Di tengah panas yang menyengat, puluhan peladang bekerja bahu-membahu menuang adukan semen di jalan tanah yang perlahan berubah menjadi jalur beton.
Mereka datang dengan peralatan sederhana—cangkul, sekop, ember—namun dengan semangat besar. Debu, peluh, dan suara adukan semen menjadi irama khas dari sebuah kerja bersama yang lahir dari kebutuhan hidup.
“Capek iya, tapi senang,” ujar Syaiful, salah seorang peladang yang sejak pagi berada di lokasi. Wajahnya berseri meski keringat mengucur deras.
“Ini bukan sekadar membangun jalan. Ini tentang memperbaiki hidup kami, tentang anak-anak kami nanti. Kalau aksesnya bagus, hasil panen bisa cepat keluar, harga jual pun naik.”
Sebelum jalan itu dicor, medan di lereng bukit ini lebih mirip rintangan alam daripada akses ekonomi.
Jalannya berupa tanah licin dengan tanjakan curam. Setiap musim hujan, lumpur menelan ban motor dan menunda waktu panen.
“Hampir tak ada peladang yang belum pernah jatuh di jalan ini,” kata Syaiful sambil tersenyum lelah.
“Tapi sekarang, berkat dukungan dari PT Semen Padang, pelan-pelan kami bangun sendiri.”
Bagi para peladang, jalan beton ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi ekonomi. Jalan inilah satu-satunya akses menuju lahan-lahan garapan mereka yang ditanami manggis, durian, dan kopi.
Di antara ketiganya, manggis menempati posisi istimewa—buah kebanggaan yang juga jadi sumber kecemasan. Membawa manggis menuruni jalan licin adalah pekerjaan penuh risiko.
“Kalau tidak hati-hati, manggis bisa jatuh dan kelopak bunganya rusak. Kelopak itu yang menentukan kualitas super,” jelas Lamsuir Rajo Api, peladang yang turut bekerja dalam gotong royong hari itu.
Kualitas super menjadi taruhan besar. Menurut Lamsuir, harga manggis terbaik bisa mencapai Rp80 ribu per kilogram. Namun jika kelopak bunganya rusak sedikit saja, nilainya bisa anjlok drastis.
“Langsung turun jadi Rp4.000 per kilo,” katanya. “Makanya, pembangunan jalan ini sangat penting. Supaya tidak ada lagi peladang yang jatuh saat membawa manggis.”
Kini, di antara bunyi molen dan langkah kaki yang meninggalkan jejak di atas adukan basah, warga Puncak Labuang membangun lebih dari sekadar jalan beton. Mereka sedang menyiapkan jalur harapan—jalan menuju masa depan yang lebih kokoh, sebagaimana semen yang mereka tuang hari itu.(*)
Editor : Hendra Efison