Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Gang Sempit ke Jalan Juanda, Perjalanan Usaha Tas Baceno di Kota Padang

Riyadhatul Khalbi • Kamis, 22 Januari 2026 | 11:20 WIB

Anasrizal, pemilik usaha Tas Baceno, berada di depan tokonnya.
Anasrizal, pemilik usaha Tas Baceno, berada di depan tokonnya.
Di tengah padatnya arus lalu lintas Jalan Juanda, Kota Padang, berdiri sebuah usaha tas lokal yang telah bertahan selama puluhan tahun. Usaha tersebut bernama Baceno, milik Anasrizal, 66, yang telah merintis bisnis pembuatan tas sejak 1987. Seperti apa kisahnya?

Riyadhatul Khalbi, Padang—

Nama Baceno diambil dari nama kampung halaman Anasrizal di Pariaman. Sebelum mendirikan usaha sendiri, Anasrizal menghabiskan bertahun-tahun bekerja di toko tas milik orang lain. Dari pengalaman tersebut, ia melihat peluang besar di industri tas dan merasa telah memiliki kemampuan yang cukup untuk berdiri mandiri.

Pada awalnya, usaha Baceno beroperasi di sebuah gang di kawasan Ulak Karang. Namun demi mendapatkan lokasi yang lebih strategis, Anasrizal memindahkan usahanya ke Jalan Ir. H. Juanda, Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, pada 1993. Hingga kini, toko tas Baceno masih bertahan di lokasi tersebut.

Di masa awal berdiri, produk tas Baceno dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Kota Padang. Namun keterbatasan akses penjualan serta tingginya biaya produksi menjadi tantangan tersendiri.

Perpindahan ke jalan utama membawa angin segar, karena sejak itu Baceno mulai menerima pesanan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta.

Usaha tas Baceno bahkan pernah menjadi binaan program CSR PT Semen Padang. Pada masa kejayaannya, Anasrizal mampu mempekerjakan hingga 10 orang karyawan untuk memenuhi pesanan klien. Ia menegaskan, kualitas produk dan tanggung jawab terhadap pesanan menjadi prinsip utama yang selalu dijaga.

“Selain puas melihat hasil produksi dipakai klien, saya juga bangga karena usaha ini bisa membuka lapangan pekerjaan,” ujar Anasrizal.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah sejak 2024. Jumlah pesanan tas dari instansi menurun drastis hingga sekitar 75 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dampaknya, jumlah karyawan terpaksa dikurangi dan kini hanya tersisa dua orang.

“Sejak 2024 pengadaan tas dari kantor-kantor terus menurun. Sekarang kami lebih ke penyedia jasa pembuatan tas saja, tidak lagi melempar barang ke pasar. Pasar makin sempit dan produk luar masuk dengan harga lebih murah, apalagi lewat toko online,” ungkap Anasrizal kepada Padang Ekspres.

Ia menilai kehadiran produk luar daerah dan maraknya penjualan daring turut merusak harga pasar dan semakin menekan pelaku UMKM lokal. Kondisi serupa juga dirasakan banyak produsen lokal di Kota Padang, mulai dari pengrajin sepatu, sandal, hingga aksesoris, yang mengeluhkan menurunnya pengadaan barang dari instansi sejak 2025.

Anasrizal berharap ke depan instansi pemerintah maupun swasta di daerah dapat lebih memprioritaskan UMKM lokal dalam pengadaan barang. Menurutnya, kebijakan tersebut penting agar perputaran ekonomi tetap terjadi di daerah.

“Seharusnya UMKM lokal dibina dan diberdayakan. Kalau belanja justru ke luar daerah, ekonomi tidak berputar di sini. Saya berharap ada regulasi agar perkantoran berbelanja ke daerahnya sendiri jika industrinya tersedia,” tuturnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#gang sempit #Jalan Juanda #Usaha Tas Baceno #kota padang