Oleh: Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen UM Sumbar)
PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden Prabowo mengatakan sudah mengetahui pihak yang mendanai para demonstran. Presiden memberi peringatan kepada pihak-pihak yang diduga memobilisasi dan mendanai rangkaian demonstrasi masyarakat. Ia menyebut identitas dan motif yang dibawa tidak serta-merta sejalan dengan suara publik.
Presiden juga menyinggung arah pembangunan yang tengah diubah pemerintahannya, dari yang sebelumnya lebih mengutamakan kepentingan pengusaha besar menjadi memprioritaskan rakyat kecil.
Di tengah proses itu, ia menyebut banyak pihak yang tidak diuntungkan sehingga berupaya mendelegitimasi pemerintahannya. Mereka yang selama ini terbiasa meraih keuntungan dinilai cenderung menggagalkan langkah pemerintah. (Kompas, 25/6/2026).
Diduga, pernyataan Presiden tersebut berkaitan dengan maraknya demonstrasi sepanjang Juni lalu. Gelombang demonstrasi pecah di berbagai wilayah Indonesia. Aksi itu digerakkan oleh aliansi mahasiswa dan berbagai BEM di tanah air. Sejumlah pihak pun menengarai adanya indikasi demonstrasi yang tidak murni.
Anatomi Kaum Demonstran
Ibarat satu tubuh manusia, para demonstran memiliki peran masing-masing. Kepalanya adalah kaum pakar dan intelektual. Hatinya adalah para penggagas, konseptor, dan ideolog. Sementara anggota tubuh lainnya adalah para aktivis serta operator lapangan.
Massa yang turun berdemo, secara teoretis, merupakan gabungan kaum intelektual, ideolog, dan aktivis. Secara hakiki, gerakan turun ke jalan tidak hanya mengandalkan teriakan dan tema-tema literer, tetapi juga memahami “insight” yang tersublimasi dalam jiwa para demonstran.
Demonstran bukanlah massa perusuh yang turun dengan tuntutan tak terukur. Seyogianya mereka memiliki solusi pemikiran, data, analisis, serta kalkulasi yang faktual dan rasional. Karena itu, pada dasarnya tidak diperlukan aparat keamanan dalam jumlah besar apabila demonstrasi berjalan sesuai koridor intelektual dan moral.
Pakar-Intelektual
Secara akademis, pakar-intelektual adalah individu yang menggunakan pemikiran kritis, analisis, dan kapasitas mental untuk memproduksi, mengonseptualisasi, serta menyebarkan gagasan demi memengaruhi masyarakat dan elite penentu kebijakan sesuai tuntutan objektif kepakaran.
Mereka tidak sekadar memiliki pengetahuan, tetapi juga aktif menggunakan pengetahuan tersebut untuk mencairkan status quo demi mencari kebenaran.
Antonio Francesco Gramsci (1891–1937) membagi intelektual ke dalam dua jenis, yakni tradisional dan organik. Kelompok pertama adalah mereka yang merasa terpisah dari kelas sosial tertentu, seperti guru, pemuka agama, budayawan, dan sastrawan. Sementara kelompok kedua lahir langsung dari kelas sosial tertentu, seperti kaum pekerja, yang kemudian mengorganisasi massa untuk melawan dominasi hegemoni penguasa.
Pakar lainnya, Edward Said (1935–2003), mengonsepsikan bahwa kaum intelektual memiliki peran publik yang spesifik. Pemikir dan penulis kelahiran Yerusalem itu mendefinisikan intelektual sebagai individu yang berani menyuarakan kebenaran di hadapan monopoli kekuasaan.
Menurut Said, intelektual ideal merupakan pihak luar yang memilih tidak terikat pada institusi, sekte keagamaan, maupun partai politik agar pemikirannya tetap independen. Penulis terkenal Orientalisme itu menyebut intelektual sebagai saksi keadilan dan agen yang mewakili kelompok tertindas.
Hal senada juga disampaikan Julien Benda (1867–1956) yang mengibaratkan intelektual sebagai penjaga nilai universal. Dalam bukunya The Treason of the Intellectuals, ia menegaskan bahwa intelektual sejati harus mempertahankan nilai keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pidato Bung Hatta berjudul Tanggung Jawab Moril Kaum Intelegensia yang disampaikan pada 1957.
Mimpi Kaum Demonstran
Mahasiswa yang turun ke jalan untuk memperjuangkan aspirasi dapat dilihat dari tiga sisi sekaligus, yakni sebagai intelektual kampus, ideolog, dan aktivis sosial.
Dalam sejarah dunia, gerakan mahasiswa dan pelajar kerap bergerak dari basis intelektual menuju aktivisme sosial pada berbagai peristiwa penting. Di antaranya Gerakan 4 Mei 1919 di Tiongkok yang menentang Perjanjian Versailles, protes global Mei 1968 terhadap Perang Vietnam, hingga gerakan mahasiswa yang berujung pada runtuhnya Orde Lama tahun 1966 dan Reformasi 1998.
Karena itu, memahami tiga elemen kunci demonstran menjadi penting. Dalam diri mereka semestinya terhimpun kapasitas sebagai pakar, ideolog, dan aktivis.
Sebagai pakar, mereka memiliki data, kajian akademis, analisis kebijakan, dan landasan empiris. Tanpa pakar, demonstrasi akan kehilangan basis argumen objektif.
Sebagai ideolog, mereka memberikan arah moral, visi dasar, filosofi, serta narasi perjuangan. Tanpa ideolog, gerakan akan kehilangan ruh dan kompas moralnya.
Sementara sebagai aktivis, mereka bertugas menggerakkan, memobilisasi massa, menyusun strategi lapangan, hingga membangun tekanan politik di ruang publik.
Kesimpulannya, demonstrasi akan berjalan baik apabila ditopang tiga elemen utama: pakar-intelektual, ideolog, dan aktivis penggerak. Ketiganya harus tetap berpegang pada inti perjuangan, mengedepankan kebenaran, serta berbasis data yang akurat dan rasional.
Itulah rambu-rambu disiplin agar gerakan tidak disusupi penumpang gelap yang memicu kerusuhan. Jika tiga elemen tersebut diabaikan, demonstrasi hanya akan menjadi mimpi kaum demonstran. Wallahu a’lam.(***)
Editor : Novitri Selvia