Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tokoh Adat dan Akademisi Ingatkan Bahaya Normalisasi Perilaku Menyimpang di Kalangan Gen Z

Mengki Kurniawan • Selasa, 23 Desember 2025 | 10:22 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Fenomena perilaku laki-laki kemayu dan perempuan tomboi kian sering terlihat di ruang publik maupun media sosial. Di kalangan anak muda atau Generasi Z (Gen Z), ekspresi tersebut kerap disebut sebagai gaya “slay” atau maskulin dan dianggap sebagai bagian dari tren serta bentuk ekspresi diri yang kekinian.

Namun, di balik maraknya fenomena tersebut, muncul kekhawatiran dari berbagai kalangan terkait pergeseran nilai sosial, budaya, dan agama, serta potensi dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Raisha Saubil Alvira, Psikolog yang juga merupakan bagian dari Gen Z, menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari kuatnya pengaruh lingkungan digital dan media sosial terhadap pola pikir anak muda.

“Menurut aku pribadi, ini bisa terjadi karena pengaruh lingkungan dan media sosial. Apa yang sering kita lihat dan dianggap biasa, lama-kelamaan akan masuk ke kepala sebagai sesuatu yang ‘normal’,” ujar Raisha, Minggu (21/12).

Raisha menjelaskan, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang sangat rentan terhadap pengaruh luar. Tanpa prinsip dan nilai yang kuat, anak muda mudah terbawa arus tren yang berkembang di sekitarnya. Ia juga menyoroti peran lingkungan pertemanan yang sering kali memberikan penguatan tanpa kritik.

“Dalam psikologi, perilaku yang diterima lingkungan cenderung akan terus diulang. Jadi, meskipun niatnya tidak menghakimi, kalau tanpa arahan yang jelas, justru bisa membuat perilaku itu semakin menguat,” jelasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Prof. Dr. Ir. Raudha Thaib, M.P., yang melihat fenomena tersebut dari sudut pandang adat Minangkabau. Ia menyayangkan semakin kaburnya jati diri generasi muda yang tidak lagi berpegang kuat pada nilai adat dan agama.

“Bundo takut tindakan demikian akan memperburuk moral anak muda dan mengarah kepada tindakan amoral seperti LGBT,” ungkapnya.

Menurut Bundo Raudha, nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) kini mulai luntur dalam praktik kehidupan sehari-hari dan hanya dipahami sebatas teori. Ia bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai bentuk “tsunami moral”.

Ia menyoroti melemahnya sanksi sosial dan adat yang dahulu menjadi pengontrol perilaku masyarakat, seperti pengucilan dari kaum atau lingkungan adat.

“Sekarang masyarakat cenderung abai, tidak mau peduli, dengan alasan privasi atau urusan masing-masing,” tegasnya. Ia menekankan bahwa keluarga harus kembali menjadi benteng utama, dengan peran ayah, ibu, dan mamak yang kuat dalam mendidik anak.

Dari perspektif akademik, Sosiolog Universitas Andalas Indraddin mengingatkan pentingnya kontrol sosial dalam menjaga nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ia menilai fenomena tersebut tidak boleh dianggap remeh atau dinormalisasi.

“Masyarakat dan anak muda tidak boleh menganggap normal perilaku menyimpang. Jika dibiarkan, ini berpotensi mengarah kepada lingkaran LGBT,” ujarnya.

Indraddin mendorong adanya langkah konkret melalui penguatan hukum adat dan regulasi formal. Ia mengusulkan agar aturan yang ada ditegakkan secara konsisten untuk memberikan efek jera. “Masyarakat harus berani memberikan kontrol sosial, termasuk sanksi adat, agar ada batas yang jelas,” katanya.

Dari sisi agama dan pendidikan keluarga, Kepala Legal & HRD Yayasan Darul Hikmah yang juga praktisi parenting menyampaikan keprihatinannya. Ia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membangun ketahanan keluarga dan pengasuhan berbasis nilai agama.

Ia menekankan pentingnya pengawasan pergaulan anak, pembatasan penggunaan gawai sesuai usia, serta menciptakan suasana religius di dalam rumah sebagai langkah pencegahan sejak dini.

Sementara itu, pihak keamanan juga mulai mencermati dampak sosial dari fenomena tersebut. Kasat Pol PP Kota Padang, Chandra Eka Putra mengimbau masyarakat agar tidak memberikan ruang atau panggung terhadap perilaku yang dinilai menyimpang dari norma yang berlaku.

“Jangan menormalisasi hal ini. Jika menemukan indikasi yang tidak wajar di lingkungan, segera laporkan ke lurah atau camat setempat,” imbaunya.

Kembali ke sudut pandang psikologis, Raisha mengajak anak muda untuk bersikap asertif dan kritis. Menurutnya, empati tidak berarti harus menyetujui atau menormalisasi suatu perilaku.

“Sikap paling sehat itu tidak ikut-ikutan, tapi juga tidak kasar. Kita bisa punya empati, tapi tetap punya pendirian dan batas,” jelasnya. (cr3)

Editor : Adetio Purtama
#Normalisasi #bahaya #akademisi #Gen Z #Tokoh Adat #padang #perilaku menyimpang