Laporan ARFIDEL ILHAM, Limapuluh Kota—
BERADA di sisi utara Kabupaten Limapuluh Kota, hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Ibu Kota Kabupaten (IKK) Limapuluh Kota, di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl), Gunung Bungsu di Nagari Taeh Bukik, menyimpan potensi olahraga ekstrem akrobatik paralayang.
Apalagi puncak Gunung Bungsu sudah memiliki akses kendaraan yang baik, sehingga menjadi tempat tersebut menjadi primadona tersendiri bagi pecinta paralayang. Topografi tempat landing yang luas dan lega tanpa banyak gangguan, menjadi nilai tambah bagi lokasi terbang layang di Kecamatan Payakumbuh, Limapuluh Kota itu.
Bahkan secara Nasional, puncak Gunung Bungsu sudah diakui, sebagai lokasi untuk olahraga. Hal itu dibuktikan degnan pernah digelarnya kejuaraan karnaval tingkat nasional dan internasional.
Ketinggian tempat start area berada di 1.200 mdpl. Sementara tempat landing area di ketinggian 760 mdpl, sehingga lokasi paralayang Gunung Bungsu Taeh Bukik sangat aman bagi penerbang. Sebab jarak terbang hanya sekitar 460 meter. Namun jika kondisi angin cukup baik, ketinggian terbang mampu mencapai 2.000 meter.
Selain itu, lokasi landing seluas 200 hektar, aman untuk kejuaraan, begitu juga lokasi start area atau tempat take off yang mampu menampung 10 parasut terbang. Artinya sangat luas untuk paralayang yang ingin bereksplorasi secara berkelompok.
Tak hanya itu, area terbang dan lokasi landing yang luas juga sangat terbuka menjadikan Gunung Bungsu Taeh Bukik tempat paling aman bagi siapapun, khususnya, paraglider, yang ingin menikmati pemandangan dari udara.
Gunung Bungsu juga menjadi wadah bagi generasi muda peminat olahraga udara. Seperti yang ditekuni puluhan anak muda yang tergabung di Bungsu Aerosport atau yang disingkat dengan nama ”Buas”. Bahkan sejumlah prestasi sudah berhasil dicatatkan hingga di kejuaraan internasional.
“Motivasinya, selain tempat yang mendukung untuk melakukan olahraga aerosport, kita juga bercita-cita sebagai komunitas pemburu prestasi dan juga bertekad sebagai pelopor aerosport khususnya di Sumbar,” Sebut Febri, salah seorang pegiat Aerosport ”Buas” kepada Padang Ekspres.
Ia mengatakan, setidaknya ada 35 orang atlet Aerosport yang selalu berlatih di tempat tersebut di bawah asuhan atlet aerobatik senior, Dodo Koerdi.
”Alhamdulillah, berkat latihan yang serius dan dorongan dari pelatih dan juga pada masing-masing atlet, kami bisa mencapai prestasi yang cukup gemilang. Seperti pada iven terakhir yang kami ikuti,” tambah Febri.
“Pada 6-14 Juli lalu, pada kejuaraan dunia Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) seri 1 di Lombok, kami berhasil meraih 3 medali emas dan 1 perunggu,” pungkasnya bangga. (***)
Editor : Adetio Purtama