PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kebersihan, estetika, dan penataan kawasan dalam membangun pariwisata Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Presiden dalam pidato kenegaraan pada Rakornas 2 Februari 2026 di hadapan kepala daerah, ketua DPRD, dan Forkopimda seluruh Indonesia.
Dalam arahannya, Presiden menyoroti persoalan sampah dan keindahan kawasan sebagai isu utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah.
“Bagaimana turis akan datang kalau banyak sampah,” ujar Presiden.
Pernyataan tersebut menyentuh inti persoalan pengembangan pariwisata di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Barat.
Standar Destinasi Kelas Dunia Menuntut Penataan Menyeluruh
Dalam sebuah kegiatan perencanaan destinasi berkelas dunia di salah satu kabupaten di Sumbar, penulis menyampaikan bahwa predikat “kelas dunia” tidak hanya ditentukan oleh objek wisatanya, tapi oleh penataan wilayah secara menyeluruh.
Mulai dari gerbang masuk kabupaten hingga pemukiman warga, kebersihan dan estetika harus menjadi prioritas.
Wilayah yang ingin menyandang status tersebut idealnya tidak lagi menampilkan sampah, pedagang kaki lima liar, bangunan semi permanen dari kayu dan terpal, hingga jemuran di halaman rumah warga.
Seluruh aktivitas perdagangan diarahkan ke rest area yang terorganisasi sebagai pusat kuliner dan suvenir.
Penataan spanduk, baliho, hingga elemen visual kota juga menjadi bagian penting agar keindahan kawasan dapat terlihat secara maksimal.
Pariwisata pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang kunjungan ke objek tertentu, tetapi tentang bagaimana wisatawan merasakan peradaban, budaya, dan suasana sebuah daerah.
Kebersihan, kenyamanan, dan keramahan menjadi unsur yang membuat wisatawan ingin tinggal lebih lama.
Program “Indonesia ASRI” Jadi Kerangka Kerja Nasional
Presiden juga menegaskan program “Indonesia ASRI”—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—sebagai arah kebijakan nasional.
Program ini menuntut kolaborasi seluruh kepala daerah, aparat kepolisian, dan OPD terkait untuk menciptakan kawasan yang tertata dan layak sebagai tujuan wisata berkelanjutan.
Sumatera Barat memiliki modal besar berupa bentang alam, kekayaan budaya, dan kuliner.
Dengan dukungan tata kelola yang baik, kawasan wisata dinilai mampu mencapai standar nasional bahkan internasional.
Sumbar Siapkan Model Destinasi Berkelas Dunia
Dalam pertemuan Gubernur Sumbar dengan salah satu kabupaten yang direncanakan menjadi model destinasi kelas dunia, isu sampah menjadi bahasan utama.
Gubernur meminta agar sistem pengelolaan sampah diubah menggunakan konsep TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) berbasis kecamatan.
Melalui sistem tersebut, sampah dipilah dan diolah langsung di tingkat kecamatan sehingga penanganannya lebih cepat dan terukur.
Seluruh pihak yang hadir menyambut baik gagasan ini. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan anggaran serta konsistensi pelaksanaan oleh seluruh pemangku kepentingan, termasuk legislatif.
Wellness Tourism Jadi Tren Wisata Masa Depan
Wisata sehat atau wellness tourism diprediksi menjadi salah satu tren utama pariwisata global.
Wisatawan menginginkan suasana tenang, udara bersih, makanan higienis, dan lingkungan yang bebas polusi.
Beberapa daerah di Sumbar, terutama wilayah dataran tinggi, menghadapi persoalan penggunaan pestisida yang memengaruhi kualitas udara pagi hari.
Jika ingin bersaing di level global, daerah tersebut perlu meningkatkan standar lingkungan demi kenyamanan wisatawan.
Estetika Kota Harus Jadi Prioritas
Selain isu kebersihan, estetika kota turut menjadi perhatian. Penataan baliho, kabel listrik, dan pedagang kaki lima di trotoar menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah.
Menurut penulis, penggunaan atap seng pada bangunan komersial seperti penginapan atau vila juga dapat diperbaiki dengan alternatif material seperti genteng agar lebih estetis serta lebih baik dalam menyerap panas, terutama mengingat Sumbar merupakan daerah rawan bencana.
Apresiasi atas Program Nasional
Jadi, program “Indonesia ASRI” sejalan dengan upaya para pemerhati dan penggiat pariwisata yang selama ini memperjuangkan peningkatan kualitas lingkungan dan estetika sebagai fondasi utama destinasi wisata.
Penulis, yang juga merupakan anggota Forum East Asia Latin America for Sustainable Tourism Ethic, menegaskan bahwa wisatawan global kini tidak lagi hanya mencari objek wisata, melainkan ingin merasakan peradaban dan karakter khas suatu daerah.(*)
Editor : Heri Sugiarto