Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal Lebih Dekat Kanker Payudara

Novitri Selvia • Selasa, 1 November 2022 | 10:59 WIB
Fathiya Juwita Hanum Dokter Onkologi Radiasi RS Unand
Fathiya Juwita Hanum Dokter Onkologi Radiasi RS Unand
KANKER payudara merupakan salah satu penyakit yang menjadi musuh utama bagi kaum perempuan. Penyakit ini dapat menyerang perempuan dari berbagai kelompok usia dengan beragam latar belakang. Meskipun 99% kanker payudara mengenai perempuan, masih ada 1% peluang penyakit ini menyerang laki–laki.

Menurut data Global Burden on Cancer tahun 2020, di Indonesia insiden kanker payudara menempati urutan teratas (16,6%) dari seluruh kasus kanker pada perempuan yaitu sebanyak 65.858 kasus. Kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua terbanyak akibat kanker di Indonesia setelah kanker paru.

Ketakutan terhadap kanker payudara membuat sebagian orang justru melewatkan berbagai informasi penting terkait penyakit ini. Sehingga mereka terlambat mendapatkan tatalaksana yang semestinya. Lebih dari 80% pasien kanker payudara di Indonesia ditemukan pada stadium lanjut.

Selayaknya untuk dapat menaklukkan musuh kita harus mengenalnya lebih dekat. Dengan mengetahui apa dan bagaimana kanker payudara membuat kita dapat melakukan upaya preventif (pencegahan) maupun pengobatan yang tepat dan cepat. Upaya ini tentunya akan berkorelasi dengan penurunan angka kematian akibat kanker payudara dikemudian hari.

Kanker payudara ditandai dengan adanya pertumbuhan sel yang tidak normal dan tidak terkendali pada jaringan payudara. Semua benjolan yang tidak normal pada payudara dikenal dengan tumor payudara. Berdasarkan sifatnya tumor payudara dapat diklasifikasikan menjadi tumor jinak dan tumor ganas.

Tumor jinak biasanya memiliki kapsul (lapisan pembungkus) sehingga bila bertambah besar akan mendesak atau menyebabkan penekanan pada jaringan sekitarnya. Tumor jinak tidak dapat bermetastasis atau menyebar ke organ tubuh yang lain. Berbeda halnya dengan tumor ganas yang bila membesar akan menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitarnya.

Disamping itu tumor ganas juga memiliki kemampuan untuk menyebar ke organ tubuh lain seperti otak, paru – paru, hati dan tulang. Tumor ganas inilah yang kita kenal dengan istilah kanker payudara. Fakto risiko kanker payudara dikelompokkan menjadi faktor risiko yang dapat dikendalikan dan faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan.

Diantara faktor yang tidak dapat dikendalikan adalah pertambahan usia, jenis kelamin perempuan, riwayat keluarga dengan kanker payudara, adanya mutasi genetik, mendapat haid pertama (menarche) pada usia dini dan menopause yang lambat.

Faktor risiko yang dapat dikendalikan meliputi paritas (risiko meningkat pada perempuan yang tidak pernah melahirkan atau melahirkan anak pertama diatas usia 35 tahun), tidak menyusui, riwayat terapi hormon, pemakaian kontrasepsi oral seperti pil KB, diet tinggi lemak, konsumsi alkohol, obesitas, jarang berolahraga dan riwayat paparan radiasi.

Karakteristik patologis kanker payudara sangat beragam (heterogen). Sebagian kasus berkembang lambat dan memiliki prediksi perkembangan penyakit (prognosis) yang baik, sebagian lagi dapat berkembang sangat agresif dan mengalami perburukan. Semakin awal penyakit kanker payudara dideteksi dan ditatalaksana dengan baik semakin besar pula kemungkinan keberhasilan terapi yang diberikan.

Pada stadium awal kanker payudara biasanya tidak bergejala. Seiring berjalannya waktu akan teraba benjolan di payudara atau di ketiak. Benjolan ini bisa disertai nyeri atau tidak.
Keluhan lain adalah keluarnya cairan atau darah dari puting payudara, puting tertarik ke dalam, adanya kemerahan atau gambaran seperti kulit jeruk serta munculnya tukak atau luka pada payudara.

Jika sudah terdapat penyebaran (metastasis) pada organ lain pasien akan datang dengan keluhan sesuai lokasi penyebarannya. Pada metastasis otak pasien akan mengeluhkan sakit kepala dan gangguan syaraf. Nyeri perut kanan atas atau gangguan fungsi hati bisa terjadi pada metastasis hati.

Keluhan batuk dan sesak nafas dapat menjadi tanda penyebaran kanker ke paru-paru. Jika kanker telah menyebar ke tulang pasien akan mengeluhkan nyeri atau dapat terjadi patah tulang (fraktur) pada tulang-tulang yang terlibat.

Sebagai upaya deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) secara teratur. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan benjolan dan tanda-tanda lain pada payudara sedini mungkin agar dapat dilakukan tindakan secepatnya.

Pemeriksaan ini direkomendasikan pada perempuan mulai usia 20 tahun yang dilakukan sendiri di rumah setiap bulannya. Apabila ditemukan gejala atau tanda seperti yang telah dijelaskan sebelumya, dapat dilanjutkan dengan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) oleh tenaga medis yang akan mengkonfirmasi temuan dari SADARI.

Untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan USG payudara atau mammografi. Pada wanita muda dengan jaringan payudara yang masih kencang lebih direkomendasikan pemeriksan USG payudara. Untuk memastikan jenis tumor payudara jinak atau ganas akan dilakukan pemeriksaan biopsi dengan cara mengambil sampel jaringan tumor. Hasil biopsi ini selanjutnya dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk mengetahui jenis selnya.

Hal pertama yang harus diingat jika kita menemukan adanya benjolan di payudara adalah jangan panik. Sebagian benjolan payudara bersifat jinak seperti Fibroadenoma Mammae (FAM) dan kista. Berikutnya yang harus dilakukan adalah segera memeriksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut agar dapat memastikan diagnosisnya.

Kanker payudara dapat ditatalaksana dengan beberapa modalitas terapi yaitu operasi, kemoterapi, radioterapi dan hormonal terapi. Pada stadium awal operasi kanker payudara dapat dilakukan dengan mengangkat jaringan tumor dan mempertahankan jaringan payudara. Apabila

ukuran tumor cukup besar akan dilakukan pengangkatan seluruh jaringan payudara dengan menyertakan otot dinding dada dan kelenjar getah bening ketiak. Pada kasus lanjut seperti adanya perlekatan tumor ke dinding dada atau adanya luka yang luas dengan perdarahan aktif tindakan operasi menjadi sulit untuk dilakukan.

Kemoterapi dapat diberikan dengan memasukkan obat kanker (sitostatika) melalui pembuluh darah. Tindakan ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah operasi. Kemoterapi dapat juga diberikan pada kanker payudara yang sudah bermetastasis. Sebelum pemberian kemoterapi harus diperiksa fungsi ginjal terlebih dahulu.

Jika terdapat gangguan fungsi ginjal, kemoterapi tidak bisa dilanjutkan karena akan memperberat kerja ginjal. Radioterapi diberikan untuk membersihkan sisa sel kanker yang mungkin masih tertinggal paska operasi.

Radioterapi juga bisa ditujukan untuk memperkecil volume tumor sehingga meningkatkan kemungkinan operasi (resektabilitas tumor). Selain itu pada kasus metastasis otak dan tulang serta pada tumor dengan perdarahan aktif radioterapi dapat diberikan untuk mengurangi keluhan nyeri dan menghentikan perdarahan.

Untuk menurunkan risiko kanker payudara ada beberapa hal yang dapat kita upayakan, diantaranya dengan melakukan aktivitas fisik teratur selama 30 menit setiap hari. Rajin mengkonsumsi buah dan sayur, mengurangi makanan berlemak dan berminyak serta menghindari alkohol talah terbukti dapat menurunkan risiko kanker payudara.

Pemberian ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi namun juga bagi ibunya untuk menghindari risiko kanker payudara. Selanjutnya pemakaian kontrasepsi oral dapat diganti dengan kontrasepsi non hormonal seperti pemasangan alat kotrasepsi dalam rahim atau lebih dikenal dengan spiral. (*) Editor : Novitri Selvia
#Mengenal lebih Dekat Kanker Payudara #Fathiya Juwita Hanum