Karya kolaborasi dua sutradara Jose Rizal Manua dan Joharsen ini merupakan karya seni yang bisa digunakan sebagai alat mengingat suatu peristiwa yang terjadi pada masa lalu sebagai pembelajaran di masa kini.
"Tema pertunjukan kali ini adalah ‘?????? ???? ??? ?????? ???????????,’ sebagai upaya ‘??????ℎ ?????’ akan kesenian tradisional Minangkabau," kata Jose Rizal Manua yang sukses bersama Joharsen menampilkan mahakarya Randai pertama menceritakan kisah perjuangan Syekh Burhanuddin Pariaman tahun 2020 di Pusat Perfileman Usmar Ismail.
“Mahakarya Randai II – 2023 – The Story of Malin Kundang” menampilkan
Randai yang khas karena merupakan kolaborasi pertunjukan dari berbagai unsur seni, antara lain, Silat Minangkabau, Tabuah Tasa dan musik tradisi saluang , dendang, tari dan teater ( drama).
"Di situlah keunikan Randai Malin Kundang, karena berisi paket lengkap seni tradisi. Karena itu undangan kita 90 persen sudah sold out, alhamdulillah," kata ketua YSTI, Andha Zulfirman didampingi pimpinan proyek pertunjukan Agus S dalam rilis yang diterima Padek.co.
Kisah Malin Kundang sering diadaptasi di berbagai pementasan drama, baik di dalam maupun di luar negeri. Meskipun begitu, cerita Malin Kundang selalu menarik disajikan sebagai pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Apalagi kali ini dikemas dalam bentuk Randai.
Dari daftar yang sudah membeli tiket tampak akan hadir aeniman, budayawan, pejabat, birokrat, pengusaha dan pencinta seni-budaya Minangkabau. Bahkan ada yang dari Belanda dan Malaysia juga membeli tiket menonton pertunjukan Randai tersebut.(rel/esg) Editor : Admin Padek