Kejadian ini tak hanya menyorot aspek penegakan hukum, tetapi juga memunculkan kekhawatiran soal melemahnya nilai adat dan sosial masyarakat Minangkabau.
Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi PAN, H. Arisal Aziz, angkat bicara terkait fenomena ini. Ia menilai maraknya tindak kriminal di wilayah tersebut merupakan pekerjaan rumah besar bagi semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan tokoh adat.
“Tungku tigo sajarangan—niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai, dulu berperan besar dalam menjaga harmoni sosial dan menyelesaikan masalah secara adat. Kini, peran itu mulai melemah, bahkan nyaris hilang di banyak nagari,” kata Arisal kepada wartawan, Selasa (01/07/2025).
Menurut Arisal, lemahnya peran lembaga adat telah membuka ruang bagi konflik sosial, penyimpangan perilaku, dan tindakan kriminal. Ia menekankan bahwa sistem sosial Minangkabau sejatinya sangat kuat dalam menjaga ketertiban, bahkan sebelum era pemerintahan modern.
Ia mencontohkan, banyak pelaku kriminal dalam kasus-kasus terakhir masih berusia muda dan berasal dari lingkungan yang minim pengawasan sosial.
"Ketika anak kamanakan tak lagi dipegang oleh mamak, alim ulama tak didengar, dan cadiak pandai tak dihormati, maka rusaklah sendi-sendi masyarakat itu,” ujarnya tegas.
Karena itu, Arisal menyerukan agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat kembali peran pemangku adat.
Ia menyarankan agar diadakan musyawarah melibatkan Pemda, Kerapatan Adat Nagari (KAN), lembaga keagamaan, dan unsur pemuda.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ini soal kultural dan nilai-nilai sosial yang harus direvitalisasi bersama. Kalau tungku tigo sajarangan bisa duduk kembali, saya yakin persoalan kriminal bisa ditekan secara signifikan,” katanya.
Arisal juga mendorong pelaksanaan program pembinaan karakter dan adat bagi generasi muda, baik melalui pendidikan formal maupun kegiatan berbasis komunitas.
Ia menyebut pelestarian budaya dan adat tak bisa dilepaskan dari peran pendidikan yang berkelanjutan.
Founder Indah Group ini berharap, kasus kriminal yang terjadi bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur Minangkabau.
“Jangan sampai kita sibuk menyesali, tapi tak pernah duduk bersama mencari jalan keluar,” pungkasnya.
Arisal optimistis, jika seluruh elemen kembali bersinergi, nilai-nilai sosial khas Minangkabau bisa menjadi benteng kokoh menghadapi tantangan zaman, termasuk ancaman kriminalitas di tengah masyarakat.(*)
Editor : Hendra Efison