Salah satu toko yang ramai dikunjungi adalah Toko Emas Murni. Hasbi, karyawan toko tersebut, menyampaikan bahwa lonjakan pembelian terjadi sejak dua hari setelah Lebaran.
“Pasca Lebaran, harga di toko kami mencapai Rp4.350.000. Namun, pembeli tetap datang. Mereka membeli bukan hanya untuk perhiasan, tapi juga untuk investasi,” ujar Hasbi.
Ia menambahkan bahwa masyarakat kini semakin sadar akan pentingnya menabung dalam bentuk emas.
“Banyak orang yang mulai menganggap emas sebagai aset stabil di tengah ketidakpastian ekonomi. Mereka percaya emas bisa menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Hasbi juga menyebut faktor psikologis turut memengaruhi keputusan membeli emas. Menurutnya, Lebaran menjadi momen spesial untuk memberikan hadiah emas kepada orang tercinta.
“Emas itu bukan sekadar barang, tapi simbol kasih sayang dan penghargaan,” tambahnya.
Fenomena serupa juga terlihat di kawasan Singgalang. Andri, pedagang emas di sana, menyatakan bahwa harga emas memang sedikit melemah setelah Lebaran, namun animo masyarakat tetap tinggi.
“Harga turun sekitar Rp50 ribu per gram dibandingkan saat puncak Lebaran. Sekarang harga emas di Singgalang berkisar Rp3.250.000 per emas,” kata Andri.
Menurutnya, penurunan harga justeru menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. “Meski tidak sebanyak saat harga di puncaknya, pembeli tetap berdatangan. Mereka melihat emas sebagai bentuk investasi aman dan tahan inflasi,” tutup Andri.
Fenomena tingginya minat beli emas di tengah harga yang melambung ini mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya instrumen investasi yang stabil. Di tengah fluktuasi ekonomi dan nilai tukar, emas tetap menjadi pilihan favorit untuk melindungi aset jangka panjang.(shy)
Editor : Hendra Efison