Awalnya Santi diajak tinggal di rumahnya oleh Sinta di suatu kompleks perumahan di Padang. Waktu itu Santi masih kuliah, sementara Sinta sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sedang suaminya Santo seorang wirawasta.
Mereka sudah punya anak satu usia 1 tahun. Karena repot mengurus anak sambil kerja Sinta meminta Santi tinggal di rumahnya, menjaga anaknya ketika ia pergi bekerja. Santi mau-mau saja. Kasihan juga sama kakaknya yang kerepotan mengurus anak sambil bekerja. Apalagi Santi dijanjikan uang jajan yang lumayan per bulan.
“Okey kak, saya mau,” kata santi. Seminggu kemudian ia sudah nongol di rumah kakaknya itu. Santi yang suka anak-anak cepat akrab dengan ponakannya itu. Bocah perempuan yang lucu dan penurut. Karena santi sudah semester akhir, kuliah agak longgar jadi waktunya lebih banyak di rumah daripada di kampus.
Tiga bulan sudah santi menjadi “baby sister” ponakannya sendiri. Tak ada kendala berarti baginya. Selain menjaga si kecil kadang Santi juga bantu-bantu masak dan cuci baju. Walau tak disuruh kakaknya namun karena tangan tak bisa diam Santi enteng saja mengerjakannya.
Ia agak berbeda dengan anak zaman now yang senang main hape berjam-jam, Santi justru sebaliknya. Hobinya beres-beres dan memasak. Masakannya lebih enak dari masakan kakaknya, Sinta.
Melihat kelebihan Santi, Santo jadi kagum. Awalnya ia menganggap Santi seperti adik kandungnya. Namun lama-lama ada benih-benih cinta di hatinya. Ia ternyata mendua hati tanpa disadari.
Sebenarnya Santo bukanlah lelaki mata keranjang, tapi setiap hari melihat Santi imannya goyah. Saat melihat adik iparnya itu pakai baju minim darahnya tersirap. Setan pun menggodanya. “Amboy, indah sekali,” bisik hatinya.
Sejak saat itu ia sering ngintip-ngintip Santi di kalau sedang beres-beres. Sampai di situ, sang adik ipar yang manis tidak mengetahui gelagat kakak si ipar. Di mata Santi, Santo pria sejati.
Setia pada istri. Tidak pernah kasar pada wanita. Kalem dan tak banyak tingkah. Sayang pada anak dan mau membantu kalau sedang beres-beres rumah. Santi sudah menganggapnya kakak sendiri.
Kalau mau jujur, karena saban hari ketemu, ia merasa ada rasa kagum di dalam lubuk hatinya. Namun perasaan itu dia buang jauh-jauh. Tak mau mengkhianati kakak kandungnya sendiri yang sudah punya anak dengan lelaki itu.
Sampai suatu hari, Santi terpeleset di kamar mandi. Spontan ia berteriak. Kebetulan waktu itu ada Santo di rumah, Sinta masih di kantornya. Mendengar teriakan itu, refleks Santo berlari ke kamar mandi. Ingin membantu.
Saat itu, rupanya Santi habis mandi. “Kenapa Santi?” tanya Santo sudah berada di pintu kamar mandi.
“Kepeleset Bang,” jawabnya, meringis mencoba berjalan. Tapi ternyata kakinya keseleo.
“Kakinya keseleo, sakit ya?” kata Santo seraya memegang kaki Santi yang saat itu masih pakai handuk saja. Sadar dengan kondisi itu, Santi segera menepis tangan Santo.
“Gak apa-apa Bang,” ucapnya melangkah pelan-pelan menuju kamarnya. Namun baru saja menginjakkan kaki ke lantai ia terjatuh, tepat di hadapan Santo. Dengan sigap lekaki itu menangkap tubuhnya.
“Tuh, kan gak bisa jalan, mari Abang bantu,” kata Santo, masih ragu-ragu melanjutkan aksinya. Kali ini Santi pasrah. Berdoa tidak akan terjadi apa-apa. Ya, doanya terkabul tak terjadi apa-apa di hari itu.
Namun kejadian itu awal petaka rumah tangga kakaknya. Melihat Santo yang berusaha menjaga jarak dengannya, Santi pun bersikap sama. Sering pura-pura dan menipu diri.
Tapi hanya beberapa minggu terbelenggu keadaan itu.
Santo rupanya tak tahan juga menahan perasaan. Kali ini ia mencari akal untuk menarik perhatian Santi. Suatu hari ia pulang langsung mengunci diri di kamar. Kemudian terdengar benda jatuh yang mengagetkan Santi.
Santi pun penasaran. “Apa yang jatuh Bang,” teriaknya dari luar. Namun sejurus lamanya tak ada jawaban. Santi kian penasaran. Refleks ia menggedor pintu dengan kencang. Lalu… Pas pintu terbuka tubuh Santi jatuh ke pelukan Santo. Kali ini mereka tak bisa menipu diri lagi.
Sejak saat itu mereka sembunyi-sembunyi merajut cinta terlarang. Memang perbuatan mereka belum melanggar batas. Mereka berdua sama-sama berpendidikan. Masih bisa mengendalikan diri. Tapi yang mereka tak bisa menghapus perasaan cinta yang makin menggelora.
Sehingga mereka berdua menghadap Sinta mengakui segalanya dan sejujur-jujurnya. Hati Sinta pun hancur berkeping-keping. Dunia serasa gelap baginya. Ia cinta suaminya dan sayang pada adiknya. Lama ia berpikir jalan mana yang harus diambil.
Akhirnya mengambil keputusan yang tak biasa. Tak akan bisa perempuan manapun menjalaninya dengan hati ikhlas. Tapi ia sudah terlanjur berjanji pada dirinya tak akan menyakiti siapapun. Biarlah dia yang sakit. Maka ia pun rela dimadu dengan adik kandungnya sendiri. (Suryani) Editor : Novitri Selvia