Kenapa Kita Gampang Meneruskan Pesan yang Belum Tentu Benar

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 06:44 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Diego - Dosen Ilmu Komunikasi Unand

Pola kedekatan digital terbelah dua, tergantung usia. Generasi lebih tua umumnya menerima informasi lewat grup WhatsApp keluarga atau alumni. Karena sumbernya dikenal baik, informasi itu langsung terasa aman untuk diteruskan didorong niat baik: ingin orang terdekat juga tahu lebih awal. Sayangnya, niat baik ini jarang dibarengi kebiasaan mengecek ulang sebelum menekan “teruskan”. Generasi muda justru sebaliknya. Riset literasi digital Kominfo mencatat indeks literasi digital mereka lebih tinggi dibanding generasi tua tercermin dari kebiasaan mengecek sumber lain sebelum percaya, apalagi membagikan. Bukan berarti mereka kebal dari pengaruh influencer atau algoritma. Tapi soal verifikasi sebelum menyebarkan, mereka jauh lebih waspada. Dua pola ini menunjukkan satu hal yang sama: yang menentukan apakah sebuah informasi dipercaya bukan soal siapa yang datanya lebih lengkap, melainkan siapa yang menyampaikannya, dan seberapa dekat sosok itu dengan dunia yang kita ikuti setiap hari di layar ponsel.

Bukan sekadar Percaya atau tidak Percaya

Keputusan menerima atau menolak sebuah kabar jarang benar-benar didasarkan pada fakta baru. Yang lebih menentukan adalah seberapa cocok informasi itu dengan keyakinan yang sudah lebih dulu tertanam di kepala seseorang. Sebuah kabar akan makin dipercaya bukan karena sumbernya kredibel, tapi karena sudah berkali-kali muncul di linimasa efek pengulangan yang dalam literatur komunikasi dikenal sebagai salah satu mekanisme paling kuat di balik penyebaran misinformasi. Ada tiga hal yang paling sering menentukan bagaimana seseorang akhirnya percaya atau tidak: seberapa banyak konten senada yang ia temui, sikap keluarga, dan sosok yang dianggap panutan. Semakin sering seseorang melihat narasi yang sama, semakin besar pula ia meyakininya terlepas dari benar atau tidaknya narasi itu.

Ada satu pola lagi yang cukup umum terjadi: banyak orang menyimpan keraguan mereka sendiri. Ketika menemukan informasi yang mereka curigai keliru, mereka jarang meluruskannya secara terbuka di ruang publik kecuali informasi itu datang dari keluarga sendiri. Kebanyakan memilih diam, menyimpan keyakinan itu untuk diri sendiri, sambil menghindar setiap kali diajak berdiskusi soal isu yang sedang ramai. Padahal, keraguan yang disuarakan justru bisa menjadi rem sosial yang menahan sebuah misinformasi sebelum menyebar lebih jauh, hanya saja rem itu jarang diinjak.

Ketika Media Ikut Menjadi Bagian dari Masalah

Sebagian akun media masih kerap mengutip sumber dengan kredibilitas yang patut dipertanyakan. Ketika sebuah berita bersumber dari tempat yang tidak jelas dan click bait, semestinya berita itu ditinggalkan bukan justru dibagikan berulang kali karena dianggap menarik perhatian dan mendatangkan trafik. Media, yang seharusnya menjadi penjaga gerbang informasi, justru ikut terjebak dalam logika yang sama dengan pengguna biasa: mengejar apa yang cepat dipercaya, bukan apa yang benar-benar terverifikasi. Ironinya, konten yang paling banyak dicari masyarakat biasanya justru konten yang paling menakutkan. Alih-alih menjawab rasa ingin tahu itu dengan informasi yang berimbang, banyak media memilih menonjolkan sisi negatifnya saja karena itu yang paling banyak diklik. Padahal yang sebenarnya dicari masyarakat bukan alasan untuk takut, melainkan cara untuk merasa aman. Selama logika trafik ini yang menentukan apa yang layak diberitakan, media akan terus kalah bersaing dengan sumber-sumber personal yang terasa lebih menenangkan, meski belum tentu lebih benar.

Ruang Kosong yang Terus Diisi

Pola-pola ini semakin penting dibicarakan justru sekarang, ketika lanskap informasi jauh lebih rumit dibanding beberapa tahun lalu. Konten yang dihasilkan kecerdasan buatan kini bisa meniru gaya bicara, wajah, bahkan suara seseorang dengan sangat meyakinkan. Rasa percaya yang dulu dibangun lewat kedekatan pada figur publik sekarang bisa dengan mudah dimanipulasi, bahkan tanpa figur itu benar-benar terlibat. Algoritma media sosial pun semakin cakap menyodorkan konten yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini sebelumnya, membuat efek pengulangan tadi bekerja semakin kuat dan semakin sulit disadari.

Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah, media arus utama, bahkan lembaga-lembaga resmi sepenuhnya pulih di banyak tempat. Inilah akar persoalan sebenarnya: ketika institusi kehilangan otoritasnya untuk meyakinkan, masyarakat tidak berhenti mencari jawaban. Mereka hanya memindahkan kepercayaan itu ke sumber lain yang terasa lebih personal, grup keluarga untuk sebagian orang, figur publik untuk sebagian lain. Efek pengulangan di linimasa memperkuat pola ini, membuatnya makin sulit disadari oleh yang mengalaminya sendiri. Selama ruang kepercayaan yang ditinggalkan institusi tidak pulih, pola ini akan terus berulang, hanya dengan wajah dan platform yang berbeda setiap kali. Yang kita butuhkan bukan sekadar lebih banyak informasi yang benar, karena informasi yang benar pun sering kali sudah tersedia. Yang lebih kita butuhkan adalah kemampuan untuk berpikir sebelum memutuskan percaya, mempertanyakan dari mana sebuah kabar berasal, dan berani menyuarakan keraguan itu secara terbuka bukan hanya menyimpannya sendiri. Institusi mungkin butuh waktu lama untuk memperbaiki kepercayaan yang sudah telanjur retak. Tapi kita tidak perlu menunggu itu selesai untuk mulai lebih hati-hati sendiri—cukup dengan berhenti sebentar sebelum menekan tombol “teruskan”, dan berani bertanya ke orang yang mengirimkannya: dari mana ini kamu dapat? (*)

Editor : Adriyanto Syafril
opini Opini Padek