lapangan kerja. Akhirnya hijrah ke Pa­dang, Ba­tam, Jakarta.

Penutup dan Saran

Sebagai penutup dan saran dari opini saya ini,Dari Slogan ke Sistem, Jadi, layak atau tidak? Layak secara potensi. Tidak layak secara pela­ya­nan.Gelar “Kota Wisata” itu se­perti gelar sarjana,didapat sekali, tapi harus dibuktikan tiap hari lewat kerja. 100 tahun Jam Gadang sudah lewat. PR 100 tahun ke depan ada di tangan kita.

5 Langkah Kongkret  1 Tahun ke Depan

Pertama, “Operasikan rumah in­for­­masi wisata Bukittinggi”.Lokasi di ba­wah Jam Gadang. Isi dengan 3 staf, peta gra­­tis, QR code semua ho­mestay, nomor guide resmi, jadwal ang­kot. IG @info­wisatabukitti­nggi update tiap ha­ri. Budget kecil, dam­pak be­sar. Ke­dua, Lun­curkan “Bukittinggi City Loop”. Bus ke­cil 15 seat, rute lingkar, Terminal Aur Ku­ni­ng -> Jam Gadang -> Pasar Atas -> Ta­­man Panorama -> Lobang Jepang -> kem­­­bali. Tiket 10rb, interval 30 menit, ba­yar QRIS. Libatkan ko­perasi ang­kot su­paya tidak ada ya­ng di­rugi­kan.Ketiga, “Kunci pali­ng ndak 4 event wajib tahu­nan”,umum­kan awal Janua­ri se­tiap tahun. Contoh, April: Jam Ga­dang Fes­tival + Lomba Lari 10K. Juni: Ngarai Sia­­nok Photography Week. Agustus, Fes­ti­val Randang & Kuliner Minang. De­­sember: “New Year Above the Clouds” di Ngarai Sianok. Kalau jad­wal tetap, hotel, EO, sponsor bisa siap­kan diri setahun sebe­lum­nya.Ke­empat, Satukan komunitas. Bentuk “Forum Ko­munitas Wi­sata Bukittinggi”. Isinya, ko­munitas foto, sejarah, kuliner, ojek wisata. Pem­kot kasih ruang + izin + pela­tihan. Warga bergerak, kota hi­dup.Ke­lima, Pa­sa­ng sistem umpan balik. QR code di setiap spot: “Scan & Rate”. Data masuk dashboard Pemkot. Tiap 3 bulan eva­lua­si,contoh, kalau skor “Tran­sportasi” masih 2/5, berarti bus City Loop belum jalan. Semoga Pemerintah Daerah dapat berbenah diri. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#opini #Opini Padek