Warga Lumin Park Merasa Lebih Aman Setelah Tebing Sungai Dikuatkan

Tandri Eka Putra • Dipublikasikan Sabtu, 7 November 2026 | 10:22 WIB
Warga Lumin Park di Sungai Lareh, Koto Tangah, Kota Padang, yang berada di kawasan terdampak banjir berulang, kini mulai merasa lebih aman setelah penguatan tebing sungai dikerjakan. Namun mereka berharap normalisasi dan pembangunan tanggul dipercepat. (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)
Warga Lumin Park di Sungai Lareh, Koto Tangah, Kota Padang, yang berada di kawasan terdampak banjir berulang, kini mulai merasa lebih aman setelah penguatan tebing sungai dikerjakan. Namun mereka berharap normalisasi dan pembangunan tanggul dipercepat. (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)

PADEK.JAWAPOS.COM — Penguatan tebing Sungai Batang Air Dingin mulai memberi rasa aman bagi warga Lumin Park, Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Namun, masyarakat yang berulang kali terdampak banjir masih berharap normalisasi sungai dipercepat dan dilanjutkan dengan pembangunan tanggul agar permukiman lebih terlindungi.

Desmaniar (61), warga Lumin Park, mengatakan banjir berulang sejak 2025 semakin parah. Seperti saat banjir yang kembali datang pada Oktober 2026, satu rumah di kawasan Lumin Park Dua hanyut. Sejumlah rumah lain, termasuk miliknya, juga terdampak.

“Sebagai masyarakat, sejak ada pengerjaan kami merasa lebih aman. Kemarin sudah ada pengerjaan penguatan tebing sungai, dan itu sudah lumayan mengurangi dampak,” kata Desmaniar.

Menurut dia, tanggul sangat penting karena aliran air dari hulu kerap tidak terbendung. Warga berharap pekerjaan normalisasi berjalan lebih cepat dan pembangunan tanggul segera dilakukan untuk mengurangi risiko banjir yang kembali mengancam permukiman.

“Kami berharap proses normalisasi bisa berjalan lebih cepat, termasuk dilakukan pembangunan tanggul supaya bisa menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Apalagi nanti kalau dilakukan pembetonan dan pembangunan tanggul, semoga tidak ada lagi dampak bencana yang menimpa kami,” ujar Desmaniar.

Penanganan Dipercepat dari Hulu

Pelaksana Tugas Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera Barat, Reski Wahyudi, mengatakan penanganan pascabencana dilakukan melalui tahapan tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi. Persiapan teknis, mulai dari studi kelayakan, desain rinci, hingga kajian lingkungan, dipadatkan agar pekerjaan permanen dapat dimulai lebih cepat. 

Reski menyebut penanganan permanen semula ditargetkan mulai November 2026. Namun, karena banjir berulang di Kota Padang, pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi sudah dimulai lebih awal pada Oktober 2026.

Untuk Batang Air Dingin, BWS V menyiapkan penanganan yang tidak hanya berupa pengerukan sedimen. Tapi mencakup pembangunan check dam, sand pocket, serta dua titik revetment. Pengendalian sedimen di bagian hulu dibutuhkan agar material tidak kembali turun dan menumpuk di aliran sungai ketika hujan.

Reski mengatakan normalisasi aliran sungai di Kota Padang mencakup panjang 5,7 kilometer untuk pengerukan material pasir. Sebanyak 30 alat berat telah diterjunkan dan jumlahnya dapat ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.

Ia menyebut sekitar 700 ribu meter kubik pasir telah dikeluarkan dari dua aliran sungai setelah banjir November 2025. Banjir berulang pada Oktober 2026 kembali membawa sekitar 500 ribu meter kubik sedimen.

Kawasan Lumin Park menjadi salah satu titik yang membutuhkan percepatan penanganan. Reski mengatakan, tanpa penanganan, satu kampung di kawasan tersebut berpotensi hanyut dan tenggelam. Karena itu, pekerjaan dilakukan secara paralel, mulai dari pembangunan pengendali sedimen di hulu, pengerukan, penguatan tebing, hingga penyiapan jalan inspeksi.

Arah Renduk PRRP Sumatera

Dalam dokumen Rencana Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum Tahun Anggaran 2026 Provinsi Sumatera Barat, tercantum alokasi Rp45,6 miliar untuk pembangunan pengendalian banjir dan sedimen Batang Air Dingin beserta anak sungainya di Kota Padang. Rencana penanganannya meliputi pekerjaan pengendalian banjir dan sedimen di aliran utama serta anak sungai.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi atau Satgas PRR Pascabencana Sumatera, sekaligus Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan salah satu kesulitan yang dialami dalam pemulihan bencana Sumatera adalah peristiwa berulang. Selain luasnya wilayah yang terdampak.

“Disamping keluasan dampak, ada lagi bencana yang berulang. Kota Padang sekali lagi banjir. Kabupaten Solok banjir lagi,” jelas Tito. Sembari menyebut beberapa daerah lain baik di Aceh hingga Sumatera Utara yang juga mengalami peristiwa berulang.

Tito menjelaskan, percepatan pemulihan melibatkan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Satgas PRR menjalankan fungsi koordinasi, pengawasan, serta evaluasi agar program rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan selaras. Pelaksanaan teknis penanganan sungai tetap menjadi tanggung jawab instansi yang berwenang. 

Penanganan Batang Air Dingin sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana atau PRRP Sumatera 2026–2028, terutama pemulihan infrastruktur dasar, pengurangan risiko bencana berulang, dan perlindungan permukiman masyarakat terdampak. Pengendalian sedimen dari hulu, normalisasi aliran, serta penguatan tebing menjadi bagian penting untuk mengurangi ancaman banjir berikutnya.

Melalui Renduk PRRP Sumatera, pembangunan kembali infrastruktur permanen menjadi bagian dari agenda pemulihan pascabencana dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable. 

Renduk PRRP adalah dokumen kebijakan nasional yang disahkan melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2026. Dokumen ini berfungsi untuk memandu pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera. (*)

Editor : Tandri Eka Putra
SumateraPulihbersamaSatgasPRR Batang Air Dingin Lumin Park normalisasi sungai