Oleh: Shofwan Karim (Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Pengamat, dan Penulis Esai)
PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam dunia geopolitik yang biasanya dikuasai akademisi bergelar doktor atau pakar dari lembaga pemikir elite, kemunculan Jiang Xueqin terasa seperti anomali. Lahir di Guangdong pada 1976 dan belakangan menjadi warga negara Kanada, Jiang hanya berbekal gelar sarjana Sastra Inggris dari Yale University.
Namun, dari ruang kelas sederhana hingga kanal YouTube dengan jutaan pengikut, ia menjelma menjadi figur yang dikenal sebagai "Profesor Jiang". Sebuah gelar populer, bukan gelar akademik resmi.
Dari Sastra ke Geopolitik
Selepas lulus dari Yale, Jiang kembali ke China dan mengajar. Ia menulis Creative China, sebuah buku yang mengkritik sistem pendidikan berbasis hafalan. Sekitar awal 2020-an, minatnya bergeser ke sejarah peradaban dan geopolitik. Ia merekam kuliah, lalu mengunggahnya ke YouTube melalui kanal bernama Predictive History.
Baca Juga: Satpol PP Padang Amankan Pasangan di Penginapan Pasir Jambak, Dibawa ke Mako untuk Pemeriksaan
Awalnya, kanal itu sepi. Namun, tayangan berjudul The Iran Trap yang pertama kali tayang pada 29 Mei 2024 mendadak viral. Judul lengkap analisis tersebut adalah "The Iran Trap: Why the US is Being Lured into an Unwinnable War."
Terjemahan harfiah judul tersebut adalah "Jebakan Iran: Mengapa AS Terpikat ke dalam Perang yang Tak Bisa Dimenangkan". Video tersebut merupakan bagian dari kelas seri Geo-Strategy yang ia rekam dan bagikan secara berani. Banyak orang terpana. Tentu ada pula yang bertanya, "Apa pula ini?"
Jiang membuat tiga prediksi besar. Pertama, Donald Trump kembali menjadi Presiden AS. Ternyata, Donald Trump benar terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat setelah memenangkan Pemilu pada November 2024 dan resmi dilantik sebagai Presiden AS ke-47 pada 20 Januari 2025.
Kedua, Amerika terlibat konflik dengan Iran. Ketiga, pada akhirnya AS akan kalah. Dua prediksi pertama dinilai sesuai dengan perkembangan politik, sehingga publik menunggu apakah prediksi ketiga akan menjadi kenyataan.
Logika Sejarah
Konsep predictive history berangkat dari keyakinan bahwa sejarah memiliki pola yang berulang. Jiang menggabungkan analogi klasik, teori permainan, dan psikologi elite. Ia membandingkan kemungkinan invasi Amerika ke Iran dengan Ekspedisi Sisilia pada 415 SM, ketika Athena yang perkasa justru hancur akibat salah langkah strategis.
Menurut Jiang, tiga faktor utama dapat menjatuhkan Amerika, yakni geografi Iran yang bergunung-gunung, kesulitan logistik dalam mempertahankan suplai, serta resistensi nasional yang justru menguat bila diserang.
Baca Juga: Isu Cek STNK di SPBU Bikin Resah, Pemprov Sumbar Beri Penjelasan Resmi
Analogi ini memberikan bobot historis pada prediksinya, sekaligus memperlihatkan bagaimana sejarah dijadikan laboratorium untuk memahami geopolitik modern.
Viralitas dan Kritik
Popularitas Jiang meledak berkat media sosial. Potongan narasi dan wacananya beredar di YouTube, X, dan TikTok serta ditonton jutaan kali. Ia diundang ke berbagai forum politik daring.
Namun, kritik pun bermunculan. Sejumlah akademisi menilai pendekatannya terlalu bergantung pada analogi sejarah, sementara geopolitik modern memiliki variabel yang jauh lebih kompleks.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor, Pemko Padang Kebut Hunian Layak Pasca Bencana 2025
Meski demikian, bagi para pengikutnya, Jiang menawarkan sesuatu yang segar. Ia seakan menjadi pakar atau ahli "nujum" yang berperan sebagai sutradara pemikiran futuristik. Ia mengembalikan analisis geopolitik pada tradisi sejarah panjang, bukan sekadar statistik atau model kalkulasi ekonomi.
Iran: Rumit dan Simbolistik
Iran, dalam narasi Jiang, bukan sekadar negara dengan geopolitik yang rumit, melainkan sebuah gurun simbolis. Bukan hanya gurun yang menelan pasukan besar, tetapi sekaligus melahirkan ketahanan rakyat.
Herodotus, filsuf sejarah Yunani kuno (484–425 SM), pernah menulis, "Force has no place where wisdom is required." ("Kekuatan tidak memiliki tempat ketika kebijaksanaan dibutuhkan.") Lalu, Jalaluddin Rumi (1207–1273) menambahkan, "The wound is the place where the Light enters you." Luka yang ditimbulkan perang justru bisa menjadi pintu bagi cahaya ketahanan.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor, Pemko Padang Kebut Hunian Layak Pasca Bencana 2025
Khomeini (1902–1989) juga menegaskan, "Iran is not afraid of any power, for our strength lies in faith and unity." ("Iran tidak takut pada kekuatan apa pun, karena kekuatan kami terletak pada iman dan persatuan.")
Sementara itu, jauh sebelum Rumi dan Khomeini, Al-Qur'an telah mengingatkan, "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah [2]: 153).
Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan besar sering kali jatuh bukan karena lemahnya senjata, melainkan karena gagal membaca logika tanah yang mereka injak.
Dalam "jebakan Iran", dunia kembali diingatkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan militer, tetapi juga oleh daya tahan sebuah bangsa yang memilih bertahan dengan iman, kesabaran, dan persatuan.
Wa Allahu a'lam bi al-shawab. (*)
Editor : Novitri Selvia