Menurut Sudirman, dua komoditas yang paling memberatkan saat ini adalah beras dan cabai merah. Kedua bahan pokok ini mengalami kenaikan cukup signifikan dan langsung memengaruhi ongkos produksi harian. “Beras sekarang naik lagi, cabai juga sangat mahal,” ujarnya saat ditemui, Senin (27/10).
Meskipun harga bahan baku meningkat, Sudirman mengaku belum berani menaikkan harga jual nasi bungkusnya. Ia khawatir, keputusan itu akan membuat pelanggan yang sebagian besar merupakan pekerja harian keberatan dan beralih ke tempat lain. “Kalau dinaikkan, nanti pembeli kabur,” katanya dengan nada berat.
Ia menjelaskan, harga cabai merah kini melonjak tajam hingga mencapai Rp80 ribu per kilogram, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp50 ribu. Kondisi ini membuatnya harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk kebutuhan memasak setiap harinya.
“Kalau cabai merah, paling terasa. Karena dalam satu hari saya biasanya butuh sekitar lima kilogram cabai merah,” jelas Sudirman.
Dengan perhitungan tersebut, jika sebelumnya ia hanya mengeluarkan sekitar Rp250 ribu per hari, kini ia harus menanggung biaya hingga Rp400 ribu hanya untuk pembelian cabai merah.
Selain cabai, harga beras juga naik sekitar Rp1.000 per kilogram, namun menurut Sudirman, dampaknya tidak sebesar lonjakan harga cabai. Meski begitu, akumulasi kenaikan beberapa bahan pokok tetap membuat margin keuntungannya semakin menipis.
“Kenaikan ini langsung terasa di dapur. Keuntungan makin kecil, tapi mau bagaimana lagi, kalau harga jual dinaikkan, pembeli berkurang,” ujarnya.
Sudirman yang telah berjualan nasi bungkus selama hampir 10 tahun terakhir, mengaku situasi kali ini termasuk yang paling berat ia rasakan. Ia berharap, pemerintah dapat segera mengendalikan harga bahan pokok, terutama cabai merah yang menjadi salah satu kebutuhan utama bagi para pedagang makanan. “Harapan saya, harga cabai cepat turun. Kalau terus seperti ini, susah bertahan,” tutupnya. (cr6)
Editor : Adetio Purtama