Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketika Galodo Batubusuk Luluhlantakkan Lahan Petani: Kehilangan Sawah dan Terlilit Utang

Mengki Kurniawan • Jumat, 2 Januari 2026 | 10:10 WIB

Tasar, petani di Batubusuk, berdiri di bekas lahan sawahnya yang rusak diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu.
Tasar, petani di Batubusuk, berdiri di bekas lahan sawahnya yang rusak diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu.
Saat sebagian besar warga Kota Padang menyambut pergantian tahun dengan sukacita, Tasar, 63, justru mengawali 2026 dengan duka mendalam. Di kawasan Batubusuk, lelaki paruh baya itu hanya bisa termenung di tepi aliran sungai yang kini menggerus habis lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup keluarganya. Seperti apa kisahnya?

Laporan Mengki Kurniawan, Pauh—

Beberapa waktu lalu, bencana galodo atau banjir bandang menerjang kawasan tersebut. Sedikitnya 2,5 hektare lahan pertanian milik Tasar hilang dalam sekejap. Lahan bertingkat yang dahulu ditanami padi, jagung, dan cabai kini berubah menjadi hamparan batu dan jalur aliran sungai baru.

Pada tumpukan lahan pertama seluas 0,75 hektare, Tasar menanam jagung dan cabai. Namun, galodo datang hanya lima hari sebelum masa panen. Harapan untuk mendapatkan hasil usaha pupus seketika bersama lumpur dan bebatuan besar yang terbawa arus.

Dua tumpuk lahan lainnya seluas 1,75 hektare yang ditanami padi juga bernasib serupa. Sebagian lahan hanyut, sementara sisanya gagal panen total karena tertimbun material banjir. Tanah subur yang selama ini menghidupi keluarga Tasar terkikis habis tanpa menyisakan peluang untuk bertani kembali dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut semakin memperberat beban ekonomi Tasar. Seluruh modal pertanian yang digunakannya berasal dari pinjaman. Kini, ia terlilit utang sebesar Rp 10 juta untuk pembelian benih padi dan jagung yang musnah diterjang galodo.

“Saya tidak tahu lagi harus membayar utang ini dengan apa. Modal semuanya dari pinjaman. Sekarang jangankan untuk bayar utang, untuk makan sehari-hari saja saya hanya mengharap bantuan,” ujar Tasar dengan suara bergetar, Kamis (1/1).

Tak hanya lahan, rumah Tasar juga hanyut terbawa arus banjir bandang. Untuk sementara, ia menumpang tinggal di rumah menantunya di kawasan Limaumanis. Meski pemerintah telah menyediakan hunian sementara (Huntara), Tasar memilih tinggal bersama keluarga karena lokasi Huntara di Lubukbuaya dinilainya terlalu jauh dari lingkungan sosialnya selama ini.

Sudah hampir dua bulan Tasar tidak dapat kembali ke sawah. Aktivitas bertani yang menjadi nafas hidupnya terhenti total. Tanpa bantuan alat berat dan dukungan modal, lahan yang kini dipenuhi bebatuan mustahil kembali diolah menjadi area pertanian produktif.

Memasuki tahun baru 2026, Tasar menyimpan harapan besar di tengah keterbatasan. Ia berharap adanya perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan finansial untuk meringankan beban utang maupun bantuan teknis untuk pembenahan lahan pertaniannya.

Selain itu, Tasar juga mendambakan solusi relokasi tempat tinggal yang lebih aman dari ancaman galodo, namun tetap berada di lokasi yang strategis.

“Harapan saya di tahun 2026 ini, ada bantuan finansial dan bantuan untuk memperbaiki lahan. Saya juga ingin direlokasi ke tempat yang layak agar bisa kembali menata hidup bersama keluarga,” tuturnya.

Kisah Tasar menjadi potret nyata duka petani di pinggiran Kota Padang yang terhimpit bencana alam dan beban ekonomi. Di awal tahun baru ini, harapan besar tertuju pada uluran tangan agar petani seperti Tasar dapat bangkit dan tidak terus terjebak dalam ketidakpastian masa depan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#lahan petani #Batubusuk #terlilit utang #sawah #Galodo #Pauh #padang #kehilangan