Kegiatan ini digelar sebagai upaya menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau di tengah arus modernisasi.
Pembukaan berlangsung di Laga-Laga Desa Koto Marapak dengan melibatkan masyarakat serta peserta dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Yota Balad menegaskan festival ini bukan sekadar perlombaan, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda untuk menampilkan dan menjaga warisan budaya.
“Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan, karena kita tidak ingin seni budaya ini hanya menjadi catatan sejarah,” ujarnya.
Ia menyebut festival ini menjadi panggung bagi generasi milenial dan Gen Z untuk menunjukkan peran mereka sebagai pewaris budaya Pariaman.
Pemerintah Kota Pariaman, lanjutnya, berkomitmen menjadikan pariwisata berbasis budaya sebagai penggerak ekonomi daerah.
Alek Nagari Digelar Enam Hari
Penjabat Kepala Desa Koto Marapak, Ahmad Hadi Fachrudin, mengatakan Alek Nagari digelar selama enam hari dengan berbagai perlombaan tradisional yang terbuka untuk umum.
“Festival ini bukan sekadar acara hura-hura, melainkan bukti bahwa kebersamaan masyarakat masih kuat di desa kita,” ungkapnya.
Sejumlah perlombaan yang digelar antara lain lomba cabur, lomba tambua tasa tradisi, serta pertunjukan indang setiap malam dari peserta kota dan kabupaten.
Panggung Budaya dan Kebersamaan
Menurut Ahmad Hadi, Alek Nagari menjadi ruang bagi generasi muda untuk tetap mengenal dan mencintai budaya lokal di tengah perkembangan teknologi.
Ia berharap generasi muda tetap bangga memainkan rebana, membawakan dendang indang, serta menjaga nilai adat yang berlaku.
“Kepada para peserta, selamat berlomba. Kemenangan utama adalah menjaga warisan budaya agar tidak hilang,” tutupnya.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan, ketertiban, serta menjadi tuan rumah yang ramah selama kegiatan berlangsung.(*)
Editor : Hendra Efison