Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan ember dan jeriken kosong tersusun di pinggir jalan menunggu giliran distribusi air bersih dari mobil pembawa air.
Salah seorang warga, Harumi Wahyu, mengatakan mayoritas warga terdampak kekeringan karena bergantung pada air sumur dan tidak menggunakan layanan PDAM.
“Masyarakat yang menggunakan sumur bor airnya masih ada, namun mayoritas terdampak kekeringan. Di sini mayoritas memakai air sumur, bukan PDAM,” ujarnya.
Ia menyebut antrean air bersih kini menjadi aktivitas harian. Setidaknya satu mobil air berhenti setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Kondisi ini menyulitkan, kami harus terus mengangkat air. Dalam sehari mobil pembawa air datang satu kali. Kami berharap kondisi segera pulih,” katanya.
Kerusakan irigasi juga berdampak pada lahan pertanian warga. Sejumlah sawah mulai mengering dan terancam gagal panen.
Nurdima, warga lain yang memiliki lahan sawah, menyampaikan bahwa padinya mulai menguning akibat kekurangan air.
“Akibat irigasi rusak, sawah mengering dan tidak bisa ditanami lagi. Air bantuan pemerintah dan relawan kami pakai untuk kebutuhan harian, dan air hujan kami tampung. Kami berharap ada percepatan perbaikan irigasi agar air kembali mengalir,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, perbaikan irigasi Gunung Nago masih dinantikan masyarakat untuk memulihkan pasokan air bersih dan kebutuhan pertanian.(yud)
Editor : Hendra Efison