Mengki Kurniawan, Lubukbegalung—
Nasri merupakan pria kelahiran Kota Padang dengan latar belakang keluarga dari Sumani, Kabupaten Solok. Dunia pendidikan bukanlah hal baru baginya. Selama 17 tahun, ia mengabdi sebagai Kepala SMP di Kota Padang, setelah sebelumnya berkarier sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Memasuki masa pensiun enam tahun lalu, Nasri tidak memilih untuk beristirahat sepenuhnya. Justru, aktivitas wirausaha yang telah ia rintis sejak tahun 2000 terus ia kembangkan hingga kini. Usaha tersebut berupa kerajinan rotan yang seluruh prosesnya dikerjakan secara manual oleh tenaga lokal.
“Awalnya saya melihat banyak anak muda yang belum punya pekerjaan. Saya pikir ini kesempatan untuk membuka lapangan kerja baru, sekaligus membantu pemerintah menurunkan angka pengangguran,” ungkap Nasri saat ditemui di tokonya, Selasa (16/12).
Saat ini, usaha kerajinan rotan miliknya mempekerjakan empat hingga enam orang karyawan. Para pekerja tersebut bertugas mengolah rotan menjadi berbagai perabot bernilai ekonomis.
Dalam proses rekrutmen, Nasri tidak membatasi latar belakang keahlian. Sebagian karyawan memang telah memiliki keterampilan dasar, namun tidak sedikit pula yang dilatih langsung dari nol hingga mahir merajut rotan.
Sistem pengupahan yang diterapkan menggunakan sistem borongan, di mana pendapatan pekerja ditentukan oleh jumlah dan jenis produk yang berhasil diselesaikan. Dari tangan-tangan terampil para pekerja ini, dihasilkan lebih dari 20 jenis produk rotan, baik yang bersifat fungsional maupun dekoratif.
Produk yang dihasilkan antara lain ayunan bayi, parsel, tudung saji, berbagai model kursi rotan, keranjang, hingga perlengkapan olahraga tradisional seperti bola takraw. Selain itu, ada pula produk unik seperti topi petani dan pemukul kasur.
“Untuk saat ini, barang yang paling banyak dicari pembeli adalah tudung saji. Mungkin karena kebutuhan rumah tangga memang tinggi,” jelas Nasri.
Dari sisi harga, produk rotan yang dijual sangat bervariasi. Barang termurah seperti parsel dibanderol mulai Rp 15.000, sementara produk dengan tingkat kerumitan tinggi seperti ayunan bayi dapat mencapai Rp 250.000 per unit. Penetapan harga disesuaikan dengan jumlah bahan rotan yang digunakan serta tingkat kesulitan pengerjaan.
Kecepatan produksi juga bergantung pada keterampilan masing-masing pekerja. Dalam satu hari, seorang karyawan dapat menyelesaikan sekitar lima keranjang atau tiga ayunan bayi, tergantung tingkat kerumitan dan kondisi kerja.
Namun, di balik ketekunan tersebut, Nasri mengakui usahanya tengah menghadapi tantangan serius. Kesulitan mendapatkan bahan baku rotan menjadi kendala utama dalam beberapa waktu terakhir. Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat disebut telah mengganggu distribusi bahan baku.
“Biasanya saya ambil rotan dari Dharmasraya, Pesisir Selatan, sampai Mentawai. Tapi belakangan ini pasokan sangat sulit. Produksi jadi terganggu dan penjualan ikut menurun,” keluhnya.
Meski demikian, kualitas produk kerajinan rotan Nasri telah mendapat pengakuan luas. Pelanggannya tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat, tetapi juga dari luar negeri, seperti Malaysia hingga Amerika Serikat.
Bahkan, sebelum Gempa Padang 2009, ia kerap menerima pesanan perabot rotan untuk hotel dan penginapan di Sumatera Barat.
Nasri membuka tokonya setiap hari, kecuali hari Jumat, mulai pukul 06.00 WIB hingga 22.00 WIB. Konsistensi dan semangatnya dalam menjalankan usaha menjadi inspirasi tersendiri, terutama bagi para pensiunan dan generasi muda.
“Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Selama masih bisa, saya ingin terus membuka peluang bagi yang membutuhkan. Rotan ini berkah, bisa jadi sandaran hidup banyak orang,” tutup Haji Nasri. (*)
Editor : Adetio Purtama