Oleh: Shofwan Karim, Penulis Esai, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Alumni CWY-PPIK 1980–1985, Senior Advisor for President CEO-CWY 2013–2015 Montreal
PADEK.JAWAPOS.COM-ADA SEUNTAI pepatah klasik Nusantara. Kaum Melayu Minangkabau melantunkannya: “Karatok mulosahalai/ lahia baradaik mako bakaum/ kokjauah cinto-mancinto/ kok dakek juluak- manjuluak.” (Karatak mulai sehelai/ lahir beradat maka berkaum/ Kalau jauh cinta- mencintai/ kalau dekat juluk- menjuluk)
Bait ini bukan pemanis kata, melainkan maklumat batin: merantau bagi manusia Nusantara adalah dialektika eksistensial. Ia panggilan metafisik, melipat jarak, membentang fana, menantang takdir di bumi asing, dan menenun lembaran sujud di hamparan bumi Allah.
Kaki melangkah menembus horizon dan mendarat di Edmonton—Ibu Kota Provinsi Alberta, Kanada—tubuh dihadapkan kerealitas ala mempat musim. Musim ke-4, musim dingin yang menggigit merenggut kehangatan tropis, menyisakan hamparan salju membeku dan cakrawala yang acap kali dilingkupi sunyi.
Baca Juga: Korban Dugaan KDRT Dipulangkan ke Jawa Barat
Namun, di titik paling beku itulah, identitas kultural dan keteguhan iman tidak lantas mencair. Api kerinduan kampung halaman dan ketauhi dan justru memercik, mengkristal dalam kekuatan komunal yang dahsyat.
Diaspora Indonesia di Edmonton memberikan kesaksian genealogis yang benderang: sejauh apa pun jasad terlempar, kiblat batin tidak akan pernah bergeser.
Eksistensi komunitas ini bahu-mahu memakmurkan rumah ibadah di tanah Seberang. Ini manifestasi konkret firman Allah Surah At-Taubah, 18 mengenai keluhuran jiwa para pemakmur masjid.
Baca Juga: Rumah Dipenuhi Lumpur dan Jembatan Roboh, Banjir di Guo Kuranji Padang Terdampak pada Puluhan KK
Bagi perantau Nusantara di antaranya Minangkabau, falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) bertransformasi dari sekadar retorika masa lalu menjadi kompas hidup dan sistem pertahanan spiritual di tengah rimba sekularisme Barat.
Di sini, masjid bukan lagi sebatas bangunan fisik berkubah. Ia episentrum peradaban ingatan kolektif moralitas dirajut kembali. Mendirikan dan merawat ruang sujud adalah cara para diaspora membangun "rumah spiritual" sebelum kelak mereka menempuh perjalanan pulang menuju keabadian.
IMCE, Insprasi al-Rashid
Secara historis, spiritualitas Islam di tanah Edmonton meniti jalan sunyi panjang berliku. Memutar memori hampir setengah abad silam, musim dingin tahun 1980, penulis teringat saat bermalam di kediaman Uda Ismal Sutan Kayo—seorang tokoh diaspora asal Tigo Baleh, Bukittinggi.
Baca Juga: Gubernur Mahyeldi Tegaskan Sumbar Siaga Hadapi Karhutla 2026, Pencegahan Jadi Fokus Utama
Kala itu, peta kehadiran Muslim di kota ini pascaembrionik. Penulis bersama 33 pemuda Indonesia yang tergabung dalam program Canada World Youth & Indonesia Youth Exchange harus merayakan Shalat Idul adha di ujung barat Kanada tersebut.
Di sanalah, kami bersentuhan dengan riwayat sebuah tempat suci bernama Masjid Al Rashid. Masjid kecil itu tak mampu lagi menampung jamaah yang sudah ribuan. Mereka berasal dari multi etnik dan bangsa dunia. Sekilas sejarah perlu ditayangkan.
Situs Al Rashid mencatatbahwafajar Islam di Kanada sejatinya telah menyingsing sejak tahun 1871, ketika gelombang umat Muslim pertama mendarat menggunakan perahu di pantai timur. Pada tahun 1931, sensus resmi hanya merekam 645 jiwa penduduk Muslim di seluruh negeri.
Baca Juga: Menteri PU Tinjau Banjir Tanahdatar, Normalisasi Irigasi Dipercepat Demi Ketahanan Pangan
Di Edmonton sendiri, sekelompok wanita Muslim yang dipelopori oleh figur gigih bernama Hilwi Hamdon bersama rekan-rekannya, menginisiasi sebuah gerakan emansipatif pada awal tahun 1930-an.
Mereka menemui Wali Kota John Wesley Fry untuk meminta sebidang tanah, menuntut hak spiritual yang samas ebagai mana pemeluk agama lain yang telah memiliki tempat peribadatan.
Meskipun kota sedang dicengkeram depresi ekonomi yang hebat pra-Perang Dunia II, para muslimah ini melakukan penggalangan dana dari pintu kepintu di sepanjang Jasper Avenue, tanpa memandang apakah pemilik toko tersebut seorang Muslim, Kristen, atau Yahudi. Berkat kegigihan tersebut, tanah di samping Rumah Sakit Royal Alexandra berhasil dibeli seharga 5.000 dolar AS.
Baca Juga: Nagari Sitiung Bangkit di DCL 2026, PS Sitiung Putra Hidupkan Lagi Tradisi Juara
Dengan menunjuk Mike Drewoth, seorang kontraktor keturunan Ukraina-Kanada, bangunan asli Masjid Al Rashid akhirnya tegak dan diresmikan pada 12 Desember 1938. Peresmian tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas iman serta sarjana Muslim terkemuka, Abdullah Yusuf Ali, sang penerjemah legendaris Al-Qur'an kedalam bahasa Inggris.
Kehadiran bangunan bersejarah ini tidak hanya menjadi penjamin bagi para pendatang untuk merawat keyakinan mereka, tetapi juga menjadi magnet yang menarik gelombang keluarga Muslim dari berbagai belahan dunia untuk bermigrasi ke Edmonton.
Waktu berjalan. Muslim di Edmonton terus berkembang . Pada awal 1980-an, jumlah populasi Muslim membengkak hingga melampaui 16.000 jiwa, membuat bangunan lama Al Rashid di kawasan Kingsway tidak lagi memadai.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini 22 Mei 2026: Padang Berkabut, Padang Panjang Diguyur Hujan Ringan
Komunitas kemudian mendirikan bangunan baru yang megah dengan arsitektur universal di kawasan utara Edmonton pada tahun 1982 yang mampu menampung hingga 20.000 jemaah.
Sementara itu, bangunan asli masjid yang sempat telantar dan terancam oleh proyek perluasan rumah sakit berhasil diselamatkan berkat advokas igigih Dewan Wanita Muslim Kanada.
Pada 28 Mei 1992, struktur historis tersebut dipindahkan secara permanenke Fort Edmonton Park (Taman Sejarah Kota Edmonton) untuk dilestarikan sebagai monumen perdamaian dan warisan budaya multikultural Kanada. Keberadaan museum ini menjadi pengakuan yang sangat mengharukan dari masyarakat luas atas eksistensi historis Islam yang inklusif.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini 22 Mei 2026: Padang Berkabut, Padang Panjang Diguyur Hujan Ringan
Al-Ikhlas Center
Kini, lompatan kuantitatif dan kualitatif telah terjadi. Berdasarkan sensus tahun 2021, komunitas Muslim di Edmonton telah mencapai 84.635 jiwa yang memayungi 62 latar belakang budaya berbeda. Di tengah mosaik global ini, diaspora Indonesia memegang peranannya yang khas.
Di kota ini, kepengurusan spiritualitas terus bergulir melalui simpul-simpul komunal seperti Indonesian Muslim Community of Edmonton (IMCE), yang secara konsisten mengadakan rapat-rapat hibrida demi kemaslahatan umat. Paling aktual, saya diminta Uda Ismal Sutankayo, Penasihat IMCE ikut rapat virtual 17 Mei kemarin.
Hadir pengurus Inti: Admiral, Ismal, Dwi, Rendra dan Husna. Saya diminta sebagai pengantar rapat: sekilas aliran pemikiran Islam kontemporer Indonesia. Setelah itu mereka rapat teknis kepengurusan.
Baca Juga: Gubernur Mahyeldi Tegaskan Sumbar Siaga Hadapi Karhutla 2026, Pencegahan Jadi Fokus Utama
Kembali kekomunitas Muslim. Geliat dakwah berdenyut harmonis melalui kehadiran pusat-pusat spiritualitas baru seperti Al-Ikhlas Centre, Annoor, dan Markaz-Ul-Islam, yang melengkapi warisan historis Al Rashid.
Semua ikhtiar ini membentuk atmosfer penguat bagi tunas-tunas muda diaspora, agar mereka tidak canggung menjadi Muslim yang kaffah sekaligus warga dunia yang kontributif.
Rumah tangga para imigran menjelma menjadi“invisible madrasah” (madrasah takterlihat), sebuah ruang domestik yang sacral tempat nilai-nilai luhur keislaman dan keindonesiaan ditransfer melintasi generasi.
Baca Juga: Kapolres Dharmasraya Dukung Penuh Konfercab IV PWI, Harap Lahir Pengurus Solid
Sejak beberapa tahun lalu, IMCE sedang giat membangun sebuah Masjid yang mereka namakan al-Ikhlas. Sekaligus di situ menjadi Indonesian Islamic Commuity Center yang representatif.
Dubes RI Kanada di Ottawa berharap menjadi pusat Komunitas Muslim Indonesia di belahan Barat Kanada. Dubes Muhsin Syihab menyerahkan bantuan10 Mei lalu. Diharapkan Masjid dan Islamic Centerselesai 2026.
“Masjid ini diberi nama Masjid Al-Ikhlas Centre, sebuah masjid yang diinisiasi oleh Komunitas Muslim Indonesia di Edmonton. Nama ini disepakati oleh para jamaah yang telah berjuang selama lebih dari dua tahun dalam proses pembangunan dan penggalangan dana,” kata Admiral Jahimir, Presiden Indonesian Muslim Community of Edmonton (IMCE). (SindoNews, 26/01.2026).
Baca Juga: Nagari Sitiung Bangkit di DCL 2026, PS Sitiung Putra Hidupkan Lagi Tradisi Juara
Seperti diaspora Indonesia lainnya, Admiral Jahimar dari Kamang Agam itu menenun jalinan takdir yang mempertemukan para perantau Nusantara dengan dinginnya tanah Kanada. Jarak ribuan mil hanyalah angka-angka matematis yang fana di hadapan keabadian silaturahim.
Tali gaibitulah yang meruntuhkan sekat ruang dan waktu, menghubungkan getaran kalbu dari Surau-mushalla Ranah Minang, Meunasah Tanah Rencong, Pesantrendan LanggarJawa hingga ke hamparansalju Alberta. Di bawah bayang-bayang keindahan aurora utara, para diaspora Indonesia terusbersujud, menundukkan dahi dalam kerendahan hati yang paripurna, seraya melambungkan cita-cita setinggilangit. Mereka memastikan bahwa lentera iman, toleransi, dan kemanusiaan di ujung dunia tidak akan pernah padam. (*)
Editor : Novitri Selvia