Penulis : Gusrizal - Pemerhati Pariwisata
Rangkaian peringatan satu Abad (100 tahun) Jam Gadang di Kota Bukittinggi telah resmi berakhir pada 21 Juni 2026. Perayaan akbar bertema “Jam Gadang, Detak Jantung Ibukota” ini sukses diselenggarakan dan ditutup secara resmi setelah berlangsung sejak 3 Juni 2026 lalu.
Bukittinggi beruntung. Tidak semua kota punya ikon yang “Menjual dirinya sendiri”. Jam Gadang dan Ngarai Sianok, itu dua kartu As. Sebut “Sumbar” di Jakarta, Surabaya, atau Malaysia, 3 kata yang keluar: “Jam Gadang, Ngarai Sianok, Randang”.
Branding kota sudah terbentuk. Tapi branding tanpa fondasi, itu seperti rumah cantik di atas tanah rapuh. Namun kota yang sudah terlanjur melekat dengan sebutan “Kota Wisata”, dengan minimnya pusat informasi, transportasi berantakan, dan kalender event kosong, apakah gelar “Kota Wisata” masih pantas?Opini ini tidak untuk menjatuhkan. “Kalau ambo lain, kalau ado pemimpin nan salah atau lupo, itu lah kewajiban ambo untuk manganaan”. Ini bentuk cinta. Karena hanya yang sayang yang berani bedah luka. Kita bedah pakai data, perbandingan, dan logika wisatawan.
4 Sudut Pandang
Saya akan coba membedah issue ini dari 4 sudut pandang. Pertama, Bukittinggi memiliki aset emas. Ini modal yang tidak dimiliki kota lain, sebut saja Jam Gadang. Jam Gadang dengan usia 100 tahun, jelas ini sebuah nilai sejarah serta ditambah lagi dengan nilai emosional. Bagi perantau Minang, ini titik kangen. Bagi turis mancanegara, ini arsitektur unik peninggalan Belanda yang ditambah dengan sentuhan lokal. Setiap event nasional di Jam Gadang selalu viral. Magnetnya tidak pernah mati. Selain itu, Bukittinggi juga memiliki Ngarai Sianok. Dengan kedalaman 100 meter, panjang 15 km, ditambah tebing hijau dengan Sungai Sianok, ini merupakan spot foto kelas dunia. Para wisatawan rela ke Bukittinggi demi “Sunrise” di Taman Panorama serta dianugerahi cuaca yang sejuk. Dengan 3 aset ini saja, Bukittinggi tidak perlu “capek” untuk bikin daya tarik. Banyak kota di luar sana harus mengeluarkan banyak biaya untuk bangun destinasi buatan, Bukittinggi cukup merawat yang ada. Tapi merawat tidak dengan membiarkan.
Kedua, Tiga luka kronis yang berdampak pada ekonomi. Apa saja itu? Pertama, Pusat informasi wisata, hilang kendali narasi. Survei Kemenparekraf 2023, 78% wisatawan domestik cari info via Google/IG sebelum datang. Kalau kota tidak punya kanal resmi yang aktif, maka narasi diambil alih buzzer, driver online, atau akun random. Akibatnya, info hoax, harga tidak wajar, wisatawan tersesat.Dampak ekonominya, wisatawan “day trip”. Datang pagi, foto-foto di Jam Gadang, makan, lalu lanjut ke Kabupaten Kota sekitar yang memang saat ini sedang giat berbenah.Jadi PAD dari hotel, parkir, belanja UMKM tidak jadi masuk. Padahal kalau ada “Tourism Information Center” (Pusat Informasi Wisata) di seputaran Jam Gadang”ditambah dengan kemampuan pegawai yang dapat berbahasa Inggris apalagi kalau ditambah dengan kemampuan berbahasa asing lainnya, diharapkan tamu, baik itu domestik atau mancanegara akan mendapatkan Informasi yang jelas dan harapannya tentu saja tamu bisa tinggal di Bukittinggi. Pusat informasi ini bener tidak ada, sudah saya telusuri, memang ndak ada pusat informasi wisata di sekitaran Jam Gadang. Saya sudah nyinyir menyampaikan ini, tapi tidak pernah direspons. Kedua, Transportasi. Ini persoalan lainnya yang mengganggu pariwisata. Kota wisata itu idealnya punya 3 moda transportasi. Sarana pejalan kaki, Transportasi umum, danKendaraan pribadi. Bukittinggi kuat di moda 3, lemah di moda 1 dan 2.Turis asing tidak bisa bawa motor. Turis keluarga seperti dari Pakanbaru banyak bawa mobil. Kalau dari Terminal Aur Kuning ke Jam Gadang banyakyang bingung mau naik angkot nomor berapa, mereka pilih skip, yang terjadi, macet di Jalan Sudirman, maka akan ada polusi diakibatkan menumpuknya kendaraan, dampaknya wisatawan jadi stres sebelum menikmati pemandangan.Bandingkan dengan “Batu City Tour Bus” di Malang. Tiket 20 ribu, keliling 7 spot, tiap 20 menit. Wisatawan hemat, UMKM di tiap halte dapat rezeki.
Ketiga, Kalender event. Bukittinggi tidak punya “Kalender Event”. Dengan demikian tamu tanpa alasan kembali. Ikon statis seperti Jam Gadang, butuh event dinamis sebagai “alasan datang ulang”. Yogyakarta punya 12 event besar setahun seperti, Sekaten, Keraton, Kustomfest. Malang punya BNS dan Jatim Park Festival. Bukittinggi?Event masih reaktif, ada dana baru bikin acara. Tidak ada kalender 1 tahun ke depan yang dipublish. Investor, EO, komunitas tidak bisa planning. Hasilnya, “Low season”. Februari-April hotel kosong, high season Lebaran-Natal overkapasitas tapi pelayanan berantakan. Berharap momentum 100 Tahun Jam Gadang ini dapat dijadikan tonggak awal. Diharapkan ini akan jadi “Jam Gadang Centennial Festival” tahunan. Branding kuat, sponsor gampang masuk.Ketiga, Jangan malu untuk belajar. Jangan pernah merasa besar sendiri namun teruslah belajar. Saya mengambil contoh Bandung dan Batu. Bandung, dulu cuma dikenal dengan “Alun-alun dan Factory Outlet (FO)”. Sekarang jadi top 3 Kota Wisata domestik. Kuncinya, 10 “Information Center” tersebar ditambah dengan aplikasi “Bandung Tour”. Terus ada Bandros & Bus wisata keliling. Ada juga Kalender “Bandung Great Sale” tiap Juli-Desember, hasilnya, wisatawan rela macet karena ada sistem yang menopang. Begitu juga dengan Batu di Malang. Malang punya Gunung Bromo? Iya, tapi bukan itu. Pemko dengan swasta bikin ekosistem. Jatim Park 1-3, BNS, Museum Angkut, shuttle bus. Ikon alam “dipinjam” dari Bromo, tapi atraksi buatan yang bikin wisatawan nginap 3 hari.Bukittinggi sekarang di posisi Bandung tahun 2005, punya ikon, belum punya sistem. Kalau tidak segera naik level, wisatawan akan pindah ke Payakumbuh “Harau” atau Padang “Pantai Air Manis”, seperti yang pernah diulas dalam tulisan saya sebelumnya. Keempat, Kalau luka ini tidak diobati, maka akan muncul “3 ancaman nyata”. Pertama UMKM Jalan di Tempat. Pedagang di sekitar Jam Gadang hanya dapat “uang parkir + es tebu”. Tidak ada wisatawan yang belanja lama karena tidak ada alasan menginap.Kedua, Citra digital hancur. Coba cek Google Review Jam Gadang, Komentar top 3,”Bagus tapi panas”, “Bingung naik apa”, “Toilet kurang”. Rating 4.2 turun terus. Generasi Z percaya review, bukan brosur Pemkot.Ketiga, Brain drain anak muda. Anak muda Bukittinggi jago bikin konten, jago jadi guide, jago masak,tapi tidak ada event + tidak ada transportasi wisata, itu sama saja tidak ada lapangan kerja. Akhirnya hijrah ke Padang, Batam, Jakarta.
Penutup dan Saran
Sebagai penutup dan saran dari opini saya ini,Dari Slogan ke Sistem, Jadi, layak atau tidak? Layak secara potensi. Tidak layak secara pelayanan.Gelar “Kota Wisata” itu seperti gelar sarjana,didapat sekali, tapi harus dibuktikan tiap hari lewat kerja. 100 tahun Jam Gadang sudah lewat. PR 100 tahun ke depan ada di tangan kita.
5 Langkah Kongkret 1 Tahun ke Depan
Pertama, “Operasikan rumah informasi wisata Bukittinggi”.Lokasi di bawah Jam Gadang. Isi dengan 3 staf, peta gratis, QR code semua homestay, nomor guide resmi, jadwal angkot. IG @infowisatabukittinggi update tiap hari. Budget kecil, dampak besar. Kedua, Luncurkan “Bukittinggi City Loop”. Bus kecil 15 seat, rute lingkar, Terminal Aur Kuning -> Jam Gadang -> Pasar Atas -> Taman Panorama -> Lobang Jepang -> kembali. Tiket 10rb, interval 30 menit, bayar QRIS. Libatkan koperasi angkot supaya tidak ada yang dirugikan.Ketiga, “Kunci paling ndak 4 event wajib tahunan”,umumkan awal Januari setiap tahun. Contoh, April: Jam Gadang Festival + Lomba Lari 10K. Juni: Ngarai Sianok Photography Week. Agustus, Festival Randang & Kuliner Minang. Desember: “New Year Above the Clouds” di Ngarai Sianok. Kalau jadwal tetap, hotel, EO, sponsor bisa siapkan diri setahun sebelumnya.Keempat, Satukan komunitas. Bentuk “Forum Komunitas Wisata Bukittinggi”. Isinya, komunitas foto, sejarah, kuliner, ojek wisata. Pemkot kasih ruang + izin + pelatihan. Warga bergerak, kota hidup.Kelima, Pasang sistem umpan balik. QR code di setiap spot: “Scan & Rate”. Data masuk dashboard Pemkot. Tiap 3 bulan evaluasi,contoh, kalau skor “Transportasi” masih 2/5, berarti bus City Loop belum jalan. Semoga Pemerintah Daerah dapat berbenah diri. (*)
Editor : Adriyanto Syafril