Orangnya parlente. Gagah. Tak sedikitpun orang akan menyangka bahwa ia sebenarnya seorang paranormal.
“ Mohon, jangan sebut saya dukun. Saya hanya orang biasa.Kebetulan mendapat anugerah dariNya untuk sedikit mengetahui dunia-dunia tersembunyi.Dunia orang halus. Tapi, jangan panggil saya dukun !”, kata sumber ini.
”Kami, harus memanggil uda dengan apa?” kata Tim Penjelajah Malam Padang Ekspres Ahad.
”O tunggu dulu, umur sanak berapa?,” lalu kami menjawab sebuah angka.
”Kalau begitu, sepangkat kita. Seumur kita. Sebut nama sajalah sanak !” jawabnya.
Hahahaha.
”Saya ingin bercerita dengan sanak….,” ia bakar rokoknya, ia cacar kopi di sebuah kadai kawa daun di antara jalan Bukittinggi-Payakumbuh.
”Ambo ini memang bukan orang santiang sanak, tapi ambo tahu!” ia mengangguk-angguk bentuk orang ke iya.
”Lai tahu sanak?” Kami serentak menggeleng: “ Indak !”
”Makonyo sanak, lawik sati rantau batuah.Gunuang tinggi, bukik randah. Carito ko bukan kuah-kuah. Carito ko bukan samato carito iyo carito antah…danga se dek sanak dih!”
”Sanak tahu kan Ngarai Sianok?” Kami mengangguk.
”Apa itu ngarai sianok?” Ditanya begitu, lekas-lekas kami membuka google. Kuncinya:
”Ngarai Sianok”.
”Baiklah,” kata kami. ”Ini versi Wikipedia….”. Ia diam.
”Boleh kami bacakan?” Ia mengangguk.
Menurut Wikipedia Ngarai Sianok sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan Kota Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan Ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku dan berakhir di Kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok dalam jurangnya sekitar 100 m. Membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m.
Ia merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatra menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih.
Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.
”Alah?” tanyanya, kami mengangguk.
”Itu versi logika namanya. Itu versi ilmiah!” kemudian ia diam. ”Yang hendak saya sampaikan ke sanak adalah ngarai sianok versi dunia lain,” ujarnya.
Kami diam. Kami ingin benar tahu, dunia lain maksudnya ini apa?
”Sanak, hamparan dasar dan sudut ujung ngarai Sianok itu kiramaik tu sanak. Sati itu. Di situ kerajaan jin bersijadi-jadi. Peradaban tinggi kerajaan jin dunia, ya di Ngarai Sianok itu,” katanya.
Ia berkisah, dunia jin dengan dunia manusia itu mirip. Kita punya pasar, ia juga punya pasar. Kita punya sekolah, ia juga punya sekolah. Kita punya rumah, ia juga punya rumah.
”Lai tahu sanak, kerajaan jin Ngarai Sianok itu adalah tempat jin-jin pintar berkumpul. Bahkan, bunyi kabar sanak, perguruan jin paling top dan paling tinggi se alam nusantara ini ada di Ngarai Sianok !” katanya.
”Pandangan bathin ambo mancaliak takah itu sanak,” ujarnya.
”Apa sanak pernah mendengar pula tentang adanya kerajaan tuyul di Ngarai Sianok?”.
Kami menggeleng.
”Banyak ruponyo nan indak sanak ketahui yo,” ia bergumam sendiri. ”Ia menekankan, di Ngarai Sianok itu ada universitas jin terkemuka…” Kami tertawa.
”Mungkin sanak merasa ini bergarah…tapi itu terserah sanak,” katanya ! (tim) Editor : Novitri Selvia