Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perantau Azwar Wahid Biayai Iuran BPJS Kesehatan 50 Warga, Tradisi Badoncek Hidupkan Harapan di Padangpariaman

Aris Prima Gunawan • Rabu, 1 Juli 2026 | 20:00 WIB
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Kolektif antara BPJS Kesehatan Cabang Padang dan Pemerintah Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Selasa (30/6/2026).
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Kolektif antara BPJS Kesehatan Cabang Padang dan Pemerintah Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Selasa (30/6/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM—Semangat gotong royong khas masyarakat Padangpariaman kembali hadir dalam bentuk nyata. Perantau asal Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Azwar Wahid, membiayai iuran BPJS Kesehatan bagi 50 warga kurang mampu sebagai upaya memperluas perlindungan jaminan kesehatan di kampung halamannya.

Program tersebut dijalankan melalui kerja sama antara BPJS Kesehatan Cabang Padang dan Pemerintah Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padangpariaman.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) Kolektif berlangsung pada Selasa (30/6/2026).

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Padang, Meri Lestari, menyebut kolaborasi itu sebagai terobosan baru karena untuk pertama kalinya melibatkan perantau dalam pembiayaan iuran BPJS Kesehatan masyarakat.

"Ini merupakan hal yang baru. Selama ini di BPJS Kesehatan Cabang Padang keterlibatan dalam pembayaran iuran lebih banyak berasal dari badan usaha, belum melibatkan para perantau," ujar Meri.

Menurutnya, pada tingkat nasional, bantuan pembayaran iuran BPJS Kesehatan selama ini umumnya berasal dari badan usaha, fasilitas kesehatan, maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Namun di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, BPJS Kesehatan justru menemukan praktik gotong royong yang tumbuh dari tradisi masyarakat setempat.

Semangat Badoncek Jadi Kekuatan Baru

Meri mengatakan budaya badoncek yang selama ini dikenal dalam kehidupan masyarakat Padangpariaman kini berkembang menjadi bentuk kepedulian terhadap akses layanan kesehatan.

"Di nagari ini kami justru menemukan kearifan lokal khas Padangpariaman, yakni semangat gotong royong atau badoncek. Para perantau ikut berkontribusi membayarkan iuran jaminan kesehatan masyarakat di kampung halamannya," katanya.

Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Nagari III Koto Aur Malintang Selatan bersama para perantau yang berinisiatif memberikan perlindungan kesehatan kepada warga kurang mampu.

Menurut Meri, jaminan kesehatan membutuhkan dukungan berbagai pihak, dimulai dari kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan hingga kolaborasi dalam memperluas kepesertaan BPJS Kesehatan.

Ia berharap pola kerja sama tersebut dapat menjadi contoh bagi nagari lain di Padangpariaman. Saat ini, tingkat kepesertaan BPJS Kesehatan di Kabupaten Padangpariaman baru mencapai sekitar 86 persen.

50 Warga Dibantu Perantau, 50 Lagi Melalui UPZ

Wali Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Era Jaya, mengatakan inisiatif tersebut lahir setelah pemerintah nagari menemukan masih adanya warga yang belum memiliki jaminan kesehatan.

Akibatnya, ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan menjadi beban berat bagi keluarga.

"Kami menemukan masih ada warga yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Ketika mereka sakit dan harus dirawat di rumah sakit, biaya pengobatannya cukup besar sehingga menjadi beban bagi keluarga," ujarnya.

Era Jaya mengungkapkan, pemerintah nagari juga pernah menghadapi kesulitan saat membantu pemulangan jenazah seorang warga karena biaya rumah sakit belum dilunasi.

Setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Padangpariaman dan BPJS Kesehatan, pemerintah nagari menemukan peluang kerja sama melalui nota kesepahaman. Dari sinilah para perantau diajak ikut membantu masyarakat kurang mampu.

Pada tahap awal, bantuan diberikan kepada 100 warga. Sebanyak 50 peserta dibiayai melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) nagari, sedangkan 50 peserta lainnya ditanggung oleh perantau Azwar Wahid.

"Antusiasme masyarakat cukup tinggi sehingga kemungkinan jumlah penerima bantuan akan terus bertambah," kata Era Jaya.

Ia menambahkan, komunikasi juga telah dilakukan dengan sejumlah perantau lainnya yang menyatakan siap bergabung dalam program tersebut.

Menurutnya, bantuan iuran BPJS Kesehatan diprioritaskan bagi warga lanjut usia dan penderita penyakit kronis dari keluarga kurang mampu.

Era Jaya menilai dukungan para perantau selama ini menjadi salah satu kekuatan pembangunan di nagari.

Bahkan dana zakat yang dikelola Unit Pengumpul Zakat mencapai hampir Rp500 juta setiap tahun, dengan sebagian besar berasal dari kontribusi para perantau.(*)

Editor : Hendra Efison
#Azwar Wahid #BPJS warga kurang mampu #padangpariaman #bpjs kesehatan #badoncek