PADANG--Kondisi pasar ayam potong di Kota Padang belum menunjukkan tanda-tanda stabil pasca-perayaan Idulfitri.
Hingga memasuki pekan kedua setelah lebaran, harga daging ayam potong di tingkat pedagang terpantau masih tinggi.
Hal ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang menurun drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Di kawasan Taplau, tepatnya di Jalan Olo Ladang, para pedagang mulai mengeluhkan sepinya pembeli.
Baca Juga: Truk Rusak di Panorama I Sitinjaulauik, Arus Lalin Padang-Solok Buka Tutup
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (2/4/2026), aktivitas transaksi tidak sepadat saat momentum hari raya.
Banyak stok ayam yang masih tersisa di kandang-kandang pedagang meski hari sudah beranjak siang.
Kevin (26), salah seorang pedagang ayam potong di kawasan tersebut, mengonfirmasi bahwa tren penjualan saat ini sudah kembali ke angka normal, bahkan cenderung lesu.
Ia menyebutkan bahwa lonjakan permintaan hanya dirasakan pada tiga hari menjelang lebaran dan sepekan setelah salat Idulfitri.
Baca Juga: Peradi Salurkan Rp1,6 M untuk Sumbar, Bangun SMAN 12 Padang dan Jembatan Saniangbaka
"Penjualan sekarang sudah turun lagi, kembali ke angka normal sebelum momen lebaran. Tahun ini peningkatannya tidak setinggi biasanya," ujar Kevin di lapaknya.
Menurutnya, ada perbedaan signifikan antara euforia lebaran tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya jauh lebih ramai.
Kevin memaparkan bahwa peningkatan penjualan sebelum lebaran tahun ini hanya menyentuh angka 85 persen.
Angka ini turun cukup jauh jika dibandingkan tahun-tahun lalu yang mampu mencapai 125 persen.
Baca Juga: Musprovlub IMI Sumbar Diprotes, Klub Soroti Verifikasi Peserta
Sementara itu, seminggu setelah Idulfitri, penjualan sempat naik 50 persen dari angka normal, namun tetap dirasa tidak maksimal.
Penurunan minat beli ini disinyalir terjadi akibat kondisi ekonomi masyarakat yang terdampak bencana alam di beberapa titik Sumatera Barat serta harga ayam yang terus merangkak naik.
Saat ini, harga ayam potong di pasaran dibanderol pada kisaran Rp35.000 hingga Rp37.000 per kilogram, melonjak dari harga normal yang biasanya hanya Rp27.000 sampai Rp28.000 per kilogram.
Kenaikan harga ini ternyata bukan terjadi secara mendadak setelah lebaran, melainkan sudah mulai merangkak naik sejak seminggu sebelum memasuki bulan puasa.
Kondisi ini membuat para pedagang kesulitan memutar modal karena harga pengambilan dari pemasok juga sudah tinggi sejak awal.
Baca Juga: Mentan Amran Percepat 5 Strategi Mitigasi El Nino: Targetkan Stok Pangan 5 Juta Ton
Penyebab utama mahalnya harga ayam ini diduga kuat karena minimnya pasokan dari tingkat peternak atau pemasok.
Selain itu, munculnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut ikut memengaruhi stabilitas pasar.
Program tersebut mengambil pasokan langsung dari pemasok induk demi harga yang lebih murah, sehingga jatah untuk pedagang kecil di pasar menjadi terbatas.
Kondisi diperparah dengan sistem pengambilan barang yang semakin ketat.
"Pihak pemasok membatasi pasokan untuk kami pedagang kecil. Bahkan, kalau kita tidak bisa membayar lunas di depan, jatah ayam yang didapat akan dikurangi lagi," keluh Kevin menjelaskan kerumitan distribusi yang ia hadapi.
Baca Juga: SEAFA Resmi Terbentuk di Bali, Pupuk Indonesia Pimpin Kolaborasi Produsen Pupuk ASEAN
Akibat keterbatasan pasokan dan sepinya pembeli, Kevin terpaksa mengurangi jumlah stok harian.
Jika pada momen lebaran kemarin ia berani mengambil 150 hingga 200 ekor ayam, saat ini ia hanya menyetok sekitar 80 ekor per hari.
Ayam-ayam tersebut ia datangkan dari wilayah Solok yang didistribusikan melalui kawasan Asrama Haji, Tabing.
Di lapaknya, Kevin menyediakan tiga kategori berat ayam untuk memudahkan konsumen.
Ayam dengan berat 1,5 kg dijual seharga Rp53.000, berat 1,8 kg seharga Rp65.000, dan kategori berat 2,5 kg dipatok Rp80.000.
Meski sudah memberikan pilihan harga, rata-rata penjualannya saat ini hanya mampu mencapai 50 kg per hari.
Sebagai pelaku usaha kecil, Kevin mengaku lebih menyukai jika harga ayam berada di angka rendah.
Menurut logikanya, harga yang murah akan meningkatkan daya beli masyarakat, yang secara otomatis akan melipatgandakan omzet penjualannya setiap hari daripada harga tinggi namun sepi peminat.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga pakan maupun distribusi ayam.
"Saya sangat berharap ada tindakan dari pemerintah agar harga tidak naik lagi, atau kalau bisa justru turun. Kasihan masyarakat dan kami pedagang kalau harganya terus-terusan mahal seperti ini," tutupnya. (cr3)
Editor : Hendra Efison