“Adakah suatu tempat di Hindia, yang memiliki pantai mempesona seperti Teluk Ratu, Teluk Bungus–tempat di mana laut, gunung, dan matahari mencipta keindahan alam, menyatu dalam harmoni, membuat siapa saja terpana seperti sedang melihat dunia yang baru ditemukan?” tulis Zentgraaff dan Goudoever dalam ‘Sumatraantjes’ (1936).
Melalui ‘Sumatraantjes’, dua wartawan kenamaan Belanda itu mengisahkan pengalaman mereka menjelajahi Pulau Sumatra, mulai dari Lampung di selatan hingga Aceh di sisi utara.
Perjalanan yang dilakukan dalam kurun waktu enam minggu itu sebagian besar ditempuh dengan melintasi medan pegunungan yang sulit.
Mereka kemudian singgah di sejumlah lokasi wisata menarik dan mencatat apa saja yang diamati selama perjalanan.
Kutipan dalam kalimat pembuka tulisan ini, menunjukkan kepada kita kekaguman kedua wartawan itu akan keindahan alam di dua kawasan perairan laut di sisi selatan Kota Padang, yaitu Teluk Ratu (Koninginnebaai) dan Teluk Bungus.
Air lautnya yang biru, gunung yang menjulang tinggi, serta sinar matahari yang menerpa lautan–terutama di kala senja–menciptakan lanskap keindahan alam yang menakjubkan, meninggalkan kesan tak terlupakan pada siapa saja yang menyaksikannya. Kira-kira begitu pesannya.
Kawasan Laut Selatan Padang dalam tulisan ini, sebagaimana disebut dalam sumber-sumber Belanda, mengacu pada dua teluk alamiah yang secara geografis berada di sisi selatan Kota Padang: Teluk Ratu dan Teluk Bungus. Kedua teluk ini berbeda, tetapi saling berbatasan satu sama lain.
Teluk Ratu merupakan penamaan terhadap kawasan laut yang menjorok mulai dari Jungut Batu Peti (Batu Pileh) di sebelah utara hingga Ujung Sungai Bramas atau Batu Mandi di sisi selatan (lihat: Ziemansgids voor den Oost-Indischen Archipel, 1904).
Namun, tersebab di Teluk Ratu ini dibangun Pelabuhan Teluk Bayur yang terkenal, maka pada masa-masa berikutnya masyarakat lebih sering memakai nama Teluk Bayur menggantikan nama Teluk Ratu yang dianggap bernada kolonial (istilah ‘Ratu’ di sini mengacu pada Ratu Belanda).
Sementara itu, Teluk Bungus merujuk pada kawasan laut yang menjorok dari Ujung Sungai Bramei atau Batu Mandi di sebelah utara hingga sekitar ujung Teluk Buo di sisi selatan.
Dengan demikian, jika wisatawan melakukan perjalanan ke sisi selatan Kota Padang, maka mereka akan terlebih dahulu melewati Teluk Ratu, baru kemudian Teluk Bungus.
Selain kedua wartawan semisal Zentgraaff dan Goudoever, pejabat tertinggi di Hindia-Belanda sekelas Gubernur Jenderal pun (kini setingkat presiden), tak melewatkan kesempatan berkunjung ke kawasan laut selatan ini.
Kala itu, awal Oktober 1938, Gubernur Jenderal terakhir Hindia-Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, melakukan kunjungan kerja ke Sumatra’s Westkust (Sumatera Barat).
Ia dan sejumlah pejabat tinggi Belanda secara khusus menjadwalkan jalan-jalan sore ke Teluk Bungus.
Dengan berkendara mobil dari rumah residen di Jalan Belantung (kini Istana Gubernur), rombongan gubernur jenderal melaju menuju Bungus melewati jalan pendakian berliku.
Jalanan yang dipenuhi tebing bukit yang curam di sisi kiri dan pemandangan laut yang indah di sisi kanan.
“Jalan ini adalah salah satu jalan terindah di Hindia-Belanda,” tulis ‘Padang en Omstreken,’ sebuah buku panduan wisata kolonial terbitan Vereeniging Touristenverkeer (Perhimpunan Pariwisata) Batavia.
Setelah beberapa lama berkendara, Gubernur Jenderal Tjarda tiba di Kawasan Menara Suar Oedjoeng Soengei Bramei (Sungai Bramas) tepat menjelang matahari terbenam.
Menara suar yang berukuran tinggi sekitar 14,2 meter ini terbuat dari kerangka besi putih. Pada bagian puncak menara terdapat lampu kilat, yang menyala setiap lima detik sekali.
Karena lokasinya yang indah dan berada pada titik tertinggi antara Padang dan Bungus, Menara Suar Sungai Bramas menjadi pilihan utama wisatawan manakala mereka ingin melihat keindahan panorama laut selatan Padang.
Dari tempat ini pulalah, Gubernur Jenderal Tjarda menikmati panorama ‘sunset’ di Teluk Bungus dan Samudra Hindia sembari menyeruput teh.
Kunjungan ke Bungus ini sekaligus mengakhiri rangkaian kegiatan Gubernur Jenderal Tjarda di Padang, seperti diceritakan dalam ‘Programma van de reis Zijne Excellentie den Gouverneur-Generaal en Mevrouw Tjarda van Starkenborgh Stachouwer’ (1938).
Tjarda bukanlah satu-satunya pejabat tertinggi kolonial yang berkunjung ke Sungai Bramas, Bungus, dan objek-objek wisata menarik lain di sekitarnya.
Jauh waktu sebelumnya, suatu hari pada Agustus 1920, Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum juga berkunjung ke Bungus dan menyinggahi objek wisata Menara Suar Sungai Bramas.
Seperti halnya Tjarda, dari menara suar ini Limburg Stirum menikmati indahnya panorama laut Teluk Ratu, Teluk Bungus, dan Samudra Hindia–seperti dikisahkan dalam ‘Reis Borneo-Sumatra’ (1920).
Aktivitas wisata di Sungai Bramas, Teluk Ratu, dan Teluk Bungus tentu tidaklah lengkap jika hanya sekadar menikmati panorama laut dari puncak menara saja.
Selain menara suar, di sekitar tempat-tempat ini terdapat pula daya tarik wisata lain yang dapat dikunjungi dan digunakan oleh wisatawan.
Di Sungai Bramas, misalnya, dulu terdapat pemandian Juliana (Juliana-badplaats).
Tempat pemandian ini merupakan lokasi yang sangat baik untuk berenang dan mandi di air tawar.
Pemandian Juliana juga dilengkapi dengan fasilitas modern seperti papan loncat, tangga/pegangan kolam, ruang ganti, kamar mandi, handuk, hingga minuman ringan.
“Pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar 0,10 gulden per orang. Jika ingin menggunakan ruang ganti dan kolam, dikenakan biaya tambahan sebesar 25 sen. Jika tidak membawa pakaian renang dan handuk, pengunjung dapat menyewanya di bufet,” tulis ‘Padang en Omstreken’ (1920).
Selain Pemandian Juliana, dulu ada banyak tempat pemandian alam di sekitar Bungus. Pemandian alam ini dapat berupa sungai, air terjun, dan pantai.
Bahkan, mandi-mandi di lokasi pemandian alam telah menjadi gaya hidup di kalangan wisatawan kala itu, tulis Gusti Asnan dalam ‘Promosi Pariwisata Sumatera Barat dalam Lintasan Sejarah’ (2023).
Kebiasaan yang sama juga masih kita temui hingga hari ini. Jika Tuan/Puan pembaca akan berkunjung ke Bungus, mandi-mandi di pemandian alam seperti Air Terjun Lubuk Hitam dan Air Terjun Lubuk Udang Sungai Pisang dapat menjadi penutup dari rangkaian aktivitas wisata di sisi selatan Padang.(*)
Editor : Heri Sugiarto