Era ini ditandai oleh hubungan yang tidak terelakkan antara manusia dengan otomatisasi dan digitalisasi dalam semua bidang kehidupan. Pada era revolusi industri 5.0 ini, penguasaan otomatisasi dan digitalisasi menjadi penentu untuk keluar sebagai pemenang di tengah persaingan yang semakin ketat dan keras.
Ketika era revolusi industri 5.0 sudah merambah semua sektor kehidupan umat manusia, era ini hanya menyisakan dua pilihan saja: hidup atau mati. Maju atau mundur. Menjadi pengikut atau menjadi pemenang. Sejahtera atau Sengsara. Dua pilihan ekstrim ini akan berdampak global, nasional dan lokal.
Dalam kerangka pemikiran inilah sangat dituntut peran strategis perguruan tinggi dalam menjawab tantangan berat tersebut. Perguruan tinggi mempunyai sumber daya yang memadai untuk mencetak sumber daya manusia yang kompetensinya sesuai dengan karakteristik tantangan era revolusi industri.
Pemikiran di atas menjadi sangat relevan bila kita kaitkan dengan misi besar bangsa kita pada tahun 2045 kelak. Yaitu terwujudnya Indonesia Emas. Yakni Indonesia yang berdiri kokoh di atas empat pilar utama, yaitu sumber daya manusia yang unggul, demokrasi yang matang, pemerintahan yang baik, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam konteks revolusi industri 5.0, menyiapkan Indonesia Emas, berarti menyiapkan program pembangunan bangsa dengan berpedoman kepada masalah-masalah dan dampak yang ditimbulkan oleh otomatisasi dan digitalisasi sebagai penciri industri 5.0. Artinya, perguruan tinggi wajib merumuskan kurikulum dan proses pembelajarannya yang sesuai dengan tantangan era industri 5.0.
Perguruan tinggi yang tidak memandang serius dampak iringan revolusi industri 5.0 dalam kurikulumnya dan proses pembelajaran akan ditinggalkan. Universitas Negeri Padang (UNP) dalam kurikulumnya dan dalam proses pembelajarannya, telah mengacu kepada penanaman kompetensi lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja yang mengedepankan budaya kerja era otomatisasi dan digitalisasi.
Sebagai rektor UNP yang baru saja dilantik Rabu (5/6) lalu, saya bersama semua unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa tentunya, akan bekerja keras mengembangkan apa yang telah dirintis dengan baik oleh Prof Ganefri, rektor UNP periode 2016-2020 dan 2020-2024. Yaitu mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang berbasis kepada masalah-masalah, nilai-nilai, budaya kerja, dan tekhnologi era industri 5.0.
Pondasi menuju universitas berkelas dunia yang telah dibangun Prof Ganefri akan kami melanjutkan secara maksimal selama lima tahun ke depan. Pada hakikatnya adalah upaya nyata supaya generasi bangsa ini, dalam hal ini lulusan UNP, mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk eksis, punya daya saing tangguh dalam teknologi dan budaya kerja yang dibutuhkan di era industri 5.0.
Upaya itu antara lain, UNP sudah menjalankan kurikulum dan cara pembelajaran kurikulum, melakukan riset dan inovasi, melakukan kerja sama dengan perguruan tingi maju di dalam dan di luar negeri, adalah program yang tepat untuk menciptakan lulusan yang berkualitas tinggi sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang dan kebutuhan zaman yang akan datang.
Terpisah dari substansi pokok-pokok pikiran kami di atas, sebagai rektor UNP yang baru, kami ingin menyampaikan kepada masyarakat, UNP yang hari ini sudah termasuk universitas papan atas di tingkat nasional adalah milik masyarakat. Khususnya masyarakat Sumatera Barat. UNP adalah kebanggaan Sumbar.
Oleh karena itu, dari lubuk hati paling dalam kami sangat mengharapkan bantuan, kerja sama, kolaborasi dari semua masyarakat Sumbar, semua pimpinan daerah di tingkat provinsi, kabupaten, kota, dan semua stake holder kependidikan yang ada di Sumatra Barat. (Krismadinata, Rektor Universitas Negeri Padang 2024-2029)
Editor : Novitri Selvia