Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hoyak Tabuik

Admin Padek • Minggu, 30 Juli 2023 - 12:51 WIB
Photo
Photo
Oleh: Satria Haris
Akademisi & Brand Activator Universitas Negeri Padang, Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN)
Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri.

PIAMAN LAWEH. Hal ini sangat identik dengan dua administrasi wilayah kota pariaman dan kabupaten Padangpariaman. Salah satu perayaan lokal yang mampu mengundang wisatawan lokal hingga mancanegara yaitu Festival Hoyak Tabuik.

Dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharram memperingati hari Asyura, gugurnya Imam Husein (cucu Muhammad) yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di daerah pantai Sumatera Barat.

Tahun ini, tabuik diturunkan ke laut di Pantai Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia. Selengkapnya dapat dicek di platform komunikasi pariwisata by instagram @ayokepariaman.

#AyoKePariaman
Hastag ini merupakan representasi dari sebuah ajakan dan bentuk kesiapan masyarakat lokal dalam menyambut wisatawan (disambuik jo muko nan janiah).

Jika mengacu pada riset sebelumnya, terdapat tiga motif utama wisatawan datang ke Sumatera Barat, yakni Budaya Nan Khas, Makanan Nan Lamak dan Lamak Bana, serta Alam yang Indah.

Ketiga motif tersebut dapat ditemukan pada kota dengan wilayah pesisir pantai yang indah dan juga dijuluki sebagai ‘The Sunset of Sumatra’.

Hoyak Tabuik merupakan bagian dari pengungkapan potensi lokal berbasis budaya melalui festival tahunan yang dilaksanakan secara berkelanjutan by ULP.

Sektor unggulan (U) dari Pariaman yang terus konsisten yaitu Festival Hoyak Tabuik dan festival lainnya yang telah menjadi agenda pariwisata tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Pada sektor lokomotif (L) dapat kita perhatikan potensi lokal yang dapat memberikan multiplier effect, seperti kuliner, seni pertunjukan, musik dan kiya berbasis kearifan lokal.

Selanjutnya, pada sektor pendukung (P) dapat mengacu pada subsektor ekonomi kreatif lainnya yang saling terhubung.

Prosesi Upacara dan Makna

Dalam setiap upacara adat di Indonesia, pasti ada makna di balik setiap rangkaian upacaranya. Makna dari ritual ini pernah dijelaskan oleh tokoh tetua Tabuik Nagari Subarang Nasrun Jon seperti dikutip Travel.Tempo.co. Rangkaian upacara Tabuik memiliki prosesi atau ritual yang disebut dengan Maarak Jari-jari.

Dikutip dari sumber, makna dari ritual Maarak Jari-Jari ialah pengumpamaan jasad cucu Nabi Muhammad SAW yang wafat karena terbunuh.

Dalam prosesi tersebut diadakan replika atau bentuk tiruan jari-jari manusia yang dimasukkan ke dalam panja atau wajah. Tiruan ini kemudian diarak ke seluruh wilayah kota.

Upacara ini dilanjutkan dengan upacara pertemuan atau prosesi yang disebut dengan ritual Basalisiah. Acara ini pertemuan kedua belah pihak antar pelaksana Tabuik.

Jadi, dalam pelaksanaan ritual Tabuik akan ada dua belah pihak, katakanlah pihak selatan dan utara dari satu wilayah. Keduanya akan saling bertarung saat Basalisiah berlangsung.

Kedua kubu akan saling menyerang, mereka melemparkan gendang tasa sampai terjadi bentrokan. Tradisi ini sebagai pengingat perang yang pernah terjadi dan menewaskan Husain bin Ali cucu Nabi Muhammad SAW.

Dalam pelaksanaan Basiliah sekilas seolah-olah masyarakat saling mendendam karena terjadi bentrokan. Sesungguhnya tidaklah demikian, karena pelaksanaannya hanyalah bagian dari upacara untuk menggambarkan cerita kematian Hussein.

Sebelum Ritual Maarak Jari-jari dilaksanakan, sehari sebelumnya dilaksanakan Prosesi ritual maradai. Prosesi ini berisikan kegiatan masyarakat dalam meminta sumbangan. Dalam ritual ini masyarakat Tabuik akan melibatkan masyarakat untuk memberikan sumbangan seikhlasnya. Sumbangan yang didapatkan kemudian digunakan untuk pelaksanaan acara sampai selesai (Wikipedia).

Hari ini merupakan puncak perayaan Tabuik, yang berarti ada tahap demi tahap yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Tulisan ini hanya fokus pada part of branding kota sehingga dikenal secara luas melalui karakteristik lokal, locally globally.

Dalam konsep partisipatif, ada empat hal yang perlu diperhatikan agar dapat tumbuh menjadi kota berkelanjutan: CEO Commitment, Regulasi, Budgeting dan Sumber Daya Manusia (SDM). Ibarat pepatah Minang, untuk dapat hidup dan berkehidupan ‘Kato Nan Ampek & Tau Jo Nan Ampek’.

CEO Commitment & Genius
Pengujung yang baik dan semoga banyak hal baik lainnya yang dapat dilaksanakan, tangan dingin seorang Genius Umar (CEO/ Wali Kota) telah mengantarkan Pariaman siap menjadi kota berkelanjutan.

Program kota yang dituangkan dalam RPJMD 2018-2023 telah dilaksanakan optimal. Menjadikan "Pariaman Kota Wisata, Perdagangan, Jasa Yang Religius dan Berbudaya" melalui sinergi dan kolaborasi. Finale, terima kasih untuk kepemimpinan Adjunct Prof. Dr. H. Genius Umar, S.Sos, M.Si dan semoga hal-hal baik selalu menyertai.

Selamat Menikmati Festival Hoyak Tabuik dan jangan lupa capture momen terbaik serta mention ke @ayokepariaman dan @disparsumbar dengan hastag #HoyakTabuik #VisitBeautifulWestSumatra.(*) Editor : Admin Padek
#hoyak tabuik #VisitBeautifulWestSumatra #Satria Haris #Piaman Laweh