Berdasarkan data BMKG Maritim Stasiun Teluk Bayur, surut terendah tercatat terjadi pukul 06.00–07.00 WIB dengan ketinggian minus 0,73 meter.
BMKG Maritim Stasiun Teluk Bayur melaporkan surut ekstrem terjadi karena fenomena Supermoon, yakni bulan purnama yang terjadi ketika posisi bulan berada pada titik terdekat dengan bumi.
Kondisi ini mengakibatkan air laut mundur jauh hingga menyisakan dasar muara sungai Batang Arau yang dipenuhi lumpur.
Respons Nelayan: Aktivitas Tetap Berjalan
Sementara itu, meski banyak kapal terdampar, aktivitas nelayan di Batang Arau tetap berlangsung normal. Mereka memanfaatkan waktu surut untuk melakukan perawatan dan pemeriksaan alat tangkap.
Sejumlah nelayan di kawasan tersebut mengaku tidak terganggu oleh fenomena surut ekstrem. Mereka telah terbiasa dengan pola pasang surut saat bulan purnama.
Zulham, 48, salah seorang nelayan, menyebut kondisi ini hanya memerlukan tenaga tambahan ketika air mulai pasang.
“Paling hanya sedikit kesulitan mengeluarkan kapal yang terdampar di atas lumpur, sulit menariknya ke air. Tapi di sini kami ramai, bisa saling bantu,” ujar Zulham, Minggu (4/1/2026).
Selain itu, para nelayan menilai fenomena tersebut sudah menjadi siklus yang mereka pahami sejak lama.
“Ini sudah jadi jam kerja alami bagi kami. Kalau air surut kami istirahat atau perbaiki jaring, kalau pasang baru kami berangkat melaut. Jadi tidak ada masalah yang berarti,” tambahnya.
Peringatan BMKG: Waspada Potensi Banjir Rob
BMKG memperkirakan air laut kembali naik siang hari. Namun demikian, puncak pasang tertinggi diprediksi berlangsung pukul 17.00–19.00 WIB dengan ketinggian plus 1,64 meter. Warga pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob.
Di sisi lain, kondisi pelayaran tercatat aman. Gelombang laut berada di kisaran rendah antara 0,1 hingga 0,5 meter. Cuaca diperkirakan berawan tebal, tetapi tetap dinilai aman bagi aktivitas melaut.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan peringatan dini resmi dari BMKG Maritim Stasiun Teluk Bayur.(cr3)
Editor : Heri Sugiarto