Jika berkunjung ke Kabupaten Sijunjung, tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Geopark Silokek. Destinasi wisata itu diusulkan oleh Pemkab Sijunjung untuk menjadi UNESCO Global Geopark. Seperti apa keindahannya?
Destinasi wisata Geopark Silokek berlokasi di Nagari Silokek, Kabupaten Sijunjung. Lokasi tersebut hanya berjarak 15 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Sijunjung, Muarosijunjung. Jika menggunakan kendaraan bermotor, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Geopark Sijunjung sekitar 52 menit.
Perjalanan yang menghabiskan waktu hamper satu jam itu akan terbayar lunas ketika sampai di lokasi Geopark Silokek. Bagaimana tidak, pengunjung akan langsung disambut dengan berbagai keindahan “negeri kecil” yang berada di dasar lembah itu.
Geopark Silokek dikelilingi beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi setiap pengunjung di antaranya Ngalau Cigak, Ngalau Talago, dan Pulau Andam Dewi.
Selain itu yang tak kalah menakjubkan di Geopark Silokek adalah adanya bebatuan purba yang diperkirakan berusia 260 sampai 320 juta tahun. Bahkan pada penghujung tahun 2018 lalu, Geopark Silokek ditetapkan oleh pemerintah pusat menjadi salah satu kawasan Geopark Nasional.
Di Geopark Silokek terdapat sebuah hamparan sungai Batang Kuantan yang dikelilingi gugusan tebing ngalau yang menjulang tinggi dan dibalut keberagaman hayati. Di sana, pengunjung bisa melakukan aktivitas arum jeram yang mengasyikkan.
Geopark Silokek sendiri tak hanya dijadikan sebagai destinasi wisata saja tapi juga sebagai kepentingan objek penelitian geologi oleh pihak akademis, sejarawan, dan lainnya.
Jika dilihat satu demi satu area kawasan Geopark Silokek, maka yang pertama kali yang akan dilihat adalah Ngalau Cigak. Ngalau Cigak berada di dalam area perkampungan Silokek yang diapit batuan karang menjulang tinggi dalam kawasan hutan masyarakat yang disebut Pulau Andam Dewi.
Disebut Ngalau Cigak karena di sekitar pepohonan hingga area mulut gua batuan karang tersebut kerap menjadi tempat bermainnya puluhan ekor cigak (kera), hingga pemandangan demikian menjadi ciri khas tersendiri Ngalau Cigak.
Pemerhati wisata Sijunjung, Zalmi Tanjung, 45, mengatakan, Ngalau Cigak tidak hanya memiliki potensi sebagai objek wisata yang hanya dikunjungi oleh warga Sijunjung,tapi juga oleh wisatawan dari luar daerah.
Ditambahkan, terutama di saat hari-hari libur, puluhan pengunjung antusias berwisata ke Silokek di antaranya sambil membawa rantang atau perbekalan makanan.
Sistem pengelolaan objek wisata itu masih bersifat swadaya masyarakat, maka setiap pengunjung boleh memberi sumbangan sukarela kepada pengelola setidaknya bertujuan untuk jasa kebersihan.
“Sejauh ini yang menjadi kendala yakni masalah jalan menuju Silokek, dimana kondisinya di beberapa titik masih terdapat kerusakan. Lima tahun lalu pernah dihantam longsor, kemudian dilakukan rekonstruksi (bantuan dari APBN),” jelasnya.
Kemudian, di antara gugusan batu-batu karang menjulang tinggi yang mengalir sungai Batang Kuantan, terdapat sebuah pulau kecil yang bernama pulau Andam Dewi. Keindahan Pulau Andam Dewi terlihat khas dan dapat disaksikan dari puncak panorama.
Salah satu pengunjung, Metrizal, 50, mengatakan, pulau Andam Dewi biasanya dinikmati oleh pengunjung dari jarak jauh karena lokasinya berada persis di tangah-tengah aliran sungai Batang Kuantan.
“Kecuali untuk orang yang punya nyali atau berpengalaman dalam dunia adventure yang tentunya dengan dibantu peralatan dan perlengkapan yang memadai,” katanya.
Di sisi lain tak jauh dari lokasi Ngalau Cigak sekitar 1,5 kilometer arah barat, terdapat kawasan lainnya yang tak kalah indah yakni Ngalau Talago. Namun untuk ke sana, pengunjung harus jalan kaki melewati jalan setapak di dalam kawasan hutan masyarakat. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Ngalau Talago yakni satu jam lebih.
Ngalau Talago adalah sebuah telaga kecil yang memiliki air jernih. Lokasinya berada di dalam goa batu karang. Di pinggir telaga mengalir air terjun yang seolah senantiasa setia mengendalikan ekosistem Ngalau Talago untuk tetap hidup.
Wali Nagari Silokek, Mardison menyebutkan,untuk menjaga kelestarian objek-objek wisata di Kenagarian Silokek, pada pertengahan 2016 lalu masyarakat setempat mendirikan sebuah wadah sosial yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Sejak berdiri, kelompok ini terbilang aktif melakukan berbagai hal untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke sana.
Ditambahkan, setiap satu bulan sekali, masyarakat secara sukarela melaksanakan gotong royong misal membersihkan lingkungan, fasilitas umum, termasuk mendirikan fasilitas penunjang di sejumlah objek wisata Ngalau Talago, Ngalau Cigak serta Panorama Bidadari.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sijunjung, Afrineldi mengatakan, Silokek merupakan kawasan wisata strategis Kabupaten Sijunjung. Untuk mengoptimalkan jumlah kunjungan, Pemkab Sijunjung setiap tahunnya menggelar berbagai iven.
“Kami secara bertahap telah membuat berbagai fasilitas penunjang, seperti gazebo, perbaikan jalan, panorama, serta sebuah rest area reptentatif,” jelasnya.
Bahkan Pemkab Sijunjung saat ini sedang berupaya menjadikan Geopark Silokek agar naik status menjadi UNESCO Global Geopark setelah sebelumnya mendapat sertifikasi sebagai Geopark Nasional dari kementerian terkait.
“Melalui berbagai forum pertemuan, kami mengusulkan Geopark Nasional Ranah Minang Silokek untuk naik status menjadi Geopark Global UNESCO,” ungkap Afrineldi.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, sangat dibutuhkan dukungan semua pihak, tak terkecuali dukungan kepada tim penyusun Geopark Silokek di bawah koordinasi Prof. Febrin Anas Ismail dan anggota.
“Prof. Febrin adalah salah satu penggagas dan mendesain Geopark Silokek, sampai akhirnya Geopark Silokek di akhir 2018 lalu ditetapkan menjadi Geopark Nasional,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua IAGI Sumbar, Dian Hardiansyah berharap ada dukungan untuk penelitian dari IAGI pusat, karena secara umum batuan silokek sangat unik. Ada batuan granit dan batuan purba berumur 260 sampai 320 juta tahun. (***)
Editor : Novitri Selvia