Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Produksi Kelapa di Padangpariaman Turun: Permintaan Tinggi Selama Ramadan, Harga Melonjak

Aris Prima Gunawan • Sabtu, 8 Maret 2025 | 06:44 WIB

Johan (pakai topi), saat menghitung kelapa yang dibelinya dari petani di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Jumat (7/3/2025).
Johan (pakai topi), saat menghitung kelapa yang dibelinya dari petani di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Jumat (7/3/2025).
PADEK.JAWAPOS.COM—Bagi Sumbar, keberadaan buah kelapa agaknya sudah tidak asing lagi. Betapa tidak, hampir setiap daerah memiliki yang namanya buah yang satu ini.

Bahkan setiap daerah memiliki potensi buah kelapa dengan jumlah yang cukup banyak dan melimpah. Seperti Padangpariaman misalnya yang boleh dikatakan sebagai daerah paling banyak populasi kelapanya.

Tapi menariknya, di tengah harga kelapa yang kian meroket, produksi kelapa di Sumbar justeru seperti mengalami penurunan. Bahkan sejumlah pedagang mengaku cukup kesulitan untuk mendapatkan buah kelapa tersebut. 

Di Padangpariaman, produksi kelapa terus mengalami penurunan. Alhasil, harga pun melonjak signifikan. Kelapa yang semula hanya antara Rp2.000-2.500 per butir, sekarang dikisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per butirnya.

Johan, 62, salah seorang pengepul kelapa di Padangpariaman mengatakan, naiknya harga kelapa sudah terjadi sejak 1 bulan terakhir. Penyebabnya karena produksi kelapa petani mengalami penurunan. “Biasanya, satu petani itu kita bisa dapat minimal 500 butir. Sekarang hanya sekitar 300 butir saja,” ungkapnya.

Selain itu, sambungnya, kelapa yang diproduksi juga tidak semuanya berkualitas baik atau sepenuhnya tua. “Kalau harga itu tergantung kualitasnya. Kalau kelapa baru tua, itu hanya Rp 2.500 per butir. Tapi yang tua bisa mencapai Rp 5.000, tergantung ukurannya,” ungkap Johan.

Ia mengatakan, risiko membeli kelapa yang baru tua, daya tahannya sangat singkat. Maksimal hanya 1 minggu. Sementara kelapa dengan tingkat ketuaan yang bagus, bisa tahan sampai 1 bulan lebih.

”Saya mengumpulkan kelapa di lima kecamatan di Padangpariaman, lalu menjualnya ke Kota Padang,” imbuh pria kelahiran Medan ini.

Johan memprediksi, harga kelapa akan kembali turun pasca lebaran. Hal ini karena menurutnya permintaan yang juga ikut turun. “Kalau puasa sampai Lebaran nanti, pasti kebutuhan kelapa di masyarakat masih tinggi. Sedangkan sekarang produksi masih rendah,” hematnya.

Penjelasan Johan dibenarkan oleh Asnimar, 43, seorang petani kelapa di Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang. Menurutnya, produksi kelapanya memang turun. Penyebabnya ternyata beragam. Mulai dari hama hingga seringnya panen.

“Kalau hama tidak terlalu banyak. Ini mungkin karena kita sering panen. Namanya saja kita butuh uang kan? Kalau ada yang minta kelapa muda, ya kita jual juga,” ungkapnya sembari tertawa kecil.

Ia mengatakan, kelapanya biasa dibeli oleh pengepul antara Rp 4.000-4.500. Memang ada juga yang dibeli dengan harga di bawah itu jika kualitasnya masih jauh dari tua. ”Biasanya, kelapa saya ini sekali panen sampai 500 butir lebih per 2,5 bulan. Tapi sekarang jauh berkurang. Sebab kita panen setiap bulan,” tukasnya.

Baca Juga: Mulai H+3 Lebaran, Barayo di Sungayang - Jordus Cup XXI-2025 Segera Ditabuh

Ia menjelaskan, kelapa di lahannya sudah turun-temurun. Jadi, multi manfaat itu setahunya tumbuh begitu saja. Sebab, menurutnya tidak ada juga yang perlu dirawat dari kelapa. “Memangnya kelapa ini perlu dipupuk? Palingan hama tupai saja yang perlu diperhatikan,” hematnya.

Program Minim, Terkendala Kebijakan

Merangkum data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Padangpariaman yang dipublikasi di Padangpariaman Dalam Angka 2025, terlihat bahwa potensi kelapa Padangpariaman sangat besar. Namun, dari puluhan ribu hektare (ha) lahan kelapa yang tercatat, nyaris setengahnya dalam kategori belum dan tidak produktif (lihat grafis).

Masih dalam data yang sama, tampak bahwa Kecamatan Sungaigaringgiang yang paling luas area tanaman kelapanya. Otomatis, jumlah produksinya juga yang paling banyak dibandingkan kecamatan lain di Padangpariaman.

Jika dirangkum data 2024, luas lahan kelapa di Sungaigaringgiang yaitu 7.344 ha, dengan produksi 6.348,40 ton. Sayangnya, di kecamatan ini ternyata juga terbanyak tanaman kelapa yang belum dan tidak produktif. Dari total lahan 7.344 ha itu, tercatat 269 ha belum produktif, dan 2.466 tidak produktif.

Sementara itu, kecamatan yang paling sedikit lahan dan produksi kelapanya yaitu 2x11 Kayu Tanam. Dari 469 ha lahan di sana, tercatat 431 yang produktif. Selebihnya masuk kategori belum dan tidak produktif. Hasil produksi di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam per 2024 tercatat 672,70 ton.

Plt Kepala Dispertangan Padangpariaman, Irawati Febriani, mengatakan tiga poin penting menyangkut turunya produksi kelapa di Padangpariaman. Pihaknya tidak dapat menghentikan semua itu karena terkendala regulasi dan anggaran.

“Pertama soal penebangan, itu kita tidak punya wewenang untuk melarang masyarakat. Kedua menyangkut hama, seperti tupai, kita tidak punya anggaran untuk pemberantasannya. Lalu menyangkut peremajaan, sudah 3 tahun terakhir kita tidak mendapatkan programnya,” ujar Irawati.

Selain itu, sambungnya, dominan pohon kelapa masyarakat di Padangpariaman bersifat tanam tumpang. Jadi, tidak ada masyarakat yang fokus mengembangkan kebun kelapa saja. ”Nah, kebanyakan juga tanaman kelapa masyarakat berada di lahan yang potensial untuk pembangunan rumah dan tempat usaha. Ini salah satu penyebab terbesar yang membuat lahan kelapa terus berkurang,” paparnya.

Jadi, yang bisa dilakukan pihaknya dalam menjaga tanaman kelapa masyarakat dengan menggencarkan sosialisasi pemupukan. Namun, dominan petani masih beranggapan bahwa memupuk kelapa tidak terlalu penting. “Hasilnya, memang banyak petani kita ini tidak memupuk pohon kelapa mereka,” ucapnya.

Beruntungnya, imbuh Irawati, tahun ini pihaknya bakal mendapatkan bantuan peremajaan kelapa dari Pemerintah Provinsi Sumbar. Jumlahnya sekitar 10 ribu bibit kelapa. “Bantuan ini nanti untuk 10 kelompok tani. Jadi, kemungkinan masing-masing kelompok tani mendapat 1.000 bibit kelapa nantinya,” tukas Irawati. (apg)

Editor : Hendra Efison
#harga kelapa melonjak #produksi kelapa turun drastis #pengepul kelapa