Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Berburu Durian Kayutanam, Padangpariaman: Tebal Dagingnya, Nikmat Rasanya

Novitri Selvia • Selasa, 23 Agustus 2022 | 11:13 WIB
MELIMPAH: Salah seorang pembeli saat memilih durian yang dijual pedagang di tepi jalan Padang-Bukittinggi, di kawasan 2x11 Kayutanam, kemarin (21/8).(ARIS PRIMA GUNAWAN/PADEK)
MELIMPAH: Salah seorang pembeli saat memilih durian yang dijual pedagang di tepi jalan Padang-Bukittinggi, di kawasan 2x11 Kayutanam, kemarin (21/8).(ARIS PRIMA GUNAWAN/PADEK)
Siapa yang belum mencoba durian Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman? Datanglah ke sentra penjualannya di Jalan Raya Padang-Bukittinggi, tepatnya di Kecamatan 2x11 Kayutanam. Rasakan sensasi daging durian nan tebal dan rasa yang kental.

Atau bisa juga langsung ke kebunnya di Salodako. Ini kalau ingin mendapatkan durian asli Kayutaman. Durian di Kecamatan 2x11 Kayutanam sudah terkenal ke mana-mana. Terlebih di musim durian yang berlimpah saat ini. Sepanjang jalan Padang-Bukittinggi yang melintasi kecamatan tersebut, berjejeran penjual durian.

Data yang dihimpun Padang Ekspres, Kecamatan 2x11 Kayutanam memproduksi ribuan ton durian setiap tahunnya. Sebab, lahan dan tanaman durian terdapat di seluruh nagari yang ada di kecamatan tersebut (lihat grafis).

Misalnya saja Salodako, salah satu jorong di Korong Padanglapai, Nagari Guguak, Kecamatan 2x11 Kayutanam. Jorong ini berada di kaki bukit. Suasananya masih asri. Untuk menuju Salodako juga sangat mudah. Selain jaraknya tak jauh dari Jalan Padang-Bukittinggi, akses menuju jorong itupun terbilang bagus.

Seluruh lahan pertanian warga di Salodako pasti memiliki pohon durian. Tak heran, di jorong itu tampak sangat luas hamparan tanaman duriannya. Padang Ekspres mencoba langsung durian di Salodako. Tak kaleng-kaleng.

Ternyata, rasa durian di sana sangat lezat. Tekstur duriannya yang kental, terasa hingga ke tenggorokan. Semakin dipuaskan lagi, karena daging (isi) durian di sana tebal-tebal. “Inilah rasa durian Kecamatan 2x11 Kayutanam yang sebenarnya,” kata Novel, 50, petani durian di Salodako saat memulai perbincangan dengan Padang Ekspres di kebunnya, kemarin.

Durian di kebun keluarga Novel itu memang terasa enak. Tidak seperti kebanyakan durian yang di jajal di tepi jalan. Isinya tebal dan kental. Tidak sedikitpun bagian isi duriannya yang cair ataupun terasa pahit. “Kadang kan orang beli di luar (di tepi jalan Padang-Bukittinggi, red), dapat yang tidak enak katanya durian di sini tidak enak,” jelasnya tersenyum.

Padahal, sambungnya, tidak semua durian yang dijual di tepi jalan Padang-Bukittinggi, adalah durian lokal di 2x11 Kayutanam. Apalagi durian Salodako. “Kalau durian di sini, insya Allah tidak pernah mengecewakan rasanya. Sebab, petani durian di sini memang merawat duriannya sejak dari mulai berputik hingga panen,” paparnya.

Selain itu, katanya, durian di Kayutanam dominan usianya sudah sangat tua. Misalnya di Salodako, durian usia termuda ditaman oleh orangtua dari nenek mereka. “Saya saja tidak tahu siapa yang menanam durian di kebun keluarga saya ini. Apalagi bibitnya dapat dari mana, saya tidak tahu,” sambungnya.

Novel menjelaskan, 40 batang durian milik keluarganya dikenal dengan nama durian kampung. “Setahu kami durian kampung saja. Yang pasti tidak ada campuran atau kawin silang dengan durian Montong atau Musang King,” katanya.

Kendati begitu, sambungnya, bukan berarti durian kampung kalah dengan durian Montong atau Musang King. “Kalau tampilan memang sangat menarik ketika kita lihat. Tapi coba bandingkan rasanya. Saya yakin, durian kampung dari Salodako ini pasti lebih enak,” katanya meyakinkan.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat menawarkan duriannya di salah seorang pedagang di Jawa. Namun ditolak karena mereka hanya menerima durian Musang King. “Saya pun langsung kasih durian yang super dari panen itu untuk dicoba, merekapun kaget dengan rasanya,” kenangnya.

Kejar Peluang Lain

Rasa durian Salodako yang terjamin membuat petani di sana mengembangkan kreativitasnya. Harapannya mereka tidak hanya bersandar pada touke. “Durian Salodako ini sangat diminati pedagang. Bahkan dari luar Sumatera Barat. Saat ini, kita menjual ke tauke harganya rata-rata Rp 15 ribu per butir sesuai prinsip hitungan perdagangan durian (2 durian ukuran kecil bisa dihitung 1 butir, red),” jelasnya.

Namun, lanjutnya, apabila sepenuhnya bertumpu pada tauke, tentunya hasil panen tidak memuaskan penjualannya. Terlebih di masa panen berlimpah seperti sekarang ini. “Ini saja sudah masuk masa 3 kali panen. Bulan depan mungkin ada lagi yang dipanen. Makanya, durian turun harga,” sambungnya.

Untuk itu, dirinya dan kebanyakan petani di sana mencari peluang lain. Misalnya menjual durian kemasan kotak, daging durian yang dikemas dengan plastik klep, serta asam durian.

“Untuk membuat durian kotak ini tidak gampang. Kita harus pandai memilih duriannya, sehingga dalam 1 durian bisa terpenuhi 1 kotak yang isinya 1 kg. Kalau tidak pandai memilih duriannya, bisa saja 1 kotak itu kita menghabiskan 2 bahkan 3 buah durian. Tentunya kita akan merugi,” ujarnya.

Untuk harga, lanjutnya, durian kotak dijualnya Rp 45 ribu per kotak untuk durian super. Sedangkan yang reguler dibanderol Rp 30-35 ribu. “Kalau durian kotak tidak terjual, kita bisa jadikan daging durian. Kalau daging durian juga tidak terjual, turunannya ke asam durian,” bebernya.

Namun untuk membuat produk-produk semacam itu tentu membutuhkan modal. Makanya, sebagai petani dirinya belum begitu mampu memaksimalkannya. “Misalnya buat daging durian itu, kita butuh kulkas agar daging durian beku seperi es. Sampai sekarang, masih bisa dihitung jari petani yang punya alat itu di sini,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya sangat berharap agar ada bantuan kepada petani durian ke depannya. Setidaknya berupa bibit durian. “Sejauh ini tidak ada bantuan. Mungkin karena kita petani durian ya. Tapi kalau ada bantuan tentu kita sangat berterima kasih,” ucapnya.

Jadikan Agrowisata Durian

Selain bantuan, Novel dan beberapa petani durian di Salodako berharap adanya penggalian potensi oleh pemerintah. Misalnya saja menjadikan menjadikan Jorong Salodako itu sebagai agrowisata durian.

“Di sini sudah pasti seluruh warga punya batang durian. Sebab duriannya berada di tanah pusako tinggi (warisan leluhur, red). Jadi, sangat pas kalau di sini jadi agrowisata durian. Tempatnya juga asri dan jauh dari hiruk-pikuk,” katanya.

Yang pasti, sambung Novel, perkebunan durian di sana sangat terawat dan rapi. Jadi cocok dikunjungi segala usia. Termasuk anak-anak usia sekolah dasar. “Tinggal membenahi jalan ke sini saja agar lebih lebar sedikit, pasti ramai yang datang. Apalagi saat musim durian,” hematnya.

Tidak hanya itu, ia yakin Salodako yang dijadikan agrowisata durian bakal ramai pengunjung, lantaran masyarakatnya yang ramah. Ditambah dominan petani di sana memiliki pengetahuan yang baik soal durian.

“Contohnya saja upaya mencari peluang membuat durian kotak dan daging durian itu, semua kami pelajari dengan hanya melihat-lihat di luar. Alhamdulillah diminati juga oleh pedagang untuk di jual ke berbagai daerah di Indonesia,” tukasnya.

Pastikan Masuk Musnag

Camat 2x11 Kayutanam, Junaidi Syah memastikan akan mengakomodir seluruh aspirasi dari petani di durian di wilayahnya tersebut. “Benar sekali, durian di 2x11 Kayutanam ini tidak diragukan lagi rasa dan kualitasnya. Untuk itu, saya sekarang mulai menjajaki bagaimana untuk mengelola potensi ini,” ujar Junaidi yang baru dilantik sebagai camat di sana 5 Agustus 2022.

Ia mengaku sudah bertemu langsung dengan sejumlah petani di 2x11 Kayutanam. Namun belum sampai ke Salodako. “Insya Allah, selanjutnya saya akan ke Salodako itu. Sangat menarik apa yang diceritakan petani durian di sana,” paparnya.

Seluruh aspirasi dari petani, nantinya akan disampaikannya untuk diakomodir dalam musyawarah nagari (musnag) di seluruh nagari di 2x11 Kayutanam. “Saya dalam waktu dekat juga bakal membahas hal ini dengan nagari-nagari kita, bagaimana programnya soal potensi durian ini. Sebab 4 nagari kita di sini punya perkebunan durian kan. Harapan kita mungkin ini bisa dibina lewat BUMNag apabila memenuhi regulasi nantinya,” ungkapnya.

Menyangkut keinginan petani Salodako dibentunya agowisata durian, Junaidi sangat menyetujuinya. Bahkan katanya hal itu sudah masuk dalam rencana ke depan Dinas Pariwisata Padangpariaman.

“Saya akan mengawal ini. Dan saya sangat berterima kasih serta memastikan selalu memperjuangkan aspirasi yang penting untuk kesejahteraan masyarakat 2x11 Kayutanam,” tukasnya. (***) Editor : Novitri Selvia
#agowisata durian #Salodako #Durian Kayutanam #Kecamatan 2x11 Kayutanam