"Teruslah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Adz Zariyat ayat 55)
Peristiwa itu, terjadi, pada tahun 2002. Ketika kami, diamanahkan menjadi Pemimpin Redaksi Padang Ekspres, menggantikan Pemred sebelumnya, Sutrianto. Kami, diminta untuk mempresentasikan rubrik baru harian Padang Ekspres oleh CEO Riau Pos Group H Rida K Liamsi ke Pekanbaru.
Kami, berdua berangkat dari Padang, dengan redaktur tata letak dan desain grafis, Kadek Suwarna. Maka, di Graha Pena Riau Pekanbaru, disitulah presentasi berlangsung.
Kepada pak Rida K Liamsi, selain kami memaparkan rubrikasi, visi dan misi, sebagai Koran Reformasi dari Sumbar, juga terselip "semangat" keagamaan, menjadikan Padang Ekspres sebagai koran pembawa suara hati nurani.
Dimana misi, pembawa suara hati nurani itu? Ada, salah satu rubrik kecil di halaman satu, nama rubriknyo Tasbih. Rubrik itu sampai kini masih jadi ciri khas Padang Ekspres. Sebagai media yang terbit di Ranahminang, yang pembacanya mayoritas etnis Minang, rubrik ini menjadi perlu dan penting. Bagian dari kearifan di ranah yang mengusung filosofi hidup Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah.
Rubrik yang berisi kutipan ayat-ayat suci Alquran itu, terbit setiap hari. Melalui rubrik ini, kami berharap setidaknya bagi pembaca, yang tidak sempat melihat Alquran di rumah, dapat membacanya di Padang Ekspres. "Sampaikanlah dariku, walau satu ayat," begitu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari.
Ada pesan moral yang lebih jauh, ingin digapai, agar setiap hari, Padang Ekspres senantiasa tampil dengan informasi kebaikan dan keberkahan. Sebab, Alquran dengan ayat-ayatnya, pada hakekatnya adalah pembawa keberkahan dan kebaikan. Sarana untuk amar ma'ruf nahyi munkar.
Juga, harapan lebih dahsyat lagi, agar informasi yang disiarkan Padang Ekspres, selain bermanfaat bagi pembaca, menjadi referensi menambah ilmu pengetahuan, sekaligus dapat memberikan kenyamanan.
Isi dan berita koran, yang memberitakan kebaikan, dengan informasi yang berimbang, kami sebut dengan "tasbih." Sementara lembaran koran, kami sebut dengan "sajadah". Artinya, koran Padang Ekspres sebagai surat kabar yang baru terbit di Sumbar, setiap hari hadir dengan misi membawa kebaikan: ada tasbih dan sajadah.
Ketika itu, karena diantara temen-teman redaksi ada yang alumni IAIN (Kini, UIN) Imam Bonjol, diberi tugas, untuk menyesuaikan ayat-ayat Alquran yang dikutip dengan informasi yang diberitakan. Ayatnya diseleksi betul, misalnya kalau yang jadi Headline berita bencana, dicari ayat yang terkait dengan pesan Allah, apa makna di balik bencana.
Sebagai konsekuensi koran dengan misi kebaikan dan pembawa hati nurani, setiap berita wajib cover both side. Artinya, berita yang disiarkan harus berimbang. Kami menganut adigium, meski langit akan runtuh, berita yang tidak dikonfirmasi ditunda pemuatannya, daripada dipaksakan memberitakan dan kita terjebak telah menghukum orang lewat koran.
Sebab, menghukum orang lewat koran, tidak bisa diselesaikan dengan mekanisme ralat dan hak jawab saja. Beritanya telah tersiar luas, parahnya yang kita hukum tidak hanya seorang, juga anak istri dan keluarganya ikut tersandera. Kita, telah menebar dosa.
Namun, seketat-ketatnya, proses seleksi berita, dari koordinator liputan, terus ke redaktur halaman, sampai ke redaktur pelaksana, sempat juga kami kecolongan. Peristiwa, terjadi di Pasaman, yang melibatkan seorang kepala desa, dan di kota Padang salah tulis nama Kelurahan Tempat Kejadian Peristiwa (TKP). Untuk kedua kasus tersebut, koran Padang Ekspres harus berbesar hati. Kami menyatakan berita yang sudah disiarkan itu, dicabut, dianggap tidak ada. Bukan kita kalah dan menyerah, justru kami di redaksi menyebut sebagai media kesatria!
Maka, berangkat dari alinia pembuka tulisan ini, dengan mengutip surat adz Dzariyat ayat 55; bahwa sesungguhnya melalui rubrik Tasbih Padang Ekspres, selain mengingatkan pembaca untuk selalu di jalan yang benar, selanjutnya dalam hal fungsi sosial kontrol, juga ingin tetap komit. Memberikan pencerahan sebagai koran referensi.
Alhamdulillah, tahun ini, Padang Ekspres berusia 26 tahun. Sebuah langkah yang sudah jauh, senantiasa setia bersama pembaca. Semoga Allah meridhoi untuk menapak lebih jauh. Ini, hanya sebuah catatan refleksi spritual dari sebuah media yang dibangun dengan "berdarah-darah." (***)
Editor : Hendra Efison