Jika tembang viral berjudul "Bang Toyib" menyampaikan pesan tentang lima tahun tak pulang-pulang, maka “jalan Bang Toyib” ini pun tak jauh berbeda nasibnya. Sudah banyak stigma negatif disematkan padanya—mulai dari julukan "jalan wisata seribu lubang" hingga "jalan rasa kubangan ternak."
Benarkah demikian? Sabtu, 5 April 2025, saya kembali melakukan perjalanan mudik Lebaran. Dari Bukittinggi, saya bertolak menuju Tabek Patah – Supayang – Sungayang – Puncak Pato Batu Bulek – hingga ke Lintau Buo. Sepanjang perjalanan, kondisi jalan yang saya lalui tak jauh berbeda dengan yang saya rasakan saat Lebaran tahun 2024 lalu. Lubang-lubang masih menganga, seakan menanti korban. Gelombang di jalan masih saja melambungkan laju kendaraan, memaksa untuk melambat dan tertatih-tatih menembus rintangan. Sesekali lantai kendaraan menghantam badan jalan. Jika bukan lantai mobil yang tergores, bisa jadi bemper yang rusak dibuatnya.
Lalu, di mana saja posisi jalan rusak dan berlubang itu? Mulai dari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, hingga ke pertigaan Pasar Tabek Patah. Sementara jalan kabupaten dari pertigaan Pasar Tabek Patah – Supayang – Sumanik – Sungayang – hingga Lintau Buo Utara terlihat licin dan mulus.
Saya akui, memang sudah ada perhatian dan atensi terhadap kondisi ini. Namun, sayangnya, perhatian itu baru setengah hati karena keterbatasan anggaran. Jika tahun lalu jalan provinsi yang membelah Lintau Buo dari Lubuk Jantan sampai ke Sitangkai dalam kondisi rusak parah dan berlubang, maka tahun ini sedikit lebih baik. Ruas Lubuk Jantan sampai ke Pasar Sarikat Nagari Buo sudah mulus dan diperlebar. Namun dari Buo ke Sitangkai hanya diperbaiki dengan tambal sulam.
Tambal sulam, secara teknis, bukanlah solusi jangka panjang. Ibarat orang demam, tambal sulam hanyalah paracetamol—sekadar meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyakit. Begitu efeknya hilang, sakit pun datang kembali.
Kualitas tambal sulam tidak bisa menyamai aspal hotmix yang dipadatkan sesuai standar teknik tinggi. Menurut para teknisi, tidak ada tambal sulam yang tahan lebih dari satu tahun kalender. Rata-rata hanya bertahan dalam hitungan bulan.
Kendati demikian, perhatian setengah hati karena kendala anggaran itu tetap layak diapresiasi. Jika tahun lalu jalan rusak parah dan berlubang, tahun ini sudah lebih rata, meski bergelombang. Suara gruduk-gruduk masih setia menemani sepanjang perjalanan di dalam kabin kendaraan.
Sebagai anak negeri di Ranah Luhak Nan Tuo, saya ucapkan terima kasih atas atensi ini—meski setengah hati. Semoga pada tahun anggaran 2025 ini, jalan provinsi yang membelah Lintau XI Koto, dari Taluak hingga Tanjung Bonai, benar-benar mulus dan layak dilintasi.
Halaban ke Pakan Rabaa
Masyarakat Halaban hingga ke Pakan Rabaa, Kecamatan Luhak, rupanya tidak seberuntung warga Lintau XI Koto. Jika di Lintau Buo sudah dilakukan overlay jalan di beberapa ruas dan tambal sulam di sejumlah titik, maka jalan di Halaban yang dikenal dengan julukan “jalan wisata seribu lubang” masih memprihatinkan.
Betul, sudah ada tindakan antisipatif. Terima kasih untuk empati itu. Jika tahun lalu lubangnya dalam dan banyak, kini sebagian sudah ditimbun dengan sirtu. Jika tahun lalu butuh berjam-jam untuk menempuh jalan dari Lintau ke Payakumbuh, tahun ini waktu tempuh sudah berkurang secara signifikan.
Namun, seperti Lintau Buo, tindakan menjelang Idulfitri 1446 Hijriah ini pun tergolong atensi “setengah hati.” Kendaraan bagus dari rantau masih harus tertatih-tatih melalui ruas Halaban – Pakan Rabaa. Lubang yang menganga memang sudah ditimbun, tapi sayangnya tidak dipadatkan. Akibatnya, laju kendaraan tersendat, seperti pesawat yang memasuki awan cumulonimbus—bergetar, oleng, dan tak stabil. Dari kejauhan, kendaraan terlihat seperti berjalan zigzag, memilih sisi jalan yang aman. Saat malam hari, lampu rem terlihat seperti ular melata di jalan lurus.
Sebagai pengguna jalan, saya harus katakan bahwa tumpukan sirtu tanpa pemadatan ini tetap lebih baik daripada lubang besar tahun lalu. Terima kasih untuk empati dan perhatian itu, meski karena keterbatasan anggaran. Semoga tahun 2025 jalan provinsi yang menghubungkan Limapuluh Kota dengan Tanah Datar bisa benar-benar mulus dan nyaman dilintasi. Semoga pula stigma "jalan wisata seribu lubang" bisa dikikis habis, seiring lajunya kendaraan tanpa rintangan.
Pedulilah, Wahai Wakil Rakyat
Sesuai namanya, wahai para wakil rakyat, sisihkanlah sedikit hati dan kepedulian. Tuan-tuan dan puan-puan yang mendapat amanah dari rakyat Payakumbuh dan Limapuluh Kota, berjuanglah mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki jalan wisata seribu lubang ini.
Ini penting—sangat penting. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Janganlah hanya datang dan berkunjung menjelang pemilu saja. Kini, setelah terpilih dan dilantik, datanglah kembali. Lihat dan rasakan langsung betapa pedihnya masyarakat yang harus melewati jalan rusak semacam itu.
Kami paham bahwa anggaran sangat terbatas. Apalagi dengan terbitnya Inpres Efisiensi di awal tahun 2025. Namun, kata pepatah, “Sa sampik-sampik balai, anak rajo lalu juo.” Dalam kondisi sulit pun, publik tetap berharap jalan dan jembatan diperbaiki. Berjuanglah demi itu.
Orang bijak bilang, “Tak satu jalan ke Roma.” Banyak cara untuk mengalokasikan anggaran. Mulai dari efisiensi kegiatan pemerintahan, hingga mengonsorsiumkan anggaran pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota dewan. Singkatnya, para wakil rakyat dari Luhak Nan Bungsu di DPRD Provinsi Sumatera Barat—konsorsiumkan dan alokasikanlah Pokir kalian untuk perbaikan ini. Jika tak tuntas dalam satu tahun anggaran, tempuhlah skema multi-year. Yang penting, perjuangkan amanah rakyat. Jangan hanya jadi kuda troya elektoral. Jadilah wakil rakyat sejati, yang memperjuangkan kebutuhan rakyatnya.
Untuk eksekutif, perjuangkanlah anggaran
Jika dana APBD tak cukup, perjuangkanlah APBN. Jangan ulangi kisah tahun lalu. Sehari setelah tulisan berjudul "Jalan Rasa Roller Coaster" terbit, bertebaranlah selebaran yang menyebutkan telah dialokasikan dana sebesar Rp135 miliar dari program Inpres Jalan Daerah (IJD) untuk perbaikan jalan provinsi di Tanah Datar dan Limapuluh Kota. Namun, seperti langkah ular, dari Mei hingga Desember 2024, jalan Halaban – Pakan Rabaa tak kunjung diperbaiki. Lubang malah bertambah dalam.
Wahai para pengambil kebijakan dan pengguna anggaran di ranah ini, ringankanlah beban rakyat yang selama ini setia membayar pajak. Semoga saja, pada Idulfitri 1447 Hijriah mendatang, tak perlu lagi ada tulisan seperti ini. Semoga yang hadir kelak adalah pujian, bukan keluhan. (***)
Editor : Hendra Efison