Kehadiran museum ini dinilai menjadi langkah visioner Pemerintah Kota Padang dalam menjaga jejak masa lalu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi masa kini dengan cara yang menarik dan edukatif.
Museum ini berlokasi di Lantai 2 Gedung Balai Kota Lama, Pasar Raya Padang. Gedung tersebut merupakan peninggalan masa kolonial Hindia Belanda yang hingga kini tetap mempertahankan arsitektur klasiknya.
Lokasi yang strategis di jantung Kota Padang semakin memperkuat nilai historis museum ini, menjadikannya tempat ideal bagi masyarakat untuk memahami perjalanan sejarah kota dari masa ke masa.
Boby Wildan Andesko, salah seorang pengurus museum, Selasa (28/10) mengatakan, koleksi yang ditampilkan sangat beragam dan sarat makna. Pengunjung dapat menemukan lebih dari 200 lembar Staatsblad atau lembaran negara era kolonial, peta-peta historis, dokumen resmi pemerintahan, surat kabar lawas, hingga foto-foto kuno yang merekam suasana Kota Padang pada berbagai periode sejarah.
Tidak hanya itu, museum ini juga menyimpan arsip audiovisual berupa video dokumenter yang menampilkan peristiwa-peristiwa penting seperti penyerangan Loji Belanda oleh masyarakat Kuranji dan penetapan Hari Jadi Kota Padang.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan utama museum ini adalah penerapan teknologi digital interaktif. Pengunjung dapat memindai kode (barcode) yang tersedia di setiap koleksi untuk mengakses informasi kontekstual secara mendalam.
Dengan cara ini, pengunjung tidak hanya melihat benda sejarah, tetapi juga memahami cerita di baliknya melalui penjelasan digital yang menarik dan informatif.
Koleksi yang terdokumentasi di museum ini mencakup lintasan sejarah panjang, mulai dari masa kolonial Belanda, masa kemerdekaan, era Orde Lama, Orde Baru, hingga memasuki fase kontemporer yang mencatat peristiwa besar seperti bencana alam dan pandemi global.
Dengan sistem arsip digital yang tertata rapi, museum ini berhasil menyatukan unsur edukasi, teknologi, dan pelestarian budaya dalam satu ruang yang interaktif.
Sejak diresmikan, museum ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Antusiasme terlihat dari tingginya angka kunjungan, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka datang tidak hanya untuk menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga karena rasa ingin tahu terhadap sejarah kota mereka sendiri.
“Sejak dibuka, responsnya sangat baik. Kebanyakan pengunjung memang dari anak-anak sekolah dan kampus. Mereka datang untuk tugas atau sekadar ingin tahu sejarah Padang lebih dalam,” ujarnya.
Boby menyebutkan, penggunaan teknologi barcode membuat informasi lebih mudah diakses oleh pengunjung. “Dengan barcode itu, informasi jadi lebih mudah diakses dan tidak membosankan. Kami berharap museum ini terus ramai agar kesadaran sejarah di kalangan generasi muda semakin tinggi,” tuturnya.
Selain pelajar dan mahasiswa, museum ini juga menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Beberapa pengunjung dari luar daerah, seperti Bukittinggi dan Pariaman, turut datang untuk melihat langsung koleksi yang tersimpan.
Museum ini beroperasi di bawah pengawasan langsung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang, yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Dalam pengelolaannya, museum ini mengusung konsep “Belajar Sejarah dengan Cara Baru” dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendekatkan masyarakat pada arsip dan sejarah yang selama ini sulit diakses publik.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Padang dalam mendigitalisasi arsip statis dan menyiapkan pusat data sejarah kota yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat, peneliti, maupun lembaga pendidikan.
Langkah ini diharapkan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan model pelestarian sejarah yang lebih progresif dan berkelanjutan. (cr3)
Editor : Adetio Purtama