Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Multipolaritas: Jalan dari Beijing

Tandri Eka Putra • Kamis, 21 Mei 2026 | 08:43 WIB
Multipolaritas: Jalan dari Beijing (dok. Shofwan Karim)
Multipolaritas: Jalan dari Beijing (dok. Shofwan Karim)
 
Oleh Shofwan Karim
(Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

 

PADEK.JAWAPOS.COM- PERTEMUAN Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 19–20 Mei 2026 bukan sekadar agenda diplomatik rutin. Ia adalah sebuahpanggung simbolik yang menandai pergeseran arus sejarah. Dua kekuatan besar Eurasia bertemu, memperingati 25 tahun Perjanjian Persahabatan Sino-Rusia, sekaligus meneguhkan arah baru dalam geopolitik global.

Secara umum ikhtisar pertemuan ini berupa seremonial 25 tahun persahabatan, energi, geopolitik Timur Tengah,  tentu konflik Rusia dan Ukraina, dan tatanan baru dunia.

Persahabatan, Simfoni Kekuasaan

Sejak penandatanganan Perjanjian Persahabatan tahun 2001, hubungan Rusia–China telah berkembang dari sekadar kerjasama pragmatis menjadi kemitraan strategis yang mendalam.

Baca Juga: Ekspor Satu Pintu BUMN Bisa Ganggu Kontrak Jangka Panjang, Pengusaha Tambang dan Celios Ingatkan Pemerintah agar tak Monopoli Perdagangan

Perayaan seperempat abad ini bukan hanya nostalgia, melainkan pernyataan bahwa persahabatan mereka adalah fondasi bagi tatanan dunia multipolar. Xi dan Putin menegaskan bahwa dunia tidak lagi bisa dikendalikan oleh satu hegemoni, melainkan harus ditopang oleh keseimbangan kekuatan.

Putin datang dengan delegasi energi, membawa tawaran besar: kelanjutan proyek pipa gas Power of Siberia 2. Energi di sini bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen geopolitik. Gas Rusia yang mengalir ke China adalah simbol interdependensi strategis. Dalam bahasa lebih substantif, ia adalahnadi Eurasia” yang menghubungkan dua peradaban besar kawasan Timur dan Barat yang dinamis tetapi fluktuatif.

Iran dan Ukraina

Bagi Iran, kesepakatan energi Rusia–China memiliki resonansi mendalam. Iran, yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran sanksi Barat, melihat peluang untuk memperkuat posisinya. Jika Rusia dan China semakin solid dalam energi, maka Iran dapat menjadi simpul tambahan dalam jaringan energi Timur. Dengan cadangan minyak dan gas yang melimpah, Iran berpotensi masuk dalam orbit kerjasama ini, memperkuat blok anti-hegemonik yang menantangdominasi Barat.

Baca Juga: Antony Dicoret dari Skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026 meski Bersinar di La Liga

Di seberang iu, bayangan Ukraina tetap menghantui. Invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 telah menjadi luka geopolitik yang belum sembuh. Pertemuan Putin–Xi di Beijing memberi pesan bahwa Rusia tidak terisolasi. China, meski berhati-hati, tetap membuka ruang bagi Rusia untuk tampil sebagai mitrasah.

Bagi Barat, ini adalah sinyal bahwa isolasi terhadap Rusia tidak sepenuhnya berhasil. Ukraina menjadi simbolperlawanan, tetapi juga medan di mana tatanan lama dan barusaling bertarung. Xi memainkan peran sebagai mediator yang menyeimbangkan: tidak sepenuhnya mendukung Rusia, tetapijuga tidak tunduk pada narasi Barat.

Kontinuitas Revolusi dan Harapan Baru

Iran berada di persimpangan. Hubungan Rusia–China yang semakin erat memberi Iran harapan bahwa ia tidak sendirianmenghadapi tekanan Amerika Serikat dan sekutunya. Dalamkonteks nuklir dan Selat Hormuz, Iran melihat bahwadukungan moral dan strategis dari Rusia–China dapatmemperkuat posisinya.

Baca Juga: 9 WNI Diculik Israel, Indonesia Minta Bantuan Jordania dan Turki

Walalupun begitu tetap ada paradoks. Iran memasang matadan telinga lebih tajam. Kewaspadaan dan berhati-hati agar tidak sekadar tercampak menjadi pion dalam permainan besarEurasia. Logika filosofisnya, Iran berada dalam dialektikaantararevolusi” dan “integrasi.” Revolusi Islam 1979 menandai jalan berbeda dari Barat, tetapi integrasi denganblok Timur kini menuntut kompromi.

Multipolaritas sebagai Jalan

Pertemuan Putin–Xi adalah simbol multipolaritas. Dunia tidaklagi satu pusat, melainkan banyak kutub. Amerika Serikattetap kuat, tetapi tidak lagi tunggal. Rusia–China menawarkanalternatif: tatanan yang lebih seimbang, meski penuhketegangan.

Dalam bahasa lain, multipolaritas adalahdialektika kuasa.” Ia bukan harmoni sempurna, melainkan simfoni dengan nada disonansi. Dunia baru ini adalah panggung di mana kerjasama dan persaingan berjalan beriringan.

Baca Juga: Dorong Feeder Toll, Hubungkan Sumbar–Riau

Bayangkan Beijing pada Mei 2026. Balai Besar Rakyat berdiri megah, bendera Rusia dan China berkibarberdampingan. Dan pekan lalu adalah bendera Amerika berkibar mendampingi bendara Tuan Rumah. Tentu saja, di balik gestur tangan dan wajah ada senyum diplomatik, tersimpan pesan yang lebih dalam: dunia sedang berubah.

Pertemuan Putin–Xi bukan sekadar diplomasi, melainkantanda zaman. Iran melihat peluang, Ukraina merasakan luka, dan dunia menyaksikan lahirnya multipolaritas. Beijing menjadi panggung di mana sejarah berbelok, menandai bahwadunia tidak lagi bisa ditentukan oleh satu pusat kuasa.  

Seperti yang pernah ditegaskan oleh Henry Kissinge: “The balance of power is the ultimate principle of order.” Kutipanini bergema di Beijing, menegaskan bahwa keseimbanganantar kutub adalah syarat bagi tatanan dunia baru. Rusia dan China, dengan energi dan geopolitik sebagai instrumen, sedang menata ulang arsitektur global agar tidak lagi rapuh di bawah dominasi tunggal.  

Baca Juga: Dugaan Penyelewengan Dana PNPM, 6 Orang Diperiksa

 

Dan, Immanuel Kant, dalam gagasan Perpetual Peace, menulis: “The spirit of commerce sooner or later takes hold of every nation, and it cannot coexist with war.” Pesan inirelevan: energi, perdagangan, dan keamanan bukan hanyafondasi kebebasan, tetapi juga jalan menuju perdamaianabadi. Jika arus perdagangan dan energi mengalir bebas di antara bangsa-bangsa, maka perang kehilangan ruang untuktumbuh.  

 

Dialektika kuasa ini masih berputar: apakah multipolaritasakan menjadi harmoni baru, atau sekadar jeda dalam rivalitaspanjang? Dunia menunggu jawaban, sementara Beijing telahmenuliskan bab penting dalam kitab sejarah peradaban.  

Pertemuan Putin–Xi adalah lebih dari sekadar diplomasi. Ia adalah tanda zaman. Iran melihat peluang, Ukraina merasakanluka, dan dunia menyaksikan lahirnya multipolaritas. Negara-negara di Barat dan Timur menunggu apakah goncanganperang di Teluk dan Ukraina masih akan panjang.

Baca Juga: Bappenas Review Tujuh Proposal Kegiatan Strategis Pariaman

Apakah ini jalan menuju perdamaian baru, atau sekadar jedadalam rivalitas panjang? Dialektika itu masih berputar. Beijing menjadi panggungnya, dan dunia menunggu: apakahsimfoni ini akan berakhir dengan harmoni abadi, atau terusmenerus menggerus tali batin bangsa-bangsa didunia menjadi terus sumir-ragu dalam bayang-bayang tak menentu? . (*)

 

Editor : Tandri Eka Putra
#multipolaritas #konflik global #beijing #xi jinping #vladimir putin