Mulus Lagi, Jalan Koto Tuo jadi Akses Nyaman dan Ekonomi Warga Pulih

Tandri Eka Putra • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 20:40 WIB
Jalan Koto Tuo, Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Padang, menjadi akses penting menuju kawasan Batu Busuk yang terdampak banjir bandang. Perbaikan jalan mendukung mobilitas warga, akses pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)
Jalan Koto Tuo, Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Padang, menjadi akses penting menuju kawasan Batu Busuk yang terdampak banjir bandang. Perbaikan jalan mendukung mobilitas warga, akses pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)

PADEK.JAWAPOS.COM- Aktivitas warga di sepanjang Jalan Koto Tuo, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai kembali menggeliat. Jalan yang sebelumnya dipenuhi lubang dan membahayakan pengendara itu kini beraspal mulus setelah diperbaiki pemerintah.

Perbaikan tersebut bukan sekadar membuat perjalanan lebih nyaman. Jalan ini menjadi akses penting bagi warga, pelajar, mahasiswa Universitas Andalas (Unand), pedagang. Juga bagi mereka yang menuju kawasan Batu Busuk, yang terdampak banjir bandang pada November 2025.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan bahwa pemulihan harus bisa cepat dilakukan. Semua unsur harus bergerak paralel dalam membantu masyarakat terdampak.

“Tidak hanya mengandalkan pemerintah pusat, daerah juga bergerak, membantu masyarakat di bidang-bidang yang terdampak,” kata Tito.

Lurah Kapalo Koto, Adek Deswarman, mengatakan kondisi jalan memburuk setelah bencana akhir tahun lalu. Lalu lintas kendaraan dan alat berat yang digunakan dalam proses penanganan bencana, turut memperparah kerusakan. Bahkan, sebagian ruas jalan sempat putus diterjang banjir bandang.

“Ruas jalan itu merupakan satu-satunya akses bagi pemerintah, donatur, dan lembaga terkait untuk meninjau lokasi bencana banjir bandang di Batu Busuk,” ujarnya.

Menurut Adek, jalan tersebut juga digunakan siswa dari tiga sekolah, yakni SMPN 44 Padang, SDN 05 Koto Tuo, dan SD Bustanul Ulum. Selain itu, akses ini menghubungkan kawasan hunian tetap mandiri dan lokasi pembangunan hunian tetap di Lambung Bukik.

Karena itu, perbaikan jalan memiliki dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat dan kelanjutan pemulihan kawasan terdampak bencana.

Pelanggan Kembali, Usaha Warga Menggeliat

Dampak perbaikan juga dirasakan pelaku usaha kecil. Veriwarni, 46, pedagang kelontong setempat, mengungkapkan jalan yang rusak sebelumnya membuat warga enggan melintas. Lubang-lubang di badan jalan bahkan kerap memicu pengendara terjatuh atau mengalami kecelakaan.

“Sejak ada perbaikan jalan, aktivitas ekonomi kembali menggeliat. Saya yang berjualan kembali ramai jual-beli. Waktu jalan masih berlubang, jarang orang mau ke sini karena takut,” katanya.

Kawasan Koto Tuo juga menjadi tempat tinggal mahasiswa karena banyaknya rumah kontrakan dan kos-kosan di sekitar kampus Unand. Ketika akses jalan memburuk setelah bencana, sebagian mahasiswa memilih pindah karena khawatir terhadap keselamatan mereka.

Adek menyebut perbaikan jalan membantu menghidupkan kembali usaha kos-kosan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan pelanggan mahasiswa.

Kini, kendaraan lebih leluasa melintas. Mahasiswa kembali terlihat berjalan kaki menuju kos, sementara aktivitas jual-beli di warung sekitar jalan mulai ramai.

Orang Tua Lebih Tenang Melepas Anak ke Sekolah

Manfaat perbaikan juga dirasakan keluarga yang anak-anaknya bersekolah di sekitar kawasan tersebut. Reni Marlina, 40, wali murid SDN 05 Koto Tuo, mengatakan kondisi jalan berlubang sebelumnya membuatnya khawatir ketika anak pulang sekolah dengan berjalan kaki. Pengendara yang menghindari lubang berisiko membahayakan pejalan kaki.

“Sebagai wali murid, saya sangat senang karena jalan sudah diperbaiki. Berkendara lebih aman dan bisa lebih cepat sampai ke sekolah. Melepas siswa pulang sekolah jalan kaki juga tidak ada lagi rasa takut,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan infrastruktur jalan tidak hanya berkaitan dengan kelancaran kendaraan, tetapi juga keselamatan anak dan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan.

Ditangani Sepanjang 800 Meter

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang, Malvi Hendri, ST, M.Si., menjelaskan penanganan Jalan Koto Tuo dimulai pada pertengahan Agustus. Pekerjaan dilakukan sepanjang 800 meter melalui pelapisan ulang aspal (overlay) pada jalan yang sudah ada.

“Jalan Koto Tuo diperbaiki karena menjadi akses utama ke lokasi terdampak bencana dan menjadi bagian pendukung akses ke lokasi hunian tetap di Lambung Bukik,” jelasnya.

Pekerjaan tersebut memiliki nilai kontrak Rp3 miliar yang bersumber dari TKD Tambahan Pemerintah Kota Padang.

Selain Jalan Koto Tuo, Dinas PU juga menangani akses di Kelurahan Lambung Bukik, setelah jembatan baru. Ruas yang sebelumnya terputus akibat bencana telah diperbaiki agar dapat dilalui kembali, dan saat ini dilakukan pengerasan jalan.

Malvi menyebut pekerjaan jalan menuju hunian tetap dan sarana pendidikan di kawasan tersebut mencapai progres 40 persen hingga pekan ketiga Oktober. Pekerjaan itu ditargetkan rampung pada akhir November atau paling lambat pekan pertama Desember, sesuai masa kontrak. 

Ia menambahkan, penanganan akses jalan yang putus akibat banjir di Kampung Tanjung, dekat SMPN 41 Padang, juga penting karena jalur tersebut melayani permukiman, hunian tetap, dan pusat pendidikan disabilitas.

Pemulihan jalan di Koto Tuo dan kawasan sekitarnya menjadi bagian penting dalam mengembalikan mobilitas warga pascabencana. Akses yang lebih baik membantu kegiatan pendidikan dan ekonomi berjalan kembali, sekaligus mendukung pembangunan hunian serta pemulihan kawasan terdampak.

Bagi warga, jalan yang kembali mulus bukan hanya berarti perjalanan lebih lancar. Perbaikan itu juga membuka kembali akses menuju sekolah, tempat usaha, dan rumah bagian penting dari upaya membangun kehidupan masyarakat setelah bencana.

Sesuai Renduk PRRP Sumatera

Pemerintah menempatkan percepatan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu fondasi pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028, rehabilitasi dan rekonstruksi diarahkan untuk memulihkan konektivitas jalan dan jembatan, memperbaiki fungsi sungai, serta mengembalikan layanan infrastruktur dasar yang menopang aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.

 Untuk mempercepat pelaksanaan, Renduk menjadi pedoman koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah selama periode pemulihan. Pembangunan kembali juga diarahkan agar lebih aman dan tangguh terhadap risiko bencana, dengan mempertimbangkan kondisi wilayah serta peta zona rawan bencana. Dengan pendekatan tersebut, pemulihan infrastruktur diharapkan tidak hanya memperbaiki kerusakan fisik, tetapi juga mendukung kelancaran distribusi barang, mobilitas warga, kegiatan pertanian, dan pemulihan ekonomi lokal. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
Satgas PRR Sumatera Pulih SumateraPulihbersamaSatgasPRR Koto Tuo Limau Manis