Fatamorgana Damai di Padang Perang

Shofwan Karim • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 12:40 WIB
Shofwan Karim
Shofwan Karim

 

Oleh: Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

PADEK.JAWAPOS.COM-Damai adalah kata yang indah sekaligus rapuh. Ia menyerupai fatamorgana di padang pasir: tampaknya ada dari kejauhan, tetapi ketika didekati, lenyap tanpa jejak.

Pertanyaan yang terus bergema hari ini ialah, apakah perdamaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mungkin tercapai, ataukah ia sekadar halusinasi kolektif dunia yang letih oleh perang?

Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 kini memasuki hari ke-148. Eskalasi naik turun menyerupai ombak yang menghantam sabut terapung: kadang tenang, kadang menggila.

Serangan udara, kebuntuan diplomasi, dan ancaman terhadap jalur minyak global menjadikan perdamaian bukan sekadar isu regional, melainkan persoalan eksistensial umat manusia. Dunia berharap damai itu hadir, tetapi kenyataan masih menunjukkan bayang-bayang perang yang panjang.

Data lapangan menunjukkan betapa perang ini telah menelan korban besar. Israel mengakui bahwa pesawat pembom Amerika Serikat menggunakan pangkalan udaranya untuk menyerang Iran.

Dari pihak Iran, lebih dari 350 pegawai pemerintah tewas akibat serangan Amerika Serikat-Israel. Secara keseluruhan, lebih dari 2.100 warga sipil dilaporkan tewas di berbagai wilayah Timur Tengah, sementara total korban jiwa, baik militer maupun sipil, diperkirakan mencapai antara 7.144 hingga 9.676 orang.

Mereka bukan hanya tentara, melainkan juga insinyur, teknisi listrik, dokter, dan perawat, orang-orang yang menjaga denyut kehidupan masyarakat.

"Mulai dari insinyur yang mengorbankan nyawanya di atas menara BTS hingga para dokter dan perawat yang berdedikasi," ujar juru bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani. Pernyataan ini menegaskan bahwa perang modern tidak lagi membedakan antara kombatan dan warga sipil.

Serangan balasan Iran menargetkan pangkalan Amerika Serikat di Yordania. Rudal balistik diluncurkan, namun berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Patriot. Meski tidak menimbulkan korban langsung, peristiwa ini menunjukkan kesiapan Iran memperluas cakupan konflik.

Negara-negara Teluk seperti Kuwait dan Bahrain pun ikut terseret dengan melancarkan serangan udara balasan. Perang ini bukan lagi duel dua negara, melainkan pusaran yang melibatkan banyak aktor regional.

Politik selalu menjadi panggung di balik dentuman senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan kembali melakukan pertemuan rahasia dengan Presiden Donald Trump di Washington.

Tekanan internal juga muncul. Ratusan mantan pejabat Israel mendesak Netanyahu untuk meredakan ketegangan. Namun, Trump justru mengancam akan menargetkan Gunung Pickaxe dan infrastruktur sipil Iran jika kesepakatan damai gagal. Di sisi lain, diplomasi tetap berusaha mencari celah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengenai upaya membuka kembali Selat Hormuz. Oman bahkan mengajukan proposal untuk mengelola jalur strategis itu bersama Iran dengan sistem biaya sukarela yang mirip dengan praktik di Selat Malaka.

Namun, Amerika Serikat menolak keras gagasan tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur internasional yang harus bebas dari kontrol Iran.

Perang ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengguncang perekonomian dunia. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Ketika Iran menutup akses pada Februari lalu, harga minyak melonjak. Namun, setelah Amerika Serikat menghentikan kampanye pemboman pada akhir Juli, harga minyak justru anjlok sekitar 8 persen dan Brent crude futures turun hingga di bawah 84 dolar AS per barel.

Fluktuasi ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global yang bergantung pada keamanan jalur energi. Bagi Indonesia, dampak langsung terasa pada nilai tukar rupiah yang tertekan akibat ketidakpastian harga minyak. Ketergantungan pada impor energi membuat setiap gejolak di Teluk Persia menjadi ancaman bagi stabilitas fiskal nasional.

Secara ideal, damai adalah cita-cita universal yang melampaui batas negara dan agama. Namun, sejarah menunjukkan bahwa damai sering kali lahir dari keseimbangan kekuatan, bukan dari niat baik semata.

Thomas Hobbes pernah menulis tentang bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua), dan hanya kontrak sosial yang dapat menghentikannya. Dalam konteks perang Amerika Serikat-Iran, kontrak sosial itu berupa kesepakatan diplomatik yang menjamin keamanan bersama.

Namun, apakah kontrak itu mungkin terwujud? Ketika Trump menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, ia sebenarnya sedang menutup pintu kompromi.

Iran, di sisi lain, menolak negosiasi baru dengan Amerika Serikat karena menuduh Washington telah melanggar kesepakatan sebelumnya. Maka, damai menjadi paradoks. Semua pihak menginginkannya, tetapi syarat-syarat yang diajukan justru membuatnya sulit diwujudkan.

Dari layar buram itu, damai dapat digambarkan sebagai fatamorgana di padang pasir Timur Tengah. Ia tampak berkilau di kejauhan, tetapi ketika didekati, hanya pasir panas yang tersisa.

Dunia internasional, seperti musafir yang kehausan, terus mengejar bayangan itu. Setiap kali ada gencatan senjata, harapan muncul. Namun, segera setelah itu, rudal kembali meluncur dan bayangan damai pun lenyap.

Kenyataan ini menegaskan bahwa damai bukan sekadar kata indah, melainkan proses panjang yang membutuhkan keberanian moral. Tanpa keberanian untuk mengakui kesalahan, tanpa kesediaan untuk menahan ego politik, damai akan tetap menjadi halusinasi.

Apakah damai itu mungkin atau hanya halusinasi? Jawabannya bergantung pada kesediaan para aktor utama untuk menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik.

Data menunjukkan korban sipil terus berjatuhan, harga minyak dunia berfluktuasi, dan diplomasi tersendat oleh ego masing-masing pihak. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa bahkan di tengah perang paling gelap, secercah damai dapat lahir.

Perjanjian Camp David, Kesepakatan Oslo, maupun berbagai gencatan senjata sementara dalam sejumlah konflik menunjukkan bahwa damai bukan sesuatu yang mustahil. Ia mungkin rapuh, mungkin sementara, tetapi tetap lebih nyata daripada halusinasi.

Maka, tugas kita sebagai umat manusia adalah terus memperjuangkan damai, meski ia tampak seperti fatamorgana. Sebab, tanpa damai, dunia hanyalah padang pasir yang kering, penuh dentuman senjata, dan kehilangan makna kemanusiaan. Wallahu a'lam.(***)

 

Editor : Novitri Selvia
Fatamorgana Damai Shofwan Karim selat hormuz Abbas Araghchi