Namun di simpang empat lampu merah Lubuk Begalung, arah menuju Indarung, aroma kenangan itu masih hidup, dijaga setia oleh para pedagang seperti Waju dan Ade.
Waju, 65 tahun, tak sekadar menjual bengkuang—ia menyimpan memori panjang tentang kejayaan buah ini.
“Sudah 40 tahun saya jual bengkuang. Dulu, orang belum lengkap ke Padang kalau belum bawa bengkuang pulang,” kenangnya.
Dahulu, Terminal Lintas Andalas menjadi pusat denyut ekonomi rakyat. Di sanalah bengkuang Padang mencapai masa keemasannya. Penumpang, wisatawan, hingga pedagang kecil menjadikannya oleh-oleh wajib. Tapi sejak terminal itu tutup, cerita berubah.
“Kami terpencar. Nggak ada lagi pusat orang cari bengkuang,” keluh Waju, yang kini berjualan di lapak sederhana di pinggir jalan.
Menurut Waju, keistimewaan bengkuang Padang terletak pada rasanya yang lebih manis, tekstur daging yang lembut, dan mudah dicerna. Bukan cuma camilan segar, bengkuang juga sering dibuat jus, rujak, bahkan dijadikan bahan perawatan kulit secara alami.
Namun, meski tak sepopuler dulu, harapan belum padam. Setiap musim libur Lebaran, penjualan melonjak tajam. Para perantau yang pulang kampung masih mencari buah ini sebagai oleh-oleh, membuktikan bengkuang Padang belum sepenuhnya dilupakan.
Ade, 55 tahun, ikut merasakan berkah momen arus balik. “Alhamdulillah sekarang memang momen Lebaran. Bisa sampai tiga karung bengkuang habis dalam sehari,” ujar Ade. Harga jualnya pun terjangkau, antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per ikat.
Ade berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk memulihkan kejayaan bengkuang.
“Kalau bisa, promosikan lagi dan sediakan tempat khusus berjualan. Biar ramai seperti dulu,” tambahnya.
Sementara itu, Eti, seorang pembeli dari Solok yang melintasi Padang dalam perjalanan ke Pesisir Selatan, memilih bengkuang sebagai buah tangan untuk keluarganya.
“Sengaja mampir beli bengkuang, rasanya khas. Buat oleh-oleh ke kampung,” tuturnya singkat.
Pernyataan Eti seakan menjadi penegasan bahwa bengkuang Padang masih menyimpan makna kultural yang kuat. Bukan sekadar buah, tapi simbol kehadiran, bukti seseorang pernah singgah di kota ini.
Hari ini, di tengah arus kendaraan dan deru pembangunan kota, para penjaja bengkuang masih bertahan. Mereka bukan sekadar pedagang, tapi penjaga tradisi. Bengkuang Padang, meski kecil dan sederhana, adalah potongan memori tentang Padang yang hangat, tentang masa lalu yang masih layak diperjuangkan.
Bengkuang Padang, dari pinggir jalan kembali ke hati masyarakat—pelan, tapi tak pernah benar-benar hilang. (cr3-faisal kamza)
Editor : Hendra Efison