Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Edukasi Bahaya Boraks terhadap Kesehatan dan Pembuatan KIT Kertas Kunyit sebagai Pendeteksi awal Makanan Mengandung Boraks pada SMP Kartika 1-7 Padang

Adetio Purtama • Senin, 18 November 2024 | 11:31 WIB
Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Prodi Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) memberikan edukasi kepada siswa SMP Kartika 1-7 Padang.
Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Prodi Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) memberikan edukasi kepada siswa SMP Kartika 1-7 Padang.

PADEK.JAWAPOS.COM—Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Studi (Prodi) Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sukses memberikan edukasi kepada siswa SMP Kartika 1-7 Padang.

Pengmas yang dilaksanakan 6 November 2024 lalu itu membahas tentang edukasi terkait Bahaya Boraks terhadap Kesehatan dan Pembuatan Kit Kertas Kunyit sebagai Pendeteksi Awal Makanan Mengandung Boraks.

Sekolah SMP Kartika I-7 Padang terpilih sebagai tempat kegiatan pengmas karena termasuk dekat dengan Fakultas Kedokteran dan siswa di sana menyukai jajanan olahan, serta banyak pedagang bakso yang berjualan di sekitar luar sekolah.

Pengmas diketuai Dra. Elmatris Sy, MS dan Wakil Ketua Dr. Almurdi, M.Kes. Narasumber pada kegiatan itu adalah dr. Rauza Sukma Rita, PhD yang memberikan penyuluhan tentang bahaya boraks terhadap kesehatan dan Dra. Elmatris Sy, MS terkait pembuatan kit kertas kunyit sebagai pendeteksi awal makanan yang mengandung boraks.

Kegiatan pengmas ini juga dihadiri Dr. Dessy Arisanty, M.Sc selaku Ketua Program Studi, serta dosen-dosen Prodi Ilmu Biomedis Program Sarjana. Di antaranya Dr. Endrinaldi, MS, Dra. Dian Pertiwi, MS, Dr. Hasmiwati, M.Kes, dr. Aswiyanti Asri, M.Si. Med, Sp.PA(K), dr. Mohamad Reza, PhD, Drs. Julizar Nazar, M.Kes, Apt, Dr. Adrial M.Kes, Dr. Elly Usman, apt, MSi, Prof. Dr. Nuzulia Irawati, MS, Dra. Yustini Alioes, Apt, M.Si, dr. Rahmatini, M.Kes, Dra. Erlina Rustam, Apt, MS, Nia Ayuni Putri, S.Si, M.Biomed.

Kegiatan ini juga dibantu oleh mahasiswa dan Laboran Program Studi Ilmu  Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Ketua Tim Dra. Elmatris Sy, MS mengatakan, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun konsumen.

Penggunaannya dapat memberikan dampak positif maupun negatif untuk masyarakat. Penyalahgunaan BTP dapat membahayakan masyarakat, terutama generasi muda.

Menurut narasumber penggunaan BTP sulit dihindari karena dapat memberikan cita rasa dan membuat pangan olahan menjadi tahan lama, sehingga sering ditemukan dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat setiap hari, khususnya pangan olahan.

Kandungan BTP pada pangan olahan, sering melebihi batas maksimum penggunaan (batas ambang). BTP yang paling sering digunakan walaupun penggunannya dilarang dalam produk pangan adalah golongan pengawet seperti formalin dan asam borat.

Asam Borat atau yang biasa dikenal dengan penamaan boraks, biasa digunakan sebagai pembersih, fungisida, herbisida dan insektisida yang bersifat toksik pada manusia.

Ia menambahkan, penggunaan boraks pada industri makanan masih banyak ditemukan seperti pada mie basah, tahu, bakso, sosis dan lainnya. Penggunaan boraks sangat berbahaya dan beracun sebagai bahan makanan, sehingga boraks sangat tidak diperbolehkan ada pada bahan baku pangan.

Pangan olahan yang sering menggunakan boraks sebagai bahan pengawet salah satunya adalah bakso. Bakso merupakan pangan olahan yang sangat banyak peminatnya terutama anak-anak dan remaja. Banyaknya peminat membuat para pedagang menggunakan boraks sebagai pengawet dengan tujuan untuk mencegah bakso menjadi rusak dan cepat basi.

Manusia yang mengonsumsi makanan mengandung boraks dapat mengakibatkan toksik (keracunan), gangguan otak, hati, lemak dan ginjal.

Gejala dapat berupa mual, muntah, diare, suhu tubuh menurun, lemah, sakit kepala bahkan dapat menimbulkan syok. Pada anak-anak dalam masa pertumbuhan, adanya bahan boraks dapat meracuni pertumbuhan sel otak hingga yang menyebabkan gangguan kecerdasan dan intelektual.

Narasumber juga mengatakan bahwa pendeteksian awal ada atau tidak adanya boraks dalam makanan dapat dilakukan dengan menotolkan bahan makanan yang telah dihaluskan (dalam bentuk cair agar mudah ditotolkan) pada kit kertas kunyit.

Pembuatan kit kertas kunyit dapat dilakukan mulai dari menyediakan kunyit, kemudian dikupas dan dipotong- potong. Timbang 100 gram kunyit, kemudian dihaluskan dengan tambahkan sedikit aquades.

Peras dan saring, setiap 5 ml cairan kunyit ditambahkan dengan 1 ml aquades. Kemudian pindahkan cairan kunyit ke piring. Sediakan kertas saring whatman 42, kemudian celupkan ke cairan kunyit.

Kertas whatman yang telah dicelupkan tadi kemudian dikeringkan, bisa dianginkan di dalam ruangan atau dengan terik matahari. Kit kertas kunyit siap digunakan.

Adanya kandungan boraks pada bahan makanan dibuktikan dengan terbentuknya warna kuning kecoklatan pada kit kertas kunyit yang telah ditotolkan bahan makan tersebut.

Hasil kegiatan menunjukan bahwa sebelum pengmas dilakukan sebahagian kecil (23,3%) atau 14 orang siswa-siswi belum pernah mendengar tentang boraks dan bahaya boraks terhadap kesehatan, namun setelah pengmas 100% siswa-siswi sudah mengetahui tentang boraks dan bahaya boraks terhadap kesehatan.

Sebelum pengmas dilakukan juga didapatkan sebagian besar (88,3%) atau 53 orang siswa-siswi tidak mengatahui cara mengidentifikasi ada atau tidak adanya kandungan boraks dalam makanan seperti bakso, namun setelah pengmas 100% siswa-siswi sudah mengetahui cara mengidentifikasi ada atau tidak adanya kandungan boraks dalam makanan seperti bakso.

Dapat disimpulkan bahwa semua siswa-siswi yang hadir dapat melakukan pendeteksian awal bahan makanan yang mengandung boraks seperti bakso.

Pengabdian Masyarakat ini terbukti sangat bermanfaat bagi siswa-siswi dan guru-guru di SMP Kartika I-7 Padang berdasarkan dari hasil survei akhir yang telah dilakukan.

Diharapkan setelah pengabdian ini dilaksanakan, siswa-siswi yang mengikuti kegiatan dapat melakukan edukasi yang sama kepada teman-temannya, agar semua siswa-siswi dapat teredukasi dengan baik. (*)

Editor : Adetio Purtama
#boraks #kunyit #Prodi Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas #KIT Kertas Kunyit #Tim Pengabdian masyarakat #FK Unand