Deden, satu diantara calon anggota legislatif (caleg) yang gagal lolos sebagai anggota legislatif. Sehari-hari, dia bekerja sebagai sales produk perlengkapan rumah tangga.
Di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 ini, Deden mencoba peruntungan untuk bersaing sebagai calon anggota legislatif di tingkat kota. Namun sayang, Deden gagal terpilih.
Saat masa kampanye dulu, Deden rajin berkeliling dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Dengan senyum mengembang, bersalaman dengan warga, dan berjanji akan memperjuangkan nasib mereka jika terpilih. Janji yang kini terasa pahit di lidahnya.
Deden telah menghabiskan seluruh tabungannya untuk kampanye. Dia menyewa mobil, mencetak poster, menggelar acara syukuran dan tak lupa bagi-bagi sembako. Semua dilakukan demi meraih suara terbanyak. Namun, perhitungan suara berkata lain. Deden hanya berada di peringkat bawah, jauh dari ambang batas perolehan suara yang dibutuhkan untuk duduk di kursi legislatif.
”Deden, kenapa melamun saja?” tegur Pak Tua (bukan nama sebenarnya), pemilik warung saat menyodorkan segelas teh manis.
Deden tersentak, lalu tersenyum getir. ”Ini Pak, lagi mikirin nasib. Habis modal, tapi nggak duduk,” kata Deden. ”Ya sudahlah. Rezeki sudah ada yang ngatur. Yang penting kita sudah berusaha,” tuturnya.
Deden mengangguk pelan. Pak Tua benar. Namun, kenyataan tetap terasa pahit. Ia harus kembali menjadi sales agar dapur bisa terus mengepul.
Deden lalu menghabiskan teh manisnya. Setelah itu pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan masa depannya yang tak menentu. Sesampainya di rumah, ia disambut tatapan cemas istrinya, Rika (bukan nama sebenarnya).
Ia tak kuasa menatap mata istrinya yang penuh harap. Ia tahu istrinya sangat mendukungnya terjun ke dunia politik. Bahkan emas istrinya ludes terjual untuk membiayai kampanyenya.
Istrinya terdiam sesaat, lalu mengelus bahu Deden. “Nggak apa-apa, Mas. Yang penting Mas sudah berusaha. Kita mulai lagi dari awal, ya?”
Deden memeluk erat istrinya. Ia bersyukur memiliki istri yang selalu setia mendampinginya. Keesokan harinya, Deden memberanikan diri menemui manager tempat ia bekerja dulu. Ia berharap bisa kembali bekerja sebagai sales produk perlengkapan rumah tangga.
”Maaf, pak. Kemarin, saya mengundurkan diri karena ikut nyaleg. Saya mau kerja lagi pak. Apakah masih ada lowongan?” kata Harun dengan nada merendah.
Di tempat kerjanya, Deden tercatat sebagai sales dengan penjualan terbaik. Target penjualannya selalu tercapai. Bahkan melebihi target. Hampir setiap bulan ia menerima bonus.
“Maaf Deden, saat ini tidak ada lowongan. Posisimu sudah diisi orang lain. Sekarang anggota kita sudah penuh,” jawab sang manager.
Pupus sudah harapan Deden. Ia tak bisa lagi kembali bekerja. Dengan langkah gontai, ia pamit pulang. Kepalanya tertunduk lesu.
Setiba di rumah Deden langsung menuju kamarnya. Istrinya lalu menghampiri Deden yang sedang berbaring. Ia tahu suaminya sedang putus asa. Ia terus memberikan semangat. Mengajaknya berdiskusi.
“Mas, kita kan punya lahan? Bagaimana kalau kita coba tanami dengan sayur-sayuran? tanya istrinya.
Deden tersentak. ”Tapi kita nggak punya modal. Semua sudah habis terjual. Bibit, pupuk dan lainnya darimana? Jawab Deden. Istrinya tersenyum. ”Kita coba pinjam ke tetangga atau koperasi,” tuturnya.
Deden terdiam, menimbang-nimbang usul istrinya. Ia sadar. Ia tak bisa terus larut dalam kekecewaan. Ia harus bangkit dan mencari jalan keluar.
Deden akhirnya setuju dengan usul istrinya. Mereka meminjam modal dari tetangga. Lalu membeli bibit dan pupuk secukupnya. Deden mulai bercocok tanam. Ia bertanam cabai dan bawang merah. Kini Deden tak lagi memikirkan kursi legislatif yang gagal diraihnya.
Hari-hari Deden diisi dengan kesibukan mengurus lahan. Meski awalnya terasa berat, perlahan mereka mulai terbiasa. Setiap hari mereka bekerja, saling bahu membahu.
Beberapa bulan kemudian, lahan Deden mulai menunjukkan hasil. Ia memanen cabai dan bawang. Lalu menjualnya. Meski keuntungan yang didapat tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Deden sadar, kegagalannya menjadi caleg bukanlah akhir segalanya. Ia belajar bahwa hidup harus terus dijalani dengan semangat dan kerja keras.
Ia bersyukur memiliki istri yang selalu mendukungnya, dan tetangga yang baik hati. Dan kini Deden punya jabatan baru. Ia ditunjuk sebagai ketua kelompok tani di kampungnya. (eri)
Editor : Adetio Purtama